Semangat Menulis Kiai Ali Mustafa Yaqub yang Tak Pernah Padam

  • 1
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

DatDut.Com – Ada sebuah tradisi khas yang sangat mengakar pada diri para ulama, terutama ulama klasik; yakni tradisi tulis-menulis. Tak ada seorang ulamapun, yang meninggal dunia tanpa meniggalkan karya tulis sebagai rekaman pemikiran-pemikirannya.

Para imam madzhab fiqih yang empat misalnya, Imam Abu Hanifah (w. 150 H) meninggalkan karyaal-Fiqh al-Akbar dan al-Fiqh al-Ashghar, Imam Malik bin Anas (w. 179 H) mewariskan kitab Muwattha’, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w. 240 H) menghadiahi kitaal-Ummdanal-Risalah, dan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 242 H) menulisal-Musnad.

Dalam kajian tasawuf, Imam Muhammad al-Ghazali (w. 505 H) mewariskanIhya ‘Ulum al-Din, Misyakat al-Anwar dan al-Munqidz min al-Dhalal, Syeikh Muhyiddin bin Arabi (w. 638 H) meninggalkan al-Futuhat al-Makkiyyah, Syajarah al-Kaun, dan sebagainya.

Dan masih terlalu banyak contoh-contoh ulama klasik yang memiliki tradisi “jurnalistik” itu, baik ulama dari disiplin kalam, Hadis-Ilmu Hadis, Nahwu, Balaghah, Manthiq, Faraidh, maupun disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Pertanyaannya kini; apakah ulama kita saat ini juga mewarisi tradisi positif tulis-menulis para ulama klasik itu? Sulit untuk mengatakan “iya”. Sebab dalam ranah kenyataan, ulama kita saat ini, nyaris “tak kenal’ dan “tak mewarisi” tradisi tulis-menulis. Itu salah satu yang membedakan antara ulama klasik dan ulama saat ini.

Ulama saat ini, secara umum hanya membaca saja, bukan menciptakan bacaan. Kalaupun ada, jumlahnya terlalu sedikit. Salah satu yang sedikit itu adalah Prof KH Ali Mustafa Yaqub, MA, Guru Besar Hadis Ilmu Hadis Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, pesantren yang diperuntukkan khusus bagi santri mahasiswa.

Lebih dari itu, kecintaannya akan ilmu dan pengapdiannya sebagai “penjaga sunnah”, mengantar beliau menjadi dosen di sejumlah Universitas. Di antaranya; Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ), Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan UIN Syarif  Hidayatullah.

Tak berhenti sampai di sana. Kecenderungan para da’i yang asal mencomot dalil, khusunya hadis, dan memberikan pemahaman-pemahaman yang salah, menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi beliau.

Kerap beliau, yang juga pernah menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal sejak 2005 hingga Februari 2016 lalu, meluruskan pemahaman-pemahaman keliru tersebut. Baik dengan terjun secara langsung di pengajian masjid, dalam sebuah seminar atau tampil di sejumlah acara televisi di beberapa stasiun TV swasta.

Untuk kalangan dunia kyai NU, beliau yang juga mantan Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu termasuk ulama  yang produktif menulis . Kendati kesehariannya penuh kesibukan yang menyita waktu, namun kegiatan tulis-menulis yang memang sudah mendarah daging, tak bisa ditinggalkan sama sekali. Di tengah-tengah kesibukan yang berjubel itulah, beliau menuangkan pikiran-pikirannya ke dalam lembaran-lembaran karya ilmiah.

Petuah-petuah Jurnalistik

Dalam berbagai kesempatan mengajar al-Kutub al-Sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah) pada para santri mahasiswa di padepokan Hadisnya, di bilangan Pisangan Barat Ciputat, Kiai Ali-yang acap disapa Kiai Duladi oleh para santri mahasiswanya, karena fiski ilmiahnyaPengajian Ramadhan Kiai Duladiitu- senantiasa memberikan petuah-petuah jurnalistik.

Baca juga:  Banyak Kiai Jadi-jadian dan Ustad Abal-abal, Kenali Nih 5 Ciri Ulama Sejati

Dengan berapi-api beliau acap berwasiat; “wa la tamutunna illa wa antum katibun/ Janganlah Kalian meninggal dunia sebelum jadi penulis.” Para santri mahasiswanya belum “sah” dan “tidak seharusnya” meninggalkan dunia fana ini sebelum menelorkan buku, minimal sebuah.

Karena menjadi penulis sejati yang mampu mewariskan karya-karya ilmiah, menurutnya,  harus menjadi cita-cita generasi muslim, terutama para santri pada umumnya. Itulah tradisi para ulama dulu yang semestinya dijaga. Kalau bukan para santri, siapa yang akan meneruskan tradisi tulis-menulis yang saat ini nyaris punah itu?

Selain alasan tradisi warisan para ulama klasik itu, apa sebenarnya yang mendasari ayah dari Zia ul-Haramain itu getol dan tekun menggeluti dunia tulis-menulis?

Menurutnya, kita tidak mungkin mengenal Imam Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal (dalam bidang fikih), Imam al-A’sy’aru, Imam al-Maturidi (dalam bidang teologi), Imam Muhammad al-Ghazali, Imam al-Junaidi (dalam bidang tasawuf), Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy, Imam Abu Dawud asl-Sijistani, Imam Abu Isa al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i, Imam Ibnu Majah al-Qazwinu (dalam bidang Hadis Ilmu Hadis), dan lain sebagainya, tanpa melalui peninggalan mereka yang berwujud karya ilmiah.

Mereka tidak meninggalkan warisan harta. Mereka hanya meninggalkan karya ilmiah dan itulah harta peninggalan paling berharga bagi dunia Islam. Tanpa warisan karya tulis itu, nama mereka akan hangus tertelan zaman, pasca kematian mereka. Bahkan, tanpa peninggalan karya ilmiah itu, ajaran Islam tidak akan tumbuh berkembang apalagi menyebar ke seluruh penjuru dunia, hingga kita nikmati saat ini.

Menurut mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh yang juga alumni pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur itu, karya tulis akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnya hancur luluh ditelan bumi.

Berkaitan dengan ini, beliau acap menyitir syair, “al-Khatth yapba zamanan ba’da shahibih wa khatib al-khatth taht al-ardh madfun.” Dengan demikian karya tulis akan kekal dan menjadi amal jariyah, yang pahalanya terus mengiringi penulisnya hingga akhirat kelak, kala dibaca dan bermanfaat bagi para pembacanya.

Karenanya, demi mewujudkan cita-citanya menjadikan mahasantrinya (sebutan untuk santri mahasiswa Institute Ilmu Hadis Darus-Sunnah) yang penulis, beliau mempelopori berdirinya Buletin Nabawi pada 1999. Buletin yang kini berubah nama menjadi Majalah Nabawi, dikhususkan bagi para mahasantrinya untuk menumbuhkan dan mengembangkan bakat terpendam tulis-menulis mereka.

Berkat didikannya, kini banyak dari mahasantri yang berhasil berkarya dan menghasilkan tulisan yang baik. Sebut saja di antaranya, Moch. Syarif Hidayatullah, dosen yang kini menjadi Ketua Jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah itu, menulisCakrawala Linguistik Arab. Dan masih banyak lagi karya mahasantri lainnya.

Keteladanan dan Karya-Karya Ilmiah.

Kyai yang merupakan Profesor kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 ini, tampaknya sangat kuat berpegang teguh pada ayat al-Qur’an yang artinya, :Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Sungguh dahsyat murka Allah Swt. bila kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan!”(Q.S. al-Shaff ayat 1-2).

Baca juga:  Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Mata Ibn Taymiyah, Ibn Katsir, dan Para Ulama Besar

Melalui penghayatan yang serius terhadap prinsip ayat ini, beliau selalu berupaya memadukan antara ucapan dan tindakan. Ucapan yang tidak disertai tindakan riil, tidak akan mendapat apa-apa kecuali murka Allah Swt. yang maha dahsyat. Konsistensi untuk memadukan ucapan dengan tindakan itulah yang beliau tunjukkan pada para mahasantrinya.

Karena itu pula, kala beliau memberikan petuah tulis-menulis pada para mahasantrinya, beliau juga meneladankannya. Beliau mempraktikkan apa yang dipetuahkan itu. Kala beliau menyuruh para mahasantrinya untuk mengirim artikel ke berbagai media massa, beliau telah terlebih dahulu mengirimkan artikel-artikelnya ke sana.

Ulama yang mengantongi gelar S3 dari Universitas Nizamia Hyderabad ini berpendapat, bahwa mengajak tidak cukup hanya dengan lisan atau petuah-petuah belaka, melainkan juga harus diiringi tindakan dan keteladanan. Beliau acap menyitir ucapan hikmah: “al-Da’wah laisat mujarrada tablighin, wa lakin akhlaq wa suluk.”

Dakwah, dalam kontek ini mengajak mahasantrinya untuk mentradisikan tulis-menulis, tak cukup hanya mengajak secara lisan, tapi melalui keteladanan. Sebab, justru di tingkat keteladanan itulah, al-mad’u (orang yang diajak) akan kian tergiur untuk meneladaninya. Bila timbang, bobotnya lebih berat pada aspek keteladanan ketimbang petuah. Semua orang bisa ngomong, tapi pada tataran keteladanan, belum tentu. Itulah nilai lebih dakwah keteladanan.

Keteladanan tulis-menulis itu misalnya, ditunjukkan melalui berbagai tulisan ilmiahnya di berbagai media massa; HU Republika, Pelita, Panji Masyarakat, Amanah, Gatra, dan lain sebagainya. Juga melalui karya-karya ilmiahnya, baik karya pribadi maupun karya terjemahan.

Karya-karya ilmiah beliau sampai saat ini jumlahnya mencapai 48 buku. Di antaranya; Memahami Hakikat Hukum Islam, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Kritik Hadis, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam.

Buku yang lain seperti Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadis, Islam Masa Kini, MM Azami Pembela Eksistensi Hadis, Pengajian Ramadan Kiai Duladi, hadis-hadis Bermasalah, Haji Pengabdi Setan, Kriteria Halal dan Haram, Islam di Amerika, Isbat Ramadhan Syawal dan dzulhijjah, Ijtihad Terorisme Liberalisme, al-Thuruq al-Shahihah fi Fahmi Sunnah al-Nabawiyah.

Melihat bukti-bukti produktifitasnya itu, kiranya tidak salah bila alumni Magister Universitas King Saud Riyadh Saudi Arabia dan murid Prof Dr Muhammad Mustafa Azami ini, dijadikan sebagai teladan bagi kaum santri khususnya, dalam dunia tulis-menulis. Beliau juga layak desebut sebagai “kyai yang penulis dan penulis yang kyai”.

Karenanya, sebagai santri yang secara genetika telah memiliki bakat tulis-menulis dari moyang ulama klasik, sudah seharusnya kita gali tradisi adiluhung itu untuk kita hidupkan kembali. Tradisi itu harus kita pegang erat-erat. Sebab hanya dengan cara itulah, keilmuan Islam tidak akan terkubur oleh kematian generasinya, dan akan kian tersebar ke berbagai penjuru dunia. wa Allah a’lam bi al-shawab.

Komentar

Nurul H. Maarif

Nurul H. Maarif

Pengasuh Pesantren Qothratul Falah Lebak Banten. Doktor UIN Syarif Hidayatullah. Dosen di UIN SMH Serang Banten dan STAI La Tansa.
Nurul H. Maarif

Latest posts by Nurul H. Maarif (see all)

  •  
    1
    Share
  • 1
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *