Selain Piring dan Daun Pisang, Ini Wadah Alternatif yang Biasa Dipakai Santri untuk Makan

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

DatDut.Com – Santri, utamanya yang ada di pesantren-pesantren salafiyah identik dengan pribadi-pribadi yang santun, tekun belajar, dan tabah dalam kekurangan. Qanaah kalau istilah agamanya, neriman kalau bahasa Jawanya.

Bisa juga dikatakan pandai memanfaakan apa pun untuk keperluannya. Ibarat pepatah tak ada rotan akar pun jadi, santri bahkan bisa rumput pun jadi pilihan. Demikian pula keadaannya dalam hal makan ala santri.

Soal makan, kita biasa memakai piring untuk wadahnya. Baik piring dari beling maupun piring plastik. Begitupun para santri, piring beling dan piring plastik juga akrab mereka gunakan. Tapi kebanyakan memilih piring plastik karena lebih praktis, mudah disimpan, dan tidak mudah pecah.

Lalu, bagaimana jika tidak ada piring? Kalau kebanyakan orang desa selain piring bisa juga pakai daun pisang untuk alas makan bersama. Tapi selain dengan daun pisang, santri punya solusi lainnya lo.

Mau tahu? Berikut ini 5 wadah alternatif yang dipakai oleh para santri untuk alas makan selain piring dan daun pisang.

1. Nampan atau Baki, Paling Favorit

Ada nampan dari bahan plastik, dari kayu dan dari enamel. Yang paling murah nampan dari plastik. Kalau yang agak lumayan dan mudah dibersihkan nampan berbahan enamel. Untuk nampan dari kayu paling jarang dipakai atau ditemukan di dapur umum santri.

Baca juga:  Saat Kehabisan Bekal, Beginilah 5 Cara Unik dan Sederhana ala Santri untuk Menyiasati Menu Makan

Nampan dari plastik dan dari enamel adalah yang paling favorit dipakai. Selain ukurannya besar, dengan bentuknya yang bulat maka acara makan bersama akan lebih muat orang banyak. Untuk memaksimalkan ruang lingkaran ketika anggota ada trik tersendiri.

Dengan aba-aba “Gaya Miring, Kang!” maka seketika anggota makan bersama membuat posisi lingkaran dengan posisi badan menghadap ke samping. Kalau seluruh badan menghada ke nampan jelas butuh ruang lebar. Tapi dengan posisi miring, maka nampan akan memuat lebih banyak anggota yang makan dari nampan tersebut. Asyik ya..?

2. Plastik Kemasan Krupuk

Tak ada nampan atau pas antrian nampan sudah banyak, alternatif ada di kantin. Biasanya ada kerupuk. Bukan mau membeli semua kerupuknya, tapi mencari yang tinggal sedikit untuk dibeli lalu plastik kemasannya bisa dibuat alas makan. Biasanya kerupuk jenis Palembang dikemas dalam plastik besar. Itulah yang diincar untuk jadi wadah makanan.

3. Wajan

Ini pasti tidak lazim untuk orang luar pesantren. Tapi di pesantren banyak lo hal yang aneh. Nggak ada piring, nampannya antri, plastik dikantin cuma kecil-kecil, wajan pun jadilah. Mereka pindahkan dulu sayur yang baru matang ke wadah lain, lalu tuang nasi yang sudah lebih dahulu matang ke dalam wajan, lalu guyur dan tuangkan sayur di atasnya. Segera serbu sebelum kehabisan.

4. Cobek

Masih pakai cobek, kan? Atau sudah beralih memakai blender untuk melumatkan bumbu? Nah, cobek yang biasanya berpasangan dengan ulek-ulek ini bisa lo jadi alternatif santri untuk alas makan. Maklum, di pesantren yang masih menjaga tradisi memasak dan ada dapur umum, biasanya tersedia cobek berukuran jumbo.

Baca juga:  Saat Boyongan dari Pesantren, Ini Lho Tugas yang Menanti Santri di Masyarakat

Kalau lagi sepi santri yang ngulek (menggerus bumbu) cobek jumbo ini bisa jadi pilihan untuk wadah makan. Apalagi bercampur dengan sisa-sisa pengulekan bumbu, rasanya tambah sedap. Lumayan untuk tambah-tambah tingkat pedasnya kalau cabe pas lagi mahal.

5. Bancik Khusus alias Nampan Permanen

Sebenarnya, kata bancik dalam KBBI artinya kuda-kuda dari kayu yang menahan berat gendang, biasanya berbentuk seperti dua huruf x yang dihubungkan titik silangnya. Tapi bancik dalam kamus pesantren arti dan kegunaannya lain lho.

Bancik kalau di pesantren adalah pijakan kaki yang merupakan akses yang menghubungkan berbagai jalur di pesantren. Antar asrama, ke masjid, kadang juga ke madrasah. Terbuat dari semen, batu ataupun batako. Tujuannya agar tidak usah memakai sandal. Biasanya dipasangi tulisan “SUCI” agar orang luar yang masuk pesantren tidak semabrangan mengijakkan sepatu atau alas kaki.

Ini nih yang langka. Ada bancik khusus buat makan. Bentuknya persegi ataupun bulat. Terbuat dari bata dan semen plester halus. Kalau mau dipakai cukup dibersihkan dengan dicuci dan disikat. Habis makan tinggal siram air lalu ditutup dengan plastik atau penutup khusus. Praktis dah.

Itulah 5 alas makan ala santri selain piring dan daun pisang. Buat yang pernah mengalami silakan tersenyum. Buat yang belum pernah mondok, jangan jijik, semua akan asyik pada waktunya, hehehe.

Komentar

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *