Shalat Jumat di Monas: Antara Buih, Bidah, dan Kearifan Orang Berilmu

  • 180
  •  
  •  
  •  
    180
    Shares

DatDut.Com – Seminggu yang lama tercatat sejarah baru. Umat Islam dipersatukan di satu tempat dalam jumlah jutaan. Meskipun banyak halangan dan rintangan, tetapi kehendak Allah Swt. yang membuat umat Islam bisa mengabaikan perbedaan.

Jumlah peserta aksi 212 tiga kali lipat lebih banyak dari Aksi 411. Berdasarkan beberapa perkiraan, ada sekitar 7 jutaan lebih peserta aksi hari ini. Hebatnya lagi, aksi berjalan tertib dan damai, meski sempat diguyur hujan lebat selama berjamaah shalat Jumat.

Ternyata kalau umat Islam bersatu dalam satu irama, buzzer dan tukang nyinyir pun tiarap. Mereka tak punya nyali lagi. Unjuk gigi saja sudah malu. Aksi 212 jadi kiamat kecil bagi buzzer dan tukang nyinyir.

Semoga ini menjadi momentum untuk melupakan perbedaan furuk. Semoga umat belajar untuk jangan membesar-besarkan perbedaan. Waktunya bersatu dan menata potensi dan energi umat untuk masa depan kegemilangan juga kejayaan umat Islam. Masalah ekonomi, pendidikan, dan media umat harus jadi fokus kita ke depan.

Aksi 212 juga menelanjangi kekacauan argumen orang-orang yang beberapa waktu lalu koar-koar kalau Aksi Bela Islam itu jadi pintu masuk “Mensuriahkan Indonesia”. Aksi 212 justru membuktikan umat Islam Indonesia sudah sangat dewasa. Mereka yang suka teriak-teriak nyinyir di medsos itulah sesungguhnya yang belum dewasa.

Aksi 212 juga membantah pandangan bahwa shalat Jumat di jalan dianggap bidah besar. Terbukti banyak sekali umat yang mengabaikan pandangan itu dan pandangan bahwa shalat Jumat di jalan itu tidak sah. Mereka tetap mengikuti aksi 212 dengan shalat Jumat itu, karena ternyata justru banyak sekali pendapat lain yang membolehkan.

Baca juga:  #BoikotSariRoti, Bagaimana Semestinya Bersikap terhadap Perusahaan dan Tukang Roti Keliling?

Saya tiba-tiba teringat hadis Nabi riwayat Ibnu Umar dengan kualitas sahih dan tercantum dalam kitab Shahihul Jami’. Di hadis itu, Nabi bersabda, “Inna Allah ta’ala la yajma’u ummati ‘ala dhalalah wa yadullah ma’al jama’ah.” (Allah SWT tidak akan menghimpun umatku dalam kesesatan. Tangan atau Kekuasaan Allah bersama jamaah/perhimpunan umat Islam).

Nah, kalau merujuk hadis di atas, sebutan bidah itu rasanya kok kurang pas. Kalau salat Jumat berjamaah di Monas-Thamrin-HI-Tugu Tani dsk itu dianggap bidah, maka itu artinya ada 7 jutaan lebih orang sesat dalam satu waktu. Kalau begitu, jadi kontradiktif dengan makna eksplisit hadis di atas.

Aksi 212 juga menunjukkan kelemahan cara berpikir orang yang mengetwit pada 2 Desember dan menyebut peserta 212 adalah buih tak berkualitas di kerumunan Monas. Twitan itu terbantah sendiri oleh banyaknya postingan, gambar, dan video yang beredar tentang begitu banyak kaum terpelajar mulai profesor, doktor, dokter, profesional, direktur RS, konsultan papan atas, notaris, ahli bedah, pengusaha, rektor, mantan rektor, dosen, bankir, dan praktisi berbagai bidang, tumpah ruah hadir di aksi 212.

Banyak di antara mereka yang alumni perguruan tinggi di luar negeri yang bahkan lebih mentereng dari tempat kuliah dan tempat mengajar penulis twitan itu. Bahkan, sebagiannya adalah orang-orang yang punya jabatan dan reputasi nasional dan internasional.

Karenanya, yang kita butuhkan dari intelektual-intelektual kita, termasuk yang sedang mengabdikan ilmunya di luar negeri adalah menularkan semangat kemajuan dan mencerahkan cara pandang, bukan malah menebar provokasi, kenyinyiran, pendangkalan cara pandang, pengkerdilan potensi umat Islam, dan sok-sokan menyombongkan capaian.

Baca juga:  Penjelasan Soal Hadis Buih Ini, Menelanjangi Kelemahan dan Kesombongan Nadirsyah Hosen

Kalau orang yang katanya intelektual apalagi ulama, tapi hobi provokosi, nyinyir, dan sombong, saya kok malah lebih respek pada orang-orang kecil atau TKI yang berjuang untuk keluarga dan lingkungannya. Sumbangsih mereka lebih nyata daripada intelektual dan ulama yang hobinya nyinyir saja.

Akhirnya, kearifan memang selalu jadi puncak keilmuan. Bukankah tanda kealiman adalah ketawaduan? Bukankah puncak keberilmuan justru terletak pada kerendahhatian.

Sebagai orang berilmu, tak elok melawan gelombang umat Islam Indonesia. Jangan menghadang arus besar umat Islam Indonesia! Belanda, Jepang, Sekutu, dan PKI saja kocar-kacir, apalagi cuma yang saat ini sedang berkuasa, media, pengusaha atau cuma figur publik saja!

Umat Islam Indonesia punya kekuatan yang jangan sekali-kali diremehkan apalagi main-main dengannya, karena umat Islam Indonesia kelewat sabar. Allah SWT sendiri sudah berjanji bahwa Allah pasti selalu bersama orang yang sabar.

Wallahu yahdini wa yahdihim ila sawa’is sabil.

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

One thought on “Shalat Jumat di Monas: Antara Buih, Bidah, dan Kearifan Orang Berilmu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *