Tafsir Al-Jalalain, Baca 5 Fakta tentang Kitab Terpopuler dan Legendaris di Pesantren Ini

  • 54
  •  
  •  
  •  
    54
    Shares

DatDut.Com –  Kitab Tafsir al-Jalalain merupakan salah satu kitab tafsir yang sangat familiar di Indonesia, utamanya kalangan pesantren. Di pesantren-pesantren salafiyah, kitab tafsir ini mudah ditemui. Pengajiannya pun menjadi salah satu agenda rutin pengasuh pesantren. Mendampingi kitab Ihya’ Ulumiddin, Tafsir al-Jalalain biasa diikutsertakan dalam acara tasyakuran khataman.

Banyak hal menarik di balik kitab tafsir ini. Selain paling ringkas di antara tafsir lainnya, bahasanya pun mudah dimengerti. Tafsir al-Jalalain memang sangat ringkas dan padat. Bahkan menurut Syekh Mushtafa bin Abdillah al-Qusthunthani, dalam kitab Kasyf adz-Dzunun, diriwayatkan bahwa ada sebagian ulama Yaman mengatakan, huruf Alquran dengan tafsirannya sampai surat al-Muzzammil jumlahnya sama. Baru pada surat al-Muddatstsir dan seterusnya tafsir ini melebihi Alquran.

Tafsir al-Jalalain juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Melihat antusias dan keberlangsungan para santri yang mengaji kitab ini, maka tidak diragukan, pasti banyak kalangan yang ingin lebih memahami lewat terjemahan. Nah, lebih dekat dengan tafsir tersebut, berikut ini 5 fakta menarik terntang kitab Tafsir al-Jalalain:

[nextpage title=”1. Tafsir Paling Populer”]

1. Tafsir Paling Populer

Hampir di setiap pesantren ada pengajian kitab Tafsir al-Jalalain. Bahkan pesantren yang belum mengajarkan santrinya kitab Ihya’, biasanya lebih mendahulukan tafsir ini. Selain karena paling ringkas al-Jalalain juga sering jadi ukuran minimal seorang santri dalam taraf belajar. “Sudah ngaji Tafsir Jalalain belum? Kok mau pulang?” Ungkapan ini menjadi pendorong agar santri pesantren, minimal dalam memahami tafsir sudah ikut pengajian kitab ini.

Bernama al-Jalalain karena tafsir tersebut ditulis oleh dua orang ulama yang bergelar Jalaluddin. Dalam kalangan santri beredar juga gurauan dalam menyindir tingkah kalangan yang menganut pemahaman-pemahaman menyimpang dengan ungkapan, “Yang mereka kaji bukan Tafsir Jalalain, tapi Tafsir Jalan Lain.”

[nextpage title=”2. Penulisan dalam Dua Periode”]

2. Penulisan dalam Dua Periode

Kitab Tafsir al-Jalalain ditulis dalam dua periode. Penulisnya juga dua tokoh ulama beda masa. Penulis pertama adalah al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad, yang masyhur sebagai Imam Jalaluddin al-Mahalli (791 H/1389 M- 864 H/1455 M). Al-Mahalli merupakan nisbat pada kampungnya yang tak jauh dari sungi Nil. Beliau menulis tafsir ini justru dimulai dari surat al-Kahfi hingga an-Nas, lalu al-Fatihah. Sebelum menuntaskan penulisan tafsirnya, Imam Jalaluddin al-Mahalli wafat.

Baca juga:  Waspadai Buku-buku tentang Maulid Nabi, Ini 5 Isinya yang Palsu

Penulis kedua, yang menyelesaikan penulisan kitab tafsir ini adalah al-Imam Abdurrahman bin Abi Bakr bin Muhammad al-Suyuthi yang lebih dikenal dengan panggilan Imam as-Suyuthi (849 H- 911 H). Oleh banyak kalangan, beiau didesak agar menyelesaikan tafsir karya Imam al-Mahalli, yang termasuk salah satu gurunya.

Ia pun akhirnya memulai penulisan lanjutan dari Tafsir al-Mahalli pada hari Rabu di awal Ramadhan 870 H. Dikisahkan dalam kitab tersebut, penulisan selesai pada hari Ahad, 10 Syawal tahun itu juga. Hanya 40 hari. Tapi untuk menyempurnakan dan menggabungkan dengan bagian tulisan Imam al-Mahalli baru selesai 3 bulan kemudian, tepatnya hari Rabu, 6 Shafar 871 H.

[nextpage title=”3. Tanpa Penanda Ayat”]

3. Tanpa Penanda Ayat

Salah satu yang bisa dikatakan sebagai “kekurangan” dalam berbagai cetakan kitab Tafsir al-Jalalain adalah tak adanya penanda ayat. Tafsir ini menyisipkan penjelasan di antara penggalan-penggalan ayat yang posisinya dalam kurung. Sehingga kata dan kalimat yang berada dalam ayat lain, bisa saja berada satu kurung dengan ayat sebelumnya yang masih ada keterkaitan makna.

Tidak adanya penanda ayat inilah rupanya yang menjadi sisi lain uji kemampuan pembaca dan ustaz yang mengajarkan Tafsir al-Jalalain. Selain mempelajari tafsirnya ayat, ia dituntut untuk melatih ingatan dan ketelitian untuk mengenali dimana pemberhentian tiap-tiap ayat.

[nextpage title=”4. Kedua Syekh dalam Mimpi”]

4. Kedua Syekh dalam Mimpi

Terdapat kisah menarik dalam Tafsir al-Jalalain, juz 1, hal 237. Syekh Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar al-Khatib ath-Thukhi mendapat kabar dari Syekh Kamaluddin al-Mahalli yang masih saudara dari Imam al-Mahalli bahwa dirinya melihat Imam al-Mahalli dan Imam as-Suyuthi dalam mimpi. Imam al-Mahalli memegang kitab tulisan Imam as-Suyuthi, pelengkap kitabnya. Beliau membuka dan membolak-balik lembaran-lembaran kitab itu lalu berkata, “Mana yang lebih bagus? Karyaku atau karyamu?”

Baca juga:  Idhatun Nasyi’in, Kitab Pembakar Semangat Kaum Muda

Imam Suyuthi menjawab, “Karya saya.” “Lihatlah ini,” sahut Imam al-Mahalli. Lalu ditunjukkanya beberapa tempat sebagai semacam bantahan halus. Sementara Imam as-Suyuthi tampak menjawab setiap kritikan Imam al-Mahalli. Imam al-Mahalli hanya senyum-senyum dan kadang tertawa melihat bantahan muridnya itu.

Menanggapi mimpi itu, Imam as-Suyuthi menjawab bahwa beliau tetap berkeyakinan bahwa karya al-Mahalli lebih pasti lebih baik. Karena bagaimanapun, ia hanya meneruskan dan kadang mengambil juga penjelasan Imam al-Mahalli. Adapun yang diisyaratkan dalam mimpi menurutnya mungkin menunjuk pada beberapa tempat yang ia agak berbeda dengan penjelasan gurunya tersebut.

[nextpage title=”5. Kitab-kitab Pelengkap”]

5. Kitab-kitab Pelengkap

Dalam berbagai cetakan, kitab Tafsir al-Jalalain selalu tergabung sebagai satu jilid meskipun terdiri dari dua juz. Karena memang Imam al-Mahalli menafsirkan al-Fatihah setelah surat an-Nas, maka dalam kitab tafsir ini, letak al-Fatihah justru di akhir.

Selain itu, di bagian hasyiyah (pinggiran halaman) biasanya disertakan kitab-kitab pelengkap memahami tafsir. Ada 4 kitab yang turut serta dalam paket Tafsir al-Jalalain adalah: Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya Imam as-Suyuthi, Ma’rifat an-Nasikh wa al-Mansukh karya al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Hazm, Alfiyyah al-Iraqi karya Imam Abu Zar’ah al-Iraqi yang menjelaskan tafsir kata-kata langka dalam Alquran, dan Ma Warada fi al-Qur’an al-Karim min Lughat al-Qaba`il karya Imam Abu Qasim bin Salam.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    54
    Shares
  • 54
  •  
  •  
Close