Figur

Sisi-sisi Unik Hidup Abu Nawas yang Tak Banyak Diketahui

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Siapa yang tidak kenal Abu Nawas. Sosok yang jenaka yang ceritanya sangat lucu dan menggelitik bagi yang membacanya. Cerita dan kisahnya pernah menjadi ikon dari salah satu majalah anak-anak jaman dahulu dan tetap eksis hingga sekarang.

Kisahnya yang jenaka dan menggelitik membuat orang-orang enggan melewatkan satu episode pun dari bagian kisah-kisahnya. Tapi tahukah kamu, siapakah sebenarnya sosok Abu Nawas itu? Yuk, simak 5 sisi unik tentangnya berikut ini:

1. Sosok Penyair dan Pujangga

Ia salah seorang penyair dan pujangga sastra Arab klasik. Namanya sering dikaitkan dengan cerita Seribu Satu Malam. Ia dilahirkan pada 145 H atau 747M di kota Ahvaz Persia (Iran).

Ia memiliki nama asli Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, dari ayah seorang anggota legiun militer Marwan II yaitu Hani Al-Hakam yang seorang Arab dan ibu seorang Persia bernama Jalban yang berkerja sebagai pencuci kain wol.

2. Si Yatim yang Cinta Ilmu

Sejak kecil ia sudah yatim, ibunya harus banting tulang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia juga seperti anak lainnya di mana umurnya waktu kecil dihabiskan untuk belajar pada orang terpelajar lainnya.

Ia sangat menyukai syair. Ia belajar sastra Arab dari Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga memperdalam Alquran dari seorang ahli yang bernama Ya’qub Al-Hadrami, sedangkan ilmu hadist belajar dari Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said Al-Qattan dan Azhar bin Sa’ad As-Samman.

Baca juga:  5 Pelajaran Berharga dari Valentino Rossi

Orang-orang yang sangat mempengaruhi gaya bahasanya dalam menulis syair adalah Walibah bin Habab Al-Asadi. Ia adalah penyair dari Kufah yang sangat tertarik dengan bakat Abu Nawas.

Dari penyair inilah akhirnya gaya bahasa syair Abu Nawas yang awalnya kasar menjadi lebih halus, berkelas dan teratur. Dalam gemblengan Walibah bin Habab Al-Asadi, ia berhasil mencapai puncak karirnya.

3. Kehidupan yang Glamour

Di pusat peradapan Dinasti Abbasyiah inilah ia kemudian banyak bergaul dengan para bangsawan. Ia sering bersyair untuk para bangsawan dan saudagar. Tentunya syairnya banyak yang berisi kata-kata pujian dan sanjungan agar mereka senang dan memberikan upah yang tinggi untuknya.

Gaya hidupnya menjadi sering glamour dan hura-hura, banyak hal kontroversial yang dilakukannya. Ia tampil sebagai tokoh unik sekaligus kontroversial dalam khasanah sastra Arab.

4. Pernah Dipenjara

Ia tak selalu berlimpah kemewahan, Di akhir hidupnya ia malah terkena masalah dengan penguasa setempat. Ketika ia membaca puisi Kafilah Bani Mudar untuk Khalifah, tak disangka Khalifah tersinggung dengan puisinya.

Sang penguasa akhirnya menjebloskannya ke penjara. Di penjara inilah kehidupannya berubah drastis yang semula penuh kemewahan menjadi penuh keprihatinan, namun justru saat itulah sisi spiritualnya terketuk. Ia jadi sering mendekatkan diri pada Allah.

Syair-syair dan puisinya yang awalnya berisi kepongahan dan keglamoran menjadi lebih bernuansa religi dan kepasrahan kepada Allah.

Baca juga:  Ini 5 Pesan Penting Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub Sebelum Wafat

5. Akhir Perjalanan Hidupnya

Ketika masuk Ramadan di usianya yang tidak lagi muda, ia seperti biasa minum-minuman keras. Dalam kondisi teler itu tiba-tiba ia didatangi seseorang yang tidak dikenalnya.

Tanpa banyak bicara, seseorang itu langsung bertanya kepada Abu Nawas, “Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikkan, yang justru merusak hidangan itu.”

Mendengar perkataan itu, Abu Nawas terhentak dan tersadar akan segala tingkah lakunya selama ini. Dia merasa hidupnya kelam dan dalam kubangan hitam dosa. Bahkan Abu Nawas langsung mengibaratkan dirinya jauh lebih hina dari lalat.

Kesadaran akan arti hidup yang tidak memberikan manfaat bagi orang lain itu, menuntun Abu Nawas untuk mengakhiri kebiasaan lamanya. Sejak perisiwa malam itu, Abu Nawas mengganti syair-syairnya dengan zikir dan perkataan baik.

Dia mengubah segala kebiasaan buruknya menghabiskan malam di bar dengan ke Masjid. Abu Nawas meninggal dunia di Baghdad pada tahun 195H/810 M. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Toni Pransiska

Toni Pransiska

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan program doktor di kampus yang sama.
Toni Pransiska

One thought on “Sisi-sisi Unik Hidup Abu Nawas yang Tak Banyak Diketahui”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *