Belajarlah dari Hasyim Muzadi, Gus Dur, dan Raja Najasyi

  • 6
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

DatDut.Com – Beberapa hari yang lalu, kita terkena musibah. K.H. Hasyim Muzadi, tokoh segenap umat Islam dipanggil oleh Allah ke sisi-Nya. Kita merasa kehilangan. Tapi, takdir sudah diputuskan. Kita harus merelakan.

K.H. Hasyim Muzadi memang tokoh besar NU, tapi beliau bukan hanya milik NU. Beliau milik segenap umat Islam. Begitulah beliau. Ulama santun, adem, sejuk, dan bisa diterima oleh siapapun.

Tak heran, ketika berita meninggalnya beliau tersebar, semua umat Islam merasa kehilangan. Ucapan belsungkawa terlontar dari banyak kalangan. Bahkan, saat prosesi tajhizul-mayit beliau, semua uamt Islam bahu membahu membantu. FPI, NU, Muhammadiyah, PKS, dan HTI ikut terlibat. Menurut sebagian kalangan, pemandangan seperti itu adalah pemandangan langka.

Ada satu hal yang bisa kita ambil ibrah dari kejadian itu. Bahwa umat Islam bisa bersama. Umat Islam bisa bersatu. Apa pun kelompoknya. Buktinya, umat Islam sama-sama kehilangan K.H. Hasyim Muzadi. Umat Islam saling membantu saat prosesi tajhizul mayit beliau.

Kalau umat Islam bisa bersama-sama mengurusi jenazah K.H. Hasyim Muzadi, umat Islam pasti lebih bisa bersama-sama merawat Islam, menjaga Islam, dan menjungjung tinggi kalimat ‘Lailaha Illallah, Muhammadur Rasulullah’. Insyaallah.

Beberapa tahun yang lalu, kita juga kehilangan tokoh panutan. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. NU berkabung. Bukan hanya NU, tapi juga umat Islam non-NU. Bahkan, umat agama lain ikut bersedih. Yang muslim dan yang kafir sama-sama merasa kehilangan sosok Gus Dur.

Baca juga:  Muhammad Kusrin, Lulusan SD Perakit TV, Ini 5 Fakta Kasusnya

Dari kejadian itu, kita bisa tahu bahwa umat manusia bisa bersatu. Apa pun agamanya, apa pun alirannya, dan ‘apa pun-apa pun’ yang lain. Pasti bisa bersatu. Buktinya, dalam masalah Gus Dur umat manusia bisa bersatu, dalam masalah lain juga pasti bisa. Kita hidup bersama dengan tentram dan nyaman. Tanpa menggadaikan keyakinan. Istilahnya, toleransi tanpa membuang jati diri.

Tentu, kita bangga, karena tokoh yang menjadi perekat antar umat adalah orang Islam. Memang ada yang bilang, dunia akan aman dan tentram jika yang menjadi penguasa adalah muslim. Dan, tentu sejarah peradaban manusia juga menjadi saksi bahwa ketika umat Islam berkuasa, maka toleransi bisa berjalan dengan baik.

Umat beragama bisa hidup berdampingan. Sebab, pemimpin muslim juga menjadi pelindung rakyat non-muslim. Tantu, dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Namun, ketika orang kafir berkuasa, toleransi tidak ada. Contoh paling update adalah umat Islam di Myanmar. Mereka dibantai habis-habisan. Juga dulu di Spanyol. Terjadi pemusnahan umat Islam secara masal di sana.

Awalnya, Spanyol (Andalusia) menjadi salah satu tempat berkembangnya peradaban Islam. Bahkan Kitab Alfiyah Ibnu Malik, salah satu kitab yang sangat populer di dunia pesantren lahir di sana. Tapi, ketika orang kafir berkuasa, umat Islam dimusnahkan; menjadi kafir atau mati.

Baca juga:  Ini Khutbah Heroik Ustaz Abdul Somad

Tokoh non-Muslim yang sering disebut-sebut oleh kalangan liberal sebagai pelindung muslim hanya Raja Najasyi. Itu pun karena Raja Najasyi masih berpegang teguh pada agama Nabi Isa. Dan, kemudian setelah tahu kebenaran Islam, Raja Najasyi masuk Islam. Setelah Raja Najasyi, tidak ada lagi.

Akhiran, semoga lahir K.H. Hasyim Muzadi baru. Semoga lahir Gus Dur baru. Sehingga umat Islam bisa bersatu. Untuk sama-sama berjuang menegakkan ‘Lailaha Illallah, Muhammadur Rasulullah’.

Begitu juga, semoga jika ada non-Muslim yang jadi pemimpin, bisa menjadi pemimpin seperti Raja Najasyi. Melindungi segenap umat, yang kafir atau yang muslim. Tidak kasar pada masyarakatnya, tidak menistakan agama siapa saja, dan tidak main gusur seenaknya.

Tapi, kita tetap wajib berusaha agar kita dipimpin oleh orang yang seagama. Kenapa? Karena Raja Najasyi sudah pergi. Dan, takut tidak lahir kembali.

 

 

 

Komentar

A Saifuddin Syadiri

Mahasiswa Universitas Sunan Giri Surabaya. Asal Bangkalan Madura. Pernah
*nyantri* di Pondok Pesantren Sidogiri. Aktivis HMASS (Harakah Mahasiswa
Alumni Santri Sidogiri) Surabaya.
A Saifuddin Syadiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *