Soal Wanita Bekerja, Jangan Marah pada Felix Siauw setelah Baca 5 Penjelasan Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 2039

Waktu Baca7 Menit, 15 Detik

DatDut.Com – Setelah sebelumnya memberi sudut pandang pembanding terkait cuitan Ustad Fellix Siauw (Baca: Persoalkan Wanita Bekerja, Ini 5 Uneg-uneg Seorang Ibu untuk Felix Siauw), berikut ini 5 hal yang patut direnungkan oleh wanita yang bekerja.

Betapa pun Anda tidak setuju dengan cuitan Felix Siauw, tetap saja Anda harus mempertimbangkannya sebagai bagian dari koreksi sikap. Jangan gara-gara tidak menyukai sosoknya, lalu mengabaikan sisi baik yang mungkin diperoleh dari apa yang disampaikannya.

[nextpage title=”1. Wanita dan Pengasuhan Anak”]

1. Wanita dan Pengasuhan Anak

Kenapa Nabi mengidentikkan perempuan dalam urusan pengasuhan anak? Jika kita perhatikan secara detail biologis jasmani perempuan, kita pasti akan sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa ternyata penciptaan perempuan dengan bentuk yang sedemikian rupa adalah memang dipersiapkan untuk bertugas dengan hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Misal, rahim yang sudah diprogram Allah dalam tubuh perempuan menjadi tempat berkembangnya janin selama kurang lebih 40 minggu atau 9 bulan dan payudara perempuan yang bisa menghasilkan ASI untuk memenuhi gizi bayi di awal-awal kehidupannya di dunia ini.

Hal ini bukan hanya proses biologis saja tapi psikis. Oleh karena itu, dalam proses hamil dan menyusui seakan batin antara anak dan ibu terjalin dan terjadi sebuah bonding (ikatan) yang sangat kuat. Peran seperti ini tidak dapat digantikan oleh laki-laki, tapi justru laki-laki yang diamanahi oleh Allah untuk bertanggung jawab penuh terhadap anak tersebut.

[nextpage title=”2. Supaya Suami Lebih Bertanggung Jawab”]

2. Supaya Suami Lebih Bertanggung Jawab

Di sinilah titik keseimbangan terjadi. Saat wanita yang susah payah mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat bayinya maka Allah tidak membiarkan laki-laki untuk berleha-leha saja. Tapi dia mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan wanita yang mengandung dan menyusui anaknya.

Sandang, pangan dan papan harus suami sediakan selama istrinya masih memegang anaknya. Tapi, saat ini ternyata banyak perempuan malah mau bersusah-susah payah merepotkan dirinya sendiri untuk memikul double task (tugas ganda) dengan tetap bekerja di luar saat hamil dan masa menyusui. Padahal, Allah sudah memberikan dia tugas yang sedemikian rupa.

[nextpage title=”3. Saat Wanita Bekerja Hamil”]

3. Saat Wanita Bekerja Hamil

Betapa saya tidak tega melihat ibu-ibu hamil tua dengan perut yang membuncit dan harus berdesak-desakan di bus atau KRL saat berangkat kerja, berkutat dengan tugas-tugas kantor yang sangat membosankan sambil tidak tenang memikirkan bayinya di rumah apakah baik-baik saja, dan ditambah lagi harus bekerja sambil menyempatkan diri pumping (memeras) ASI untuk tabungan jatah ASI si kecil di rumah.

Mengapa mereka tidak di rumah saja menikmati masa-masa kehamilan dan masa menyusui? Menikmati perkembangan anak? Menikmati mendidik anak di masa golden age mereka? Untuk apa mereka bekerja? Cita-citakah? eksistensi diri, karir, atau kebutuhan finansial?

Dari semua alasan tersebut, bagi saya hanya masalah finansial sajalah sebaiknya perempuan harus ikut turun tangan kerja di luar. Selagi finansial keluarga aman dengan dia tidak kerja, alangkah baiknya dia di rumah saja menjaga anak-anaknya dan mengatur rumahnya.

Syukur-syukur kalau secara teknis kita tidak perlu memegang langsung. Misalnya dengan adanya pembantu atau baby sitter, tapi tetap saja kendali dan tanggung jawab anak-anak harus ada di tangan kita.

Yang lebih menyesakkan lagi, banyak perempuan kerja yang tidak bisa membayar PRT dan baby sitter malah anaknya dititipkan ke nenek-kakeknya. Tidakkah cukup waktu kita kecil sudah merepotkan beliau berdua? Masih perlukah kita tambahi beban beliau saat seharusnya beliau menikmati masa tuanya?

Baca juga:  Jadi Wanita Tidak Mudah, Maka Ini 5 Alasan Jangan Pernah Remehkan Kaum Hawa!

Ini tentu beda kasus kalau misalnya single mother karena cerai atau suaminya meninggal. Untuk memenuhi kebutuhanya dan anak-anaknya, memang dia harus kerja. Tentu saja jika penghasilanya lebih, alangkah baiknya untuk teknis pengurusan anak bisa memakai jasa PRT atau baby sitter, sedangkan nenek-kakeknya bisa membantu mengawasi dan memberi bimbingan moril dan spiritual. Jadi, tidak membuat beliau terlalu capek dengan tetek bengek urusan anak kecil di masa tua beliau berdua.

[nextpage title=”4. Sebandingkah Pendapatan yang Diperoleh?”]

4. Sebandingkah Pendapatan yang Diperoleh?

Selanjutnya, saya ingin mengajak para wanita untuk logis dengan memperhitungkan secara matematis antara mempertaruhkan besarnya gaji dan merawat anak. Misal, seorang karyawati kerja sebulan dengan gaji 3,5 juta. Untuk ganti bayar PRT atau baby sitter dan susu anak sekitar 1-1,5 juta.

Untuk keperluan transport PP kerja dalam waktu sebulan misalkan 1 juta, maka total pengeluaran adalah 2,5 juta. Kita Cuma dapat mengantongi 1 juta dan dengan itu kita sudah kehilangan waktu mendampingi anak, mendidiknya langsung, merawatnya dengan tangan kita dan kita dapat beban lebih di kantor dan rumah.

Belum lagi hak-hak suami yang pasti akan banyak terabaikan karena kita pulang kerja dengan rasa capek yang sangat mendera. Akan lebih baik jika misalnya gaji 3,5 juta dari suami lalu digunakan untuk keperluan sehari-hari tanpa harus bayar PRT dan baby sitter.

Cukup dengan istri turun tangan merawat anak sendiri, menjaga dan mengatur kebutuhan rumah, mengatur pemakaian keuangan rumah tangga, dan syukur-syukur bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumah untuk menambah-nambahi pemasukan keluarga tanpa harus meninggalkan anak lama-lama.

Di sisi lain, jika karir hanya dikarenakan cita-cita, eksistensi diri dan gejolak feminisme, saya sendiri pernah merasakan perang batin yang luar biasa. Saya kadang ghibthah (iri yang positif) melihat ada wanita yang “terlihat” sukses di karirnya tapi kehidupan rumah tangganya juga masih berjalan baik-baik saja.

Lagi-lagi hal ini dikembalikan kepada yang menjalaninya. Selama masih bisa meng-handle semua, maka tidak ada salahnya wanita bekerja dan berkarir. Yang paling penting adalah hak anak-anak baik materil, fisik, psikis, dan spiritual tetap terpenuhi dan tidak terabaikan.

Jangan sampai hanya karena keinginan yang membabi buta untuk kerja dan berkarir karena tuntutan sebagai sarjana malah membuat keluarga yang sedang dibina jadi kacau, anak-anak terlantar, dan suami terabaikan. Semua perlu dipertimbangkan dengan masak-masak apa madharat dan maslahah yang akan ditimbulkan jika keputusan kerja bagi IRT harus diambil.

Saya sendiri adalah lulusan dua perguruan tinggi, yakni fakultas Hukum dan Institut Ilmu Hadis dengan nilai kelulusan Cum Laude, yang kemudian lebih memilih jadi IRT. Sebelum menikah, betapa besar harapan orangtua agar saya sukses berkarir dan gejolak feminisme saya saat itu juga masih sangat kuat.

Namun, saat saya dikaruniai anak, saya seperti tersedot untuk hanya memikirkan dia, semua cita-cita dan angan-angan lama saya menguap begitu saja. Saya seperti tidak ingin menyia-nyiakan masa tumbuh kembangnya hanya karena gaji yang tidak seberapa.

Setelah itu, saya yakinkan diri dan berdoa: “Ya Rabb, yang maha memberi rezeki, hamba yakin Engkau ciptakan hamba dengan membawa rezeki yang sudah engkau siapkan. Anak ini pun pasti rezekinya sudah ada. Hamba sekarang titipkan rezeki hamba dan anak hamba lewat tangan dan usaha ayahnya. Berkahi kami, ya Rabb. Amin.” Bahkan untuk kesuksesan pun saya titipkan kepada anak dan suami saya.

Baca juga:  Kaum Hawa! Ini 5 Syarat Busana Muslimah Versi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub

Saya hanya punya PR untuk selalu membesarkan hati kedua orangtua saya bahwa jalan yang saya ambil sekarang insyallah lebih berkah pada akhirnya. Saya tidak akan menyusahkan beliau dengan urusan teknis perawatan anak-anak saya. Dan pasti beliau akan lebih tenang jika perkembangan cucunya di-handle langsung oleh ibunya dan bukan baby sitter atau mbak PRT.

Saya yakin, walaupun keperluan finansial keluarga kecil kami hanya ditopang dari suami saya seorang, hal ini tidak akan merepotkan dan menyusahkan beliau, karena kami yakin rezeki kami sudah ada, tinggal bagaimana kita menjemputnya. Saya hanya minta ke orangtua untuk selalu mendoakan keluarga kecil kami agar berkah, bahagia dunia-akhirat serta selalu diridai-Nya.

[nextpage title=”5. Untuk Apa Bekerja?”]

5. Untuk Apa Bekerja?

Sekali lagi saya ingin mengajak seluruh kaum wanita untuk lebih melihat dan mendengar kata hatinya dalam menentukan, apakah sebaiknya dia karir atau dirumah saja menjadi ibu rumah tangga (full mother) demi anak-anaknya. Tentu saja dengan segala pertimbangan baik-buruknya bagi keluarga kecil kita khususnya bagi anak-anak.

Kesampingkanlah dulu ego kita yang terus merongrong dengan pertanyaan-pertanyaan, “Masa sarjana diam saja di rumah?” “Masa sarjana tidak kerja dan tak punya karir?” “Masa sarjana hanya di dapur? Untuk apa sekolah tingi-tinggi?”

Berpendidikan tinggi dan menjadi sarjana bukan hanya untuk kerja di luar, saya jadi teringat sebuah quote yang bagus dari Dian Sastro Wardoyo: “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi. Karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”

Ini tentu saja bukan hanya genetika kecerdasan yang diturunkan pada anak, tapi juga adanya tarbiyah (pendidikan) langsung dari ibunya sebagai al-madrasah al-ula (tempat belajar pertama).

Kalau jujur jawaban alasan kita kerja hanya karena eksistensi dan tuntutan karena tidak ingin dipandang sebelah mata, lalu mengabaikan hak-hak anak secara fisik, psikis dan spiritual, maka jangan marah kalau Ustadz Felix Siauw sampai berkicau seperti itu.

Saya juga berharap bahwa saudari-saudariku tidak marah dengan tulisan ini. Karena murni tulisan ini hanya ingin menjernihkan posisi wanita dengan segala tanggung jawab yang akan diembannya. Setidaknya nanti di hadapan Allah dia punya alasan kuat untuk diutarakan kenapa sampai ia lebih memilih berkarir. Wallahu a’lam bisshawab.

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Lee Ummu Hisyam

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *