Seperti FPI, Banser NU Juga Sering Jadi Bulan-bulanan Pemberitaan Negatif

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Apa yang yang ada di benak Anda jika disebutkan kata “FPI”? Apakah Habib Rizieq, pentungan, razia, anti-Ahok, Palestina, atau Parade Tauhid?

Mungkin mayoritas dari yang mendengarnya akan segera membayangkan sekelompok orang yang meneriakkan kalimat takbir sambil membawa pentungan untuk mengusir orang-orang yang lagi ngumpul di warung remang-remang.

Bukan salah Anda kalau itu yang terlintas, karena memang kegiatan itulah yang mendominasi pemberitaan di media saat FPI sedang diangkat sebagai lakonnya. Namun apakah hanya itu yang mereka lakukan?

FPI bisa dikatakan sebagai objek eksploitasi media yang lebih suka memuat anarkisme ormas Islam dalam ber-nahi munkar. Sengaja atau tidak, hal itu seolah menjadi batu loncatan untuk mendiskreditkan cara Islam mengatasi permasalahan yang terjadi terutama masalah yang terkait dengan penyakit masyarakat.

Kegiatan kemanusiaan FPI jarang dikemukakan ke publik oleh media mainstream. Bakti sosial mereka ke masyarakat umum bahkan uluran tangan mereka sampai ke tanah seberang seakan menjadi makanan basi yang enggan dijamah oleh media-media itu. Media lebih senang mengetengahkan pasukan berbaju putih yang dipandu oleh imam bersorban yang bertindak kasar terhadap sesama.

Baca juga:  Fakta di Balik Kericuhan FPI vs Polisi Ini Diklaim Terjadi Pasca Pemeriksaan Habib Rizieq

Dan masyarakat umum yang sudah kadung antipati dengan represifnya FPI dalam berdakwah, enggan menerima sisi lain FPI dalam misi sosialnya. Nila setitik, rusak susu sebelanga.

Ternyata tidak hanya FPI yang mengalami ini. Banser NU pun mengalami hal yang sama. Pertanyaan yang sama, apa yang Anda bayangkan saat saya menyebut “Banser”? Nusron Wahid, menjaga gereja, antikomunisme, bakti sosial, atau rokok?

Mendengar nama badan otonom GP Ansor itu, tak ayal yang terbayang di benak adalah laskar berbaju loreng hijau yang gemar menjaga tempat ibadah agama lain atau menjaga sebuah pabrik sendal yang diprotes masyarakat karena dianggap menistakan simbol agama.

Bukan salah anda, karena memang kegiatan itulah yang mendominasi pemberitaan di media jika Banser sedang diangkat sebagai lakonnya. Namun apakah hanya itu yang mereka lakukan?

Anda mungkin termasuk sebagian besar orang yang tidak mengikuti berita tentang kegiatan Ansor yang mengumpulkan dana untuk saudara-saudara kita di Palestina, ikut unjuk rasa menolak komunisme, menjaga shalat Id-nya warga Muhammadiyah dan banyak kegiatan kemanusiaan lain.

Baca juga:  Membongkar 5 Fakta di Balik Situs NU Garis Lurus yang Meresahkan Nahdliyin

Sebagian media sntah sengaja atau tidak telah mengelimininasi peran-peran Banser dan lebih menonjolkan peran mereka yang kontroversial. Jadi pada dasarnya, semua media mempuyai kecenderungan dalam menyajikan berita.

Lalu, apa kita mau menyalahkan keengganan media untuk menyiarkan semua aktivitas secara berimbang dan cover both side? Tidak perlu, karena itu tidak akan ada efeknya. Lebih baik kita membuka diri untuk lebih obyektif dalam menerima berita , apalagi di zaman yang begitu mudahnya sebuah berita menyebar bak jamur di musim penghujan.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

follow me

Ahmad Indra

Pekerja yang tengah mencoba untuk geluti dunia literasi
Ahmad Indra
follow me

Latest posts by Ahmad Indra (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close