Dari Sekian Banyak Syarah dan Hasyiyah Taqrib, 5 Kitab Ini yang Paling Akrab dengan Santri

  • Nasrudin
  • 27 April 2016
  • Komentar Dinonaktifkan pada Dari Sekian Banyak Syarah dan Hasyiyah Taqrib, 5 Kitab Ini yang Paling Akrab dengan Santri
  • 39
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares

DatDut.Com – Sebagai kitab fikih yang singkat, padat, namun berbobot ,dan mempunyai pola penyusunan yang istimewa, kitab Taqrib karya Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Ashfihan (434-500 H) ini banyak menarik perhatian, baik kalangan pelajar maupun para ulama. Bagi para pelajar, mempelajari kitab ini menjadi dasar untuk memahami berbagai kitab fikih yang lebih besar dan luas pembahasannya.

(Baca: 5 Keunggulan Kitab Taqrib di Mata Para Santri)

Tradisi keilmuan yang berlaku di kalangan ulama fikih memang unik. Dari sebuah kitab yang redaksinya masih asli, disebut matan, muncullah penjelasan atasnya yang disebut syarah. Kitab syarah kalau menarik akan mengundang ulama lain untuk memberi komentar tambahan dan memperluas penjelasannya dan lahirlah kitab  jenis hasyiyah. Atau sebaliknya, dari kitab yang memang aslinya sudah besar dan luas penjelasannya, seperti Ihya’ Ulumiddin misalnya, lahirlah kitab ringkasan yang disebut mukhtashar.

Bagi para ulama penulis kitab, Taqrib menarik perhatian untuk diperluas dan dikomentari bahkan ditelusuri berbagai dalil atas penjelasannya. Ada belasan kitab syarah atas matan atau redaksi asli kitab Taqrib. Sebagian dari kitab syarah tersebut masih melahirkan kitab komentar lagi sehingga menjadi hasyiyah atau penjelasan luas.

Di antara kitab-kitab syarah atas Taqrib, tidak semuanya dikenal kalangan santri di pesantren. Hanya beberapa saja yang tenar dan dikaji di pesantren. Selebihnya mungkin sebagai referensi tambahan dan biasanya baru tahu atau mengnenalnya lewat kajian bahsul masail. Nah, di antara kitab-kitab syarah dan hasyiyah Taqrib, 5 kitab berikut ini adalah yang paling familiar dan dikenal kebanyakan santri.

[nextpage title=”1. Fathul Qarib”]

1. Fathul Qarib

Fath al-Qarib al-Mujib atau al-Qaul al-Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar merupakan syarah dari Taqrib yang paling popular. Hal itu karena di Indonesia kitab ini umunya dicetak satu buku dengan Matan Taqrib. Matan Taqrib di halaman pinggir, sedangkan syarah Fathul Qarib di halaman utama, atau Matan Taqrib di atas garis, sedangkan Fathul Qarib di bawah garis. Juga dikarenakan Fathul Qarib merupakan salah satu kitab untuk panduan belajar membaca kitab kuning dengan metode sorogan (murid membaca, guru menyimak dan mengoreksi).

Baca juga:  Merasa Lemah Iman dan Terombang-ambing Oleh Fitnah Akhir Zaman? Baca 3 Kitab Ini!

Di beberapa pesantren, kitab karya Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H/1512 M) ini juga menjadi salah satu mata pelajaran untuk jenjang tertentu di Madrasah Diniyah.

[nextpage title=”2. Hasyiyah al-Bajuri/al-Baijuri”]

2. Hasyiyah al-Bajuri/al-Baijuri

Kitab ini adalah karya Syekh Burhanuddin Ibrahim al-Baijuri bin Syekh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad, atau lebih dikenal dengan nama Syekh Ibrahim al Baijuri (1198-1276 H/1783-1860 M). Sebagian orang menyebutnya dengan nisbat al-Bajuri. Sepertinya dua versi untuk penyebutan nisbat tersebut.

Kitab ini terdiri dari dua jilid agak tebal. Jarang dikaji dalam sistem bandongan (guru membaca santri menulis makna), namun lebih banyak sebagai kitab pegangan dalam musyawarah kitab kuning. Namun di beberapa pesantren, kitab ini juga dikaji dalam pengajian kilatan.

Syekh Ibrahim al-Bajuri sendiri adalah salah satu ulama yang pernah menjadi rektor dan guru besar al-Azhar. Selain menulis kitab hasyiyah dalam bidang fikih, ia juga menulis beberapa hasyiyah yang akhirnya kitab tersebut disebut juga dengan Hasyiyah al-Bajuri. Contohnya kitab Hasyiyah Kifayah al’Awam yang menjelaskan tentang konsep tauhid mazhab Imam Asy’ari.

[nextpage title=”3. Kifayah al-Akhyar”]

3. Kifayah al-Akhyar

Merupakan kitab syarah dari Fathul Qarib. Karya Imam Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini (829 H / 1426 M) ini juga banyak dikenal santri. Sebagian pesantren ada yang mengkajinya dalam pengajian ramadhan dengan sistem kilatan atau baca cepat asal khatam. Pendalamannya sama dengan Hasyiyah al-Bajuri, sebagai tambahan referensi dalam musyawarah dan bahsul masail. Terdiri dari dua juz, namun biasanya dicetak dalam satu jilid saja.

Baca juga:  Mau Nikah? Baca Uqudullujjain, Kitab Panduan Berumah Tangga yang Tenar di Pesantren

[nextpage title=”4. At-Tausyikh”]

4. At-Tausyikh

At-Tausyikh adalah sebutan lain dari kitab yang bernama Qut al-Habib al-Gharib. Penggunaan dua nama ini karena mengikuti matan asli yang juga memiliki dua nama, Taqrib dan Ghayah al-Ikhtishar. Kemudian syarahnya, Fathul Qarib juga bernama Fath al-Qarib al-Mujib dan al-Qaul al-Mukhtar fi Syarh Ghayah al-Ikhtishar.

Kitab yang tergolong hasyiyah atau penjelasan luas atas syarah ini tidak begitu tebal. Merupakan karya ulama Indonesia, Syekh Nawawi Banten (w. 1315 H). Komentar dan penjelasan atas kitab Fathul Qarib dalam Tausyikh cukup singkat. Tidak terlalu melebar dari pembahasan utama.

[nextpage title=”5. Al-Iqna’”]

5. Al-Iqna’

Al-Iqna’ fi Hall alfadz Abi Syuja’ adalah karya Imam Muhammad bin Muhammad al-Khatib as-Syarbini (977 H / 1570 M). Di beberapa pesantren, kitab ini dijadikan meteri pelajaran. Sebagian yang lain dijadikan materi dalam musyawarah kitab kuning.

Dalam kitab ini, menurut penulisnya, selain keterangan yang luas juga ditambahkan berbagai keterangan penting dan kaidah-kaidah yang disertakan dalam kitab-kitab syarah karya Imam asy-Syarbini atas kitab Minhaj, Tanbih dan Bahjah.

Sebagaimana diceritakan oleh Imam asy-Syarbini, beliau sebelum mulai menulis al-Iqna’ terlebih dahulu ziarah ke makam Imam Syafi’i. Di sana beliau shalat dua rakaat, lalu usai shalat dan merasakan ketenangan, mulailah ia menyusun kitab al-Iqna’.

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin