Sudut Pandang Islam dalam Memandang Perempuan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Pembahasan perempuan sampai saat ini masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan, Islam mengakui bahwa persoalan perempuan merupakan salah satu persolan yang kini tengah dihadapi oleh masyarakat di negeri ini.

Apalagi di tengah-tengah globalisasi saat ini, di mana aksi tuntutan-tuntutan yang dilakukan oleh kaum perempuan di Barat sedikit banyaknya telah mempengaruhi kegerahan intelektual dan aksi perempuan di belahan bumi lain, termasuk di Indonesia.

Islam menilai, dalam setiap diskusi tentang perempuan, selalu dimulai dari praanggapan bahwa perempuan berada di lapisan paling bawah, tertindas, dan tidak berdaya dengan bukti faktual sederet kasus seperti soal TKW, buruh perempuan, ekploitasi seks, perempuan dalam bisnis, dan sebagainya.

Oleh karenanya diperlukan perjuangan menuju derajat emansipasif. Agar perempuan mampu memperjuangkan kepentingan dirinya tanpa tergantung pada orang lain, diperlukan upaya pemberdayaan perempuan. Dan, agar semua langkah dan pikiran yang mendasarinya sah, dicarilah legalitas filsafati dari wacana atau diskursus di seputar dunia keperempuanan.

Bukan hanya itu, mereka juga merasa wajib untuk membongkar mitos-mitos semacam hidup “perempuan di seputar sumur, dapur, dan kasur” atau bahwa “tugas perempuan adalah masak ” yang dianggap membuat kaum perempuan mundur, tertindas, dan bahkan telah membuat perempuan menjadi makhluk setengah manusia.

Baca juga:  Izinkan Suamimu Berpoligami Jika Memenuhi 5 Syarat Ini

Saat ini perempuan harus bertanggungjawab sendiri untuk menyelesaikan setiap permasalahannya. Ketika perempuan ingin mengangkat kedudukannya, maka ia harus berusaha menyetarakan posisi gendernya.

Berkaitan dengan mitos di atas biasanya Islam segera dituding telah memberikan kontribusi dalam pemunduran dan penindasan perempuan. Ajaran-ajaran Islam yang dikatakan sangat maskulin, tidak akomodatif terhadap aspirisi Feminin.

Fenomena jilbab, perbudakan, poligami, hak talak pada suami, hak waris dan persaksian perempuan hanya separuh lelaki, penekanan pada peran domestik perempuan dan sebagainya selalu ditunjuk sebagai bukti kebenaran tuduhan tadi. Yang paling mencolok juga di bidang politik dan kemasyarakatan. Islam dituduh sama sekali tidak menghargai peran kaum perempuan.

Namun penilian di atas tentu saja tidak benar. Perempuan dalam Islam mendapatkan tempat yang paling tinggi dan terhormat dan perempuan memliki harkat dan martabat yang setara dengan laki-laki. Dalam al-Quran surah an-Nisa ayat 1 menekankan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari unsur yang satu yaitu nafs wahidah.

Islam diyakini oleh para pemeluknya sebagai rahmatan Li al-alamin. Salah satu bentuk dari rahmat itu adalah pengakuan Islam terhadap keutuhan kemanusiaan perempuan setara dengan laki-laki.

Dalam al-Quran tidak menganut paham yang memberikan keutamaan pada jenis kelamin tertentu, semua mempunyai potensi yang sama untuk mengerjakan amal saleh sebagai hamba.

Baca juga:  Persoalkan Wanita yang Bekerja, Ini 5 Kritik untuk Felix Siauw

Beribu tahun yang lalu, perempuan dipandang tidak memiliki kemanusiaan yang utuh, perempuan dianggap sebelah mata bahkan pada zaman Jahiliyah memiliki anak perempuan adalah hal yang sangat memalukan dan menurunkan kehormatan sehingga banyak yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Motifnya ada dua. Pertama, ketakutan kalau-kalau pertambahan keturunan perempuan akan menimbulkan beban ekonomi. Kedua, ketakutan  akan kehinaan yang seringkali disebabkan karena para gadis yang ditawan oleh suku musuh dan selanjutnya menimbulkan kebanggaan penculiknya di hadapan orang tua dan saudara laki-lakinya.

Secara betahap Islam hadir mengembalikan hak-hak perempuan sebagai manusia merdeka. Perempuan dalam Islam tidak dibatasi ruang geraknya. Perempuan berhak menyuarakan keyakinannya, berhak mengaktualisasikan karyanya, dan berhak memiliki harta, yang memungkinkan mereka diakui masyarakat.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Suci Ambarwati

Mahasiswa Program Studi Tarjamah UIN Syarif Hidayatullah dan Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora
Suci Ambarwati

Latest posts by Suci Ambarwati (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close