Selain Hal Positif, Ini 4 Hal Negatif dalam Yasinan yang Harusnya Dikurangi dan Dihilangkan

  • 8
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

DatDut.Com – Soal hal positif dalam yasinan sudah dijelaskan. Sebagai perimbangan, kali ini ada hal-hal yang negatif pula dalam jamaah yasinan.

Yang namanya acara perkumpulan dan oleh berbagai macam orang dalam masyarakat tentu sifatnya beda-beda. Demikian pula taraf pendidikan dan pengetahuan keagamaannya.Karena itulah hal-hal negatif bisa saja muncul dalam perkumpulan itu.

Nah, tanpa harus menghilangkan dan melarang adanya jamaah yasinan, hal-hal negatif alam yasinan sebenarnya bisa diminimalisir atau justru dihilangkan. Tinggal kebijakan dan cara dakwah tokoh setempat. Nah, apa saja hal negatif yang biasa muncul dalam jamaah yasinan? Ini rinciannya.

1. Berlebihan Menjamu hingga Kedodoran Anggaran

Demi memuliakan tamu, ada sebagian masyarakat yang termasuk berlebihan dalam membuat hidangan. Hal itu didasari dua kemungkinan. Bisa jadi tuan rumah benar-benar ikhlas ingin memuliakan para tamu, namun bisa juga karena gengsi kalau nggak menyuguh dengan hidangan yang enak-enak.

Menyikapi dan mengikis kebiasaan ini, ada jamaah yang sampai membuat kesepakatan soal hidangan.  Misalnya batasan kue, minuman dan makanan yang disajikan. Ada juga kesepakatan membatasi pengeluaran hanya berdasar iuran yang terkumpul.

Asal tahu saja, untuk meringankan beban anggararn belanja untuk konsumsi kegiatan ini, biasanya jamaah yasinan punya iuran dengan nominal tertentu.

Jadi tidak tepat alasan orang yang anti tahlilan yang melarang tahlilan dengan dalih tindakan sebagian jamaah yang berlebihan menghidangkan makanan hingga hutang-hutang.

Baca juga:  Jelang Idul Adha, Ternyata Banyak Tradisi Unik di Berbagai Daerah, Mulai Mepe Kasur hingga Manten Sapi

2. Ada Juga Ghibahnya

Dimanapun perkumpulan pasti tak lepas dari obrolan. Bukan hanya obrolan para ibu, obrolan para bapak juga tak luput dari menggunjing. Dalam jamaah yasinan pun terkadang ada yang sempat ngobrol yang akhirnya menjadi menggunjing atau ghibah.

Salah satu cara jitu yang sering diterapkan oleh para tokoh agama adalah mengisi waktu luang usai acara inti dengan pengajian. Atau biasanya untuk meminimalisir, setelah acara makan-makan segera jamaah membubarkan diri.

3. Asap Rokoknya Bisa Buat Megap-megap

Rokok memang tak bisa lepas dari kehidupan para bapak. Mayoritas para bapak dalam jamaah yasinan adalah perokok. Khususnya di desa-desa. Sambil menunggu jamaah lainnya datang ataupun setelah makan hidangan, kegiatan paling nyaman adalah merokok.

Nah, bayangkan kalau jamaah yang berjumlah 50 an orang bapak-bapak dan minimal 40 di antaranya merokok bersama. Bisa-bisa asapnya mirip pengasapan nyamuk.

Asap rokok inilah yang menjadi penghalang bagi orang alergi asap rokok untuk ikut hadir dan bergabung dengan jamaah yasinan. Kalaupun ikut, tentu memilih tempat yang sirkulasi udaranya tidak terpenuhi asap. Kadang juga memilih tempat duduk di emperan supaya bisa bernapas lega.

4. Kurang Disiplin Waktu

Budaya jam karet jugga tak ketinggalan melengkapi acara jamaah yasinan. Memang hanya sebagian saja. Sebagian yang lain masih termasuk tepat waktu.

Baca juga:  Belajar Memaknai Hidup dari 5 Filosofi Makanan Jawa Ini

Jam karet biasa terlaku untuk jamaah yasinan yang waktunya memilih setelah salat Isya’. Kalau namanya setelah Isya, maka jam karetnya bisa molor hingga jam 21 baru dimulai.

Menyiasati jam karet ini, sebagian jamaah yasin memilih waktu setelah salat maghrib. Untuk lebih semarak dan menghiasi tempat tuan rumah dengan ibadah, maka salat Isya diadakan di tempat yasinan itu juga.

Cara ini cukup ampuh mengurangi keterlambatan anggota. Selain itu juga menambah nilai positif dengan diadakannya salat berjamaah di rumah anggota yang mendapat giliran tempat yasinan.

Itulah 4 hal negatif yang sering timbul dalam jamaah yasinan sekaligus cara penanganannya oleh kalangan mereka sendiri.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    8
    Shares
  • 8
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close