Tradisi

Soal Kesucian dalam Rumah, 5 Hal Ini Perlu Diperhatikan Keluarga Muslim

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Bicara tentang kebersihan dan kesucian, terkadang dalam beberapa kasus sering tidak sejalan. Soalnya yang sudah bersih ternyata belum tentu memenuhi kriteria suci dari najis.

Sebaliknya yang secara hukum fikih sudah suci dari najis, namun dari sisi kebersihan masih dianggap kotor.

Bagi muslim, selain selain harus menjaga kebersihan, tentunya harus mempertimbangkan kesucian. Karena sucinya lantai rumah, pakaian dan lainnya dari najis erat kaitannya dengan ibadah sehari-hari.

Dalam suatu hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Bersuci itu sebagian dari iman ….” Dalam hadis lain riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. Itu Maha Baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu Maha bersih, Dia menyukai kebersihan…” Jadi sudah seharusnya seorang muslim memperhatikan kesucian dan kebersihan.

Terkait urusan kesucian, ternyata masih banyak orang Islam yang kurang memperhatikan beberapa hal. Setidaknya berdasarkan yang pernah dan sering ditemui penulis.

Bahkan beberapa hal berikut ini justru terjadi di kalangan mereka yang telah memiliki rumah berlantai keramik dan tergolong menengah ke atas. Seharusnya sisi kesucian halam 5 hal berikut ini harus diperhatikan umat Islam.

[nextpage title=”1. Jangan Sembarangan Mengepel Air Kencing Bayi”]

1. Jangan Sembarangan Mengepel Air Kencing Bayi

Dalam Islam, air kencing yang tergolong najis ringan (mukhafafah) adalah air kencing bayi laki-laki berumur kurang dari 2 tahun dan hanya mengkonsumsi ASI sebagai makanannya.

Jika si bayi sudah mengkonsumsi makanan pendamping, maka beda lagi hukumnya. Pada keadaan ini, air kencing si bayi sudah tergolong najis sedang (mutawasthah). Cara menyucikannya harus dihilangkan bentuk, warna dan baunya dengan air. Tidak lagi sekedar diperciki air seperti pada najis ringan.

Nah, ternyata masih sering dijumpai orang yang menganggap enteng urusan pipis bayi. Hanya dilap saja dengan kain, atau dipel basah dengan kain tanpa menggenangkan air terlebih dahulu.

Seharusnya tatacara yang tepat adalah dengan mengelap bekas air kencing bayi sampai hilang wujudnya. Baru kemudian disiram air hingga menggenang dan selanjutnya dikeringkan.

[nextpage title=”2. Mengepel Kotoran Hewan Juga Kurang Tepat”]

2. Mengepel Kotoran Hewan Juga Kurang Tepat

Selain air kencing, kotoran hewan semisal cicak menjadi salah satu permasalahan kesucian lantai rumah. Meskipun sulit, ternyata kotoran cicak belum bisa tergolong najis ma’fu atau yang dimaafkan.

Baca juga:  Akhirnya Ketum Muhammadiyah Bolehkan Ziarah Kubur karena 5 Hal Ini

Soalnya masih bisa dihindari dan belum tergolong umum al-balwa atau hal sulit yang telah menjadi umum/merata. Sehingga tetap harus disucikan dengan cara menghilangkan kotorannya terlebih dahulu baru dipel.

Ada juga sebagian pemilik atau pembantu di rumah yang berlantai semen ataupun keramik sembarangan ketika mengepel semisal kotoran ayam, burung piaraan dan sejenisnya. Tanpa dihilangkan dulu kotorannya langsung main siram air.

Cara yang tepat adalah hilangkan dulu wujud najisnya dengan cara mengelap menggunakan kain atau spon khusus untuk mengangkat kotorannya, digosok dengan lap atau lainnya hingga tersisa hukmiyah najisnya, baru disiram atau dipel.

Najis hukmiyah merupakan najis yang  telah hilang bentuk, warna dan rasanya. Cara menyucikannya menjadi lebih mudah dan hemat air.

Jadi, ketika ada najis di tengah lantai harusnya dijadikan najis hukmiyah dengan cara mengelap dan menggosoknya dengan lap dan sejenisnya, baru disiram air secukupnya.

[nextpage title=”3. Kendaraan Kok Naik Lantai?”]

3. Kendaraan Kok Naik Lantai?

Faktor keamanan dan belum punya garasi khusus membuat pemilik harus memasukkan kendaraan ke dalam rumah. Biasanya kendaraan roda dua seperti sepeda dan motor. Termasuk kendaraan mainan anak-anak seperti mobil mainan besar dan kereta bayi yang sering dibawa keluar rumah.

Namun ada yang sering diabaikan. Ban kendaraan dan mainan itu sama saja dengan kaki kita yang kena kotoran atau bahkan menginjak najis di jalanan. Kalau kita pakai alas kaki ketika keluar rumah, lalu masuk rumah alas kaki dilepas.

Anehnya, kendaraan dan mainan bisa seenaknya saja dimasukkan tanpa dicuci dulu bannya ataupun diberi alas khusus ketika di dalam rumah.

Sebaiknya kalau tak mau repot mencuci ban kendaraan dan mainan, sediakan alas untuk jalan masuk dan parkir dalam rumah. Sangat aneh jika muslim punya rumah berlantai mengkilap, ternyata tak peduli kesucian lantai yang berkaitan langsung dengan ibadahnya.

Solusi lain bagi ketiga poin tersebut adalah menggunakan sandal khusus dalam rumah. Sehingga ketika akan shalat kaki tidak menginjak bagian yang sering terkena najis.

[nextpage title=”4. Toilet Duduk, Biarpun Modern Tapi Kurang Nyaman bagi Muslim”]

4. Toilet Duduk, Biarpun Modern Tapi Kurang Nyaman bagi Muslim

Karena dianggap lebih modern dan berkelas, banyak orang yang menggunakan toilet duduk. Tetapi kalau diamati sebenarnya BAB dan BAK dengan toilet jenis ini kurang tepat bagi seorang muslim.

Baca juga:  Ini 5 Paradigma Tahlil Modern Versi Muhammadiyah

Kenapa? Karena sangat rawan terpercik najis dari kotoran maupun air seni. Bahkan, ternyata dari sisi kesehatan pun, BAB dengan jongkok lebih baik daripada dengan duduk.

Terus terang, sering menjumpai toilet duduk, saya masih enggan kalau harus “mentaati” peraturannya. Tetap tidak bisa menerima dan beradaptasi untuk buang air besar dengan cara duduk di lobang toilet seperti itu. Ah, biarlah ndeso yang penting terjaga kebersihan dan kesucian kita. Hehe..

[nextpage title=”5. Mencuci dengan Mesin Cuci Perhatikan Juga Kesuciannya”]

5. Mencuci dengan Mesin Cuci Perhatikan Juga Kesuciannya

Terkait mesin cuci, banyak orang yang merasa sangat terbantu. Tinggal masukkan semua cucian, hidupkan kran atau tekan tombolnya, mesin sudah bekerja sendiri. Apalagi mesin cuci otomatis yang bisa menngganti air sendiri.

Banyak juga orang yang tak sadar bahwa mencuci pakaian juga harus membuatnya suci dari najis baik ainiyyah (yang terliha mata) ataupun hukmiyah (yang tak nampak bendanya).

Sebaiknya pisahkanlah pakaian yang jelas terkena najis dari yang hanya kotor saja. Pakaian yang terkena najis harus disikat dan disucikan terlebih dahulu sebelum dimasukkan dalam mesin cuci, khususnya mesin cuci otomatis.

Bagi yang menggunakan mesin cuci manual bisa lebih mudah. Setelah pakaian kotor biasa dan pakaian kotor bernajis dipisahkan, maka pakaian bernajis bisa dimasukkan mesin cuci dan dicuci tanpa deterjen terlebih dahulu.

Lalu buang air pertama, dan masukkan air bilasan sebagai proses menyucikan. Setelah itu baru dilakukan proses pencucian bersama dengan pakaian kotor biasa.

Tapi khusus pakaian yang terkena najis yang mencolok semisal kotoran pada popok kain bayi, tentu harus dibersihkan dulu. Juga pakaian yang terkena najis berat (mughaladzah) tentu harus mendapat perlakuan khusus sebelum dicampurkan dengan pakaian lain dalam mesin cuci.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *