• 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

DatDut.Com – Dalam suatu acara Maulid, ada penceramah yang tiba-tiba mengatakan, “Di dalam Alquran dan hadis tidak pernah ditemukan sebutan untuk orang non-Muslim sebagai ‘kafir’. Kalau pun ada, cuma di surah al-Kafirun saja,” dengan nada sangat meyakinkan.

“Kata kafirun di surah itu hanya mengacu pada 4 orang saja yang sudah pasti masuk neraka. Karenanya, kita tidak boleh memanggil non-Muslim dengan sebutan ‘kafir’,” lanjut penceramah itu, masih dengan nada yang sangat meyakinkan.

Jamaah pun mantuk-mantuk, entah sebagai tanda setuju atau tanda bingung. Namun di antara jamaah yang hadir, hanya Cak Karim yang tak mau mantuk-mantuk. Dia gak percaya begitu saja penjelasan si penceramah itu.

Cak Karim merasa ada yang janggal dengan materi si penceramah itu. Ia lalu mencoba membuka kamus pencari kosakata Alquran, ternyata kata kafir di Alquran baik yang dalam bentuk tunggal maupun jamak sekurang-kurangnya ada di 9 ayat.

Itu pun setelah dicek di tafsir, kata-kata kafir itu mengacu dalam konteks umum kepada semua orang yang tidak beriman kepada Allah dan ajaran Rasulullah, bukan hanya mengacu pada orang-orang tertentu, seperti disebut penceramah.

Baca juga:  Makna "Unzhur Ma Qala wa La Tanzhur Man Qala" di Medsos

Cak Karim pun lalu memberitahu Mas Bejo, yang kebetulan duduk di sebelahnya. “Mas, kayaknya salah deh yang disampaikan penceramah itu,” kata Cak Karim sambil menunjukkan HP yang berisi temuannya pada Mas Bejo.

Di sela-sela Mas Bejo melihat-lihat temuan Cak Karim, eh tiba-tiba si penceramah menyebut sabda Rasulullah Saw:

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ
‘Takutlah pada doa orang yang teraniaya, meskipun dia itu orang KAFIR, karena tidak ada penghalang sama sekali untuk terkabulkannya doanya itu.’

Mendengar si penceramah menyampaikan itu, buru-buru Cak Karim ngomong pada Mas Bejo.

“Nah, itu Mas, ada kata KAFIR yang dipakai Rasulullah. Di situ jelas-jelas konteksnya terbuka, bukan tertutup. Artinya, itu mengacu pada semua orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak ikut ajaran Rasulullah. Singkatnya, masa tukang siomay gak mau dipanggil ‘tukang siomay’. Atau, maling marah dipanggil ‘maling’ karena dia sukanya dipanggil ‘ustaz’. Wah, bagaimana ini penceramah, kok sembrono gini!?” kata Cak Karim pada Mas Bejo.

Baca juga:  Betulkah Perda Syariah Tak Jadi Dibatalkan? Ini Politik, Jangan Gampang Percaya!

***

Hari ini kita belajar dari Cak Karim bahwa mendengarkan ceramah juga harus kritis. Karena faktanya tak semua penceramah itu ngerti ilmu agama. Kalaupun ngerti, belum tentu tidak ada kepentingan di balik ceramahnya. Kalaupun tak ada kepentingan di baliknya, sebagai manusia dia bisa saja salah atau lupa. Karenanya, kita perlu berterima kasih pada Cak Karim.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah
  •  
    7
    Shares
  • 7
  •  
  •  

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.