Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi: Konflik Suriah Bukan Konflik Sektarian, tapi Ada Agenda Barat Lewat ISIS

  • 359
  •  
  •  
  •  
    359
    Shares

Dibaca: 3317

Waktu Baca3 Menit, 7 Detik

DatDut.Com – Selama ini kita biasa mendengar tentang konflik yang terjadi di Suriah dari berbagai media yang saling silang dan bertentangan.

Media berhaluan garis keras dan ahli provokasi selalu mengatakan bahwa konflik Suriah merupakan konflik sektarian Suni-Syiah. Mereka berapi-api menyerukan untuk membantu muslim Suni yang dibantai Syiah. Berjihad di Suriah.

Nah, alangkah baiknya kita mencoba memahami konflik Suriah dari ulama Suriah sendiri. Beberapa waktu lalu Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syekh Ramadhan al-Buthi datang ke Indonesia menghadiri Konferensi ke-4 International Conference of Islamic Scholars (ICIS).

Beliau adalah ketua Ikatan Ulama Suriah. Sebagaimana diketahui bahwa ayah beliau, Syekh Ramadlan al-Buthi wafat dalam serangan teroris di majelis kajian tafsirnya pada 21 Maret 2013.

Di sela-sela kunjungannya itu, sempat terjadi wawancara oleh wartawan Republika, Nashih Nasrullah. Ringkasnya, terkait konflik Suriah yang berlarut-larut itu, ada lima fakta yang diungkapkan oleh Dr. Taufiq Ramadlan al-Buthi. Berikut ulasannya:

1. Bukan Konflik Sektarian

Putra ulama besar Suriah ini menegaskan bahwa apa yang terjadi di Suriah bukanlah konflik sektarian, yang membenturkan Suni-Syiah, ataupun Muslim dan non-Muslim.

Semua itu merupakan agenda dan skenario besar Barat untuk menghancurkan Islam. Skenario itu diwujudkan dengan tiga target utama.

2. Tiga Agenda Barat dalam Konflik Suriah

Melanjutkan poin pertama, menurut Dr. Taufiq ada tiga target besar Barat dalam konflik Suriah. Pertama, menghancurkan Suriah, seperti yang terjadi di Irak dan Libia.

Begitu pemerintahan yang dianggap menentang Barat telah runtuh, itu merupakan awal masalah baru. Konflik itu kini juga di-setting agar melibatkan sesama warga Suriah.

Baca juga:  K.H. Zayadi Muhajir, Ulama Besar Betawi yang Makamnya Banyak Diziarahi

Kedua, mendistorsi dan mencoreng wajah Islam di mata dunia agar terlihat sebagai agama yang menyeramkan sekaligus menakutkan agar mereka menjauh dari Islam. Buktinya, banyak jihadis yang datang dari Barat, misalnya Inggris dan Prancis.

Mustahil intelijen mereka tidak mengetahui kepergian warganya ke Suriah. Di antara mereka ada yang membunuh dengan cara kejam dan direkam kemudian videonya disebar. Ini agar Barat semakin yakin bahwa Islam agama yang menyeramkan.

Ketiga, menghabisi umat Islam di Eropa dengan membiarkan mereka berangkat ke Suriah untuk berjihad. Otomatis hal itu mengurangi ketakutan bangkitnya Islam di Barat. Kalau mereka tak ada tujuan pembiaran, mestinya kedatangan muslim Eropa ke Suriah sudah dihentikan sejak di imigrasi.

3. Hubungan ISIS dan Jihadis dengan Israel

Hal yang menguatkan bahwa ISIS dan para jihadis bukanlah berjuang untuk Islam adalah kemesraan mereka dengan Israel yang nyata-nyata adalah musuh Islam. Buktinya, ISIS tak pernah memusuhi Israel.

Jubha el-Nusra justru mendapat pasokan logistik dan peralatan perang justru dari Israel. Korban luka dari el-Nusra ternyata diobati di Israel.

4. Para Jihadis Dangkal Pemahaman Agamanya

Dr. Taufiq meragukan keislaman para jihadis yang datang ke Suriah dari berbagai negara terlebih dari Barat. Kalaupun Islam, pemahaman mereka pastilah sangat dangkal dan sebatas permukaan saja. Ini dibuktikan adanya fatwa-fatwa yang sangat dangkal dan jauh dari prinsip Islam, seperti jihad nikah dan penggunaan narkoba.

ISIS juga merusak fasilitas umum, memutuskan listrik, menghancurkan stasiun bahan bakar gas, menjual murah minyak mentah, menjadikan warga sipil sebagai tameng. Rasulullah tidak mengajarkan cara perang yang keji seperti itu. Hal tersebut membuktikan bahwa radikalisme dan ekstrimisme berangkat dari doktrin omong kosong dan bukan ajaran Islam.

Baca juga:  Ini 5 Pandangan Media Arab tentang Syekh Al-Arifi

5. Optimis Krisis Akan Berakhir

Berdasarkan keyakinan akan doa Rasulullah Saw. atas negeri Suriah, Dr. Taufiq masih yakin bahwa krisis ini akan berakhir dengan kemenangan Suriah.

Buktinya, Suriah yang semula diprediksi akan hancur dalam hitungan minggu atau bulan, ternyata masih bertahan hingga tahun kelima. Oposisi juga telah berislah. Para jihadis di Guata justru saling hantam sesama mereka.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar yang mendengar Nabi berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami sebab Syam dan Yaman.” Lalu, para Sahabat protes, “Kenapa bukan Najd, Rasul?” Rasulullah mengulang doa tersebut sampai tiga kali, sama sekali tidak menyebutkan Najd. “Di Najd, akan banyak musibah dan perpecahan, dan tanduk setan akan muncul di sana,” (HR. Ahmad).

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin
  • 359
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *