Tak Semua Penduduk Arab Saudi Penganut Wahabi

  • 56
  •  
  •  
  •  
    56
    Shares

DatDut.Com – Anggapan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya sebagian besar warga NU, terhadap Arab Saudi sebagai basis aliran Wahabi sudah sangat melekat di benak mereka.

Karena seringnya aliran Wahabi membidahkan amaliah warga NU, sepertinya upaya yang dilakukan Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub dalam mempertemukan NU dan Wahabi belum membuahkan hasil.

Ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal lalu menulis artikel di Republika.co.id dengan judul “Titik Temu Wahabi-NU” pada (13/02/15).

Bahkan, artikel tersebut dikembangkan lagi menjadi sebuah buku berbahasa Arab yang berjudul al-Wahabiyah wa Nahdhatul ‘Ulama, Ittifaq fil Ushul la Ikhtilaf.

Namun, usaha tersebut justru dicurigai sebagian orang bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal itu Wahabi. Padahal faktanya tidak demikian (Baca: 5 Fakta Imam Besar Masjid Istiqlal Bukan Wahabi).

Menurut Sumanto Al Qurtuby, dosen di King Fahd University of Petroleum and Minerals Saudi Arabia, anggapan bahwa seluruh penduduk Arab Saudi penganut Wahabi itu keliru. Berikut 5 Penjelasannya:

1. Mayoritas Penduduk Arab Saudi Penganut Suni

Menurut Sumanto, sekitar 15% penduduk Arab Saudi adalah Syiah dari berbagai mazhab teologi. Sementara itu, lebih dari 1/3 populasinya adalah kaum migran.

Wahabi sejatinya adalah “minoritas agama penguasa” di Arab Saudi karena menjalin patron dengan rezim politik. Menurutnya, mayoritas penduduk Arab Saudi tentu saja Suni dari berbagai aliran yang tersebar di berbagai area.

Pria kelahiran Batang, Jawa Tengah ini, menambahkan bahwa pengikut “Wahabi” kebanyakan terpusat di kawasan Najd (Arab Saudi bagian tengah), khususnya Al-Qassim, Ha’il, dan juga Riyadh, tempat lahirnya pendiri Wahabi dan leluhur Dinasti Saud. Menurutnya, tidak semua keturunan Raja Sa’ud itu otomatis pengikut Wahabi.

2. Kerajaan Arab Saudi Antikritik

Sumanto berpendapat bahwa kasus pembunuhan yang menimpa salah satu tokoh Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr an-Nimr, itu bukan karena kesyiahannya, tapi karena makar, separatisme, dan sektarianisme yang dilakukan Syekh Nimr an-Nimr.

Baca juga:  Mereka Sepakat Menolak Salafi: Setahun Muktamar Chechnya

Selain itu, menurut Sumanto, Syekh Nimr merupakan spionase Iran (Baca: Ini 5 Penjelasan Soal Hukuman Mati Tokoh Syiah Arab Saudi).

Namun pendapatnya ini ditolak oleh Dina Sulaeman. Menurut penulis buku Prahara Suriah ini, seperti dikutip dari Dinasulaeman.wordpress.com, pemerintah Arab Saudi itu antikritik

Pemilihan aliran Wahabi sebagai ideologi kerajaan merupakan jalan aman pemerintah Arab Saudi menghindari demonstrasi-demonstrasi ketidakadilan kerajaan.

Sementara itu, Syekh Nimr justru merupakan tokoh Syiah yang giat mengkritik Pemerintah Arab Saudi atas kebijakan yang diskriminatif terhadap kaum Syiah di Arab Saudi.

3. Pembagian Kelompok Wahabi

Sumanto beranggapan bahwa tidak semua penganut Wahabi itu ekstrim. Menurutnya, Wahabi itu terbagi menjadi lima corak, yaitu Wahabi Ekstrim, Wahabi Aksesoris, Wahabi Pragmatis-Oportunis, Wahabi Moderat, dan Wahabi Liberal.

Sumanto menyederhanakan Wahabi Ekstrim dengan kelompok tertentu yang suka mengamuk-amuk dan membidahkan orang lain yang tidak sepaham. Sementara Wahabi Aksesoris itu kelompok yang secara pakaian dan jenggotnya mirip dengan “Wahabi”.

Menurut Sumanto, Wahabi Pragmatis-Oportunis adalah kelompok yang pura-pura jadi Wahabi supaya dapat akses politik dan ekonomi. Sementara itu, Wahabi Moderat itu mereka yang ke dalam konservatif, keluar toleran.

Artinya, mereka mengamalkan pemahaman mereka hanya untuk diamalkan dirinya sendiri dan simpatisannya, bukan untuk menyalahkan amaliah kelompok lain.

Terakhir, Wahabi Liberal adalah kelompok yang kalau di ruang publik dan di Arab Saudi saja memperlihatkan kewahabiannya.

Namun, kalau di ruang privat apalagi di luar Arab Saudi, kelompok Wahabi yang terakhir ini bisa saja tidak setuju dengan kelompok agama lain dalam banyak hal tentang isu-isu sosial-keagamaan tertentu tapi bukan berarti lantas marah-marah dan ngamuk-ngamuk ngegeruduk seenaknya.

Baca juga:  Seru! Bidah Kembali Jadi Isu Debat Terbaru Ustaz Idrus Ramli vs Ustaz Firanda Andirja

4. Suni, Syiah, Wahabi

Sumato yang sehari-hari hidup di Arab Saudi merasakan perbedaan yang sangat drastis terkait hubungan para penganut kelompok-kelompok keagamaan antara Arab Saudi dan Indonesia.

Menurutnya, banyak kelompok Wahabi Indonesia yang berpandangan bahwa kaum Sunni dan Syiah di Arab Saudi itu saling bermusuhan.

“Bagaimana bisa bermusuhan, wong mereka bisa ngopi, ngeteh, ngerokok dan kongko-kongko bareng,” tulisnya di Facebook. Menurut Sumanto, hubungan Suni-Syiah bahkan bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, baik sebagai penjual maupun pembeli.

“Di berbagai daerah di Ahsa bahkan sudah biasa kawin-mawin selama beratus-ratus tahun,” imbuhnya meyakinkan.

5. Sesama Kelompok Islam Jangan Saling Bermusuhan

“Hanya orang yang tidak waras yang mengingkan kekacauan. Semua orang waras ya lebih memilih rukun kan daripada musuhan?” tegas Sumanto.

Menurutnya, pelaku kekerasan terhadap Syiah di Saudi itu bukan dilakukan oleh “massa” layaknya di Indonesia, tapi oleh kelompok snipers dan teroris yang di Arab Saudi sendiri juga dimusuhi.

“Karena itu sejumlah kelompok Islam di Indonesia jangan suka berbuat kekerasan terhadap kelompok agama lain. Anda tahu kan kalau dalam Islam, babi itu haram.

Nah, babi yang tidak buta saja haram, apalagi membabi buta, kan lebih haram lagi?” pungkasnya menasihati kelompok ekstrimis di Indonesia dengan candaan yang sarkastis.

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    56
    Shares
  • 56
  •  
  •  

4 thoughts on “Tak Semua Penduduk Arab Saudi Penganut Wahabi

  1. Kalau memang arab Saudi Wahabi seperti yg tuduhkan orang2 kita ……kok aneh ya kedengarannya, sekarang teknologi dah maju tinggal klik aja tuh di google dari mana tuh namanya Wahabi, siapa tuh abdulah bin Abdul Wahab, siapa tuh abdulah bin rustum, jangan hanya katanya doang ……..ustad Safiq Basalamah, ustad Khaliq Basalamah, ustad firanda, dll kok di cap antek wahabi…….dengerin dulu ceramah mereka …..tak kenal maka tak sayang……..

  2. Banyak ditnah yang di sebar media. Mengapa mereka di sebut Wahabi?
    Coba tanya langsung apa mereka menerima di sebut wahabi?
    Coba upaya apa yang mereka coba capai. Mereka ingin Islam yang murni. Seperti Islam yang di ajarkan Rosullaah kepada para sahabat.
    Sebetulnya sebutan Wahabi, adalah sebutan intoleransi.
    Iyah mereka berbeda dengan pemahaman banyaknya masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *