Selain Piring dan Daun Pisang, Ini Wadah Alternatif yang Biasa Dipakai Santri untuk Makan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Santri, utamanya yang ada di pesantren-pesantren salafiyah identik dengan pribadi-pribadi yang santun, tekun belajar, dan tabah dalam kekurangan. Qanaah kalau istilah agamanya, neriman kalau bahasa Jawanya.

Bisa juga dikatakan pandai memanfaakan apa pun untuk keperluannya. Ibarat pepatah tak ada rotan akar pun jadi, santri bahkan bisa rumput pun jadi pilihan. Demikian pula keadaannya dalam hal makan ala santri.

Soal makan, kita biasa memakai piring untuk wadahnya. Baik piring dari beling maupun piring plastik. Begitupun para santri, piring beling dan piring plastik juga akrab mereka gunakan. Tapi kebanyakan memilih piring plastik karena lebih praktis, mudah disimpan, dan tidak mudah pecah.

Baca juga:  Ini Bukti Betapa Mandirinya Pesantren dalam Mengolah Sampah, Limbah, dan Air

Lalu, bagaimana jika tidak ada piring? Kalau kebanyakan orang desa selain piring bisa juga pakai daun pisang untuk alas makan bersama. Tapi selain dengan daun pisang, santri punya solusi lainnya lo.

Mau tahu? Berikut ini 5 wadah alternatif yang dipakai oleh para santri untuk alas makan selain piring dan daun pisang.

1. Nampan atau Baki, Paling Favorit

Ada nampan dari bahan plastik, dari kayu dan dari enamel. Yang paling murah nampan dari plastik. Kalau yang agak lumayan dan mudah dibersihkan nampan berbahan enamel. Untuk nampan dari kayu paling jarang dipakai atau ditemukan di dapur umum santri.

Nampan dari plastik dan dari enamel adalah yang paling favorit dipakai. Selain ukurannya besar, dengan bentuknya yang bulat maka acara makan bersama akan lebih muat orang banyak. Untuk memaksimalkan ruang lingkaran ketika anggota ada trik tersendiri.

Baca juga:  Wah, Ternyata Ini Toh 5 Pertanyaan yang Sering Mengharukan bagi Santri
Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *