Teknologi Rekayasa Jaringan Bisa Atasi Cacat Organ Manusia

  • 15
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares

DatDut.Com – Angka kecelakaan lalu lintas Nasional setiap tahunnya mengalami peningkatan. Berdasarkan data Korlantas Polri dari sumber Kompas.com tercatat sebanyak 95.906 kasus kecelakaan di tahun 2014 dan terus meningkat hingga tahun 2016 yaitu 105.374 kasus kecelakaan.

Kecelakaan ini mengakibatkan cidera ringan, patah tulang, cacat organ seperti telinga, hidung, jantung hingga korban meninggal. Penanganan kondisi cacat organ dan/atau patah tulang terus dikembangkan dalam dunia medis salah satunya dengan teknik rekayasa jaringan.

Rekayasa jaringan merupakan suatu teknik/metode untuk mengkonstruksi jaringan atau organ dari unit sel tunggal. Umumnya, rekayasa jaringan dibangun atas 3 komponen utama yaitu sel, scaffold (steger) dan nutrisi. Berikut penjelasan ketiga komponen tersebut.

1. Sumber Sel

Sumber sel yang digunakan sebagai terapi rekayasa jaringan dapat diperoleh dari tubuh pasien itu sendiri. Salah satu jenis sel yang banyak dikembangkan adalah sel punca asal jaringan lemak. Sel ini dikenalkan oleh Prof. Zuk (Jepang) tahun 2001.

Baca juga:  Sains Disekularkan, Bertentangan dengan Nilai-nilai Islam?

Banyak peneliti optimis menggunakan sel jenis ini karena ketersediaannya yang berlimpah dan merupakan limbah di operasi sedot lemak untuk kecantikan pada manusia dewasa.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga telah berhasil mengembangkannya menjadi sel rawan, dan sel tulang sebagai langkah awal pengembangan rekayasa jaringan untuk terapi cacat rawan (seperti telinga dan hidung) serta patah tulang.

2. Scaffold (steger)

Steger berfungsi sebagai penyangga sementara untuk tumbuh kembang sel. Syarat steger harus bisa terurai dan tidak beracun bagi sel. Bahan dasar material steger dibagi menjadi 2 yaitu berbahan dasar protein dan polisakarida.

Material steger berbahan dasar protein di antaranya adalah kolagen, gelatin, elastin, keratin, dan sutra. Sedangkan material steger berbahan dasar polisakarida adalah selulosa, pati, alginat, dan kitosan.

3. Nutrisi

Nutrisi merupakan bahan pokok makanan sel, agar sel dapat tumbuh dan memperbanyak jumlahnya. Pada dasarnya, sel membutuhkan nutrisi baru setiap 2 hari sekali, sama halnya dengan kebutuhan kita sebagai manusia untuk makan 3 kali sehari.

Baca juga:  ASURA, Smart Assisting Robot untuk Petani, Karya Mahasiswa IPB

Jika sel tidak disuplementasi dengan nutrisi, maka sel juga akan mengalami kematian. Oleh karena itu, sumber nutrisi merupakan salah satu komponen dasar yang utama untuk pertumbuhan sel.

Sel yang tumbuh akan memperbanyak diri dan membentuk jaringan mengikuti bentuk steger. Steger dapat direkonstruksi menjadi bentuk organ yang diinginkan seperti hidung, telinga dan tulang.

Terobosan ini diharapkan mampu menjadi solusi terbaik sebagai pengganti terapi medis seperti penggunaan pen (selain titanium) dan/atau rekonstruksi daun telinga dan hidung menggunakan rawan di daerah rusuk yang sangat beresiko, karena “Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

 

Komentar

Imam Rosadi

Alumni Bioteknologi Universitas Al Azhar Indonesia. Saat ini ia adalah mahasiswa Pascasarjana Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB)
Imam Rosadi

Latest posts by Imam Rosadi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *