Ini Sejarah Perang Arab-Israel di Era Modern Ketika Pan-Arabisme Kontra Zionisme

  • 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

Dibaca: 1355

Waktu Baca6 Menit, 34 Detik

DatDut.Com – Dunia Arab kini tengah tercabik dalam konflik berkepanjangan yang seolah dijadikan panggung peperangan multilateral dengan berbagai macam aktor, skenario dan kepentingan. Jutaan warga sipil menjadi korban, terlunta-lunta dalam pelarian, harus menahan dingin dan lapar di tenda-tenda pengungsian atau tewas sia-sia.

Yang tak kalah memilukannya adalah kenyataan bahwa pihak-pihak yang berseteru adalah bangsa Arab sendiri, terlepas dari ideologi apa pun yang mereka memiliki karena bahkan sesama penganut Sunni pun mereka saling menyerang satu sama lain, meskipun tidak dalam porsi yang besar.

Namun, di luar fakta yang terjadi saat ini, apakah sebenarnya bangsa Arab sarat akan konflik antar mereka sendiri dan tidak pernah bersatu?

Jawabannya, pernah. Tanpa menilik segala macam motif yang melatarbelakangi masing-masing negara yang berkoalisi, mereka pernah berada dalam satu barisan dalam melawan eksistensi entitas baru yang didirikan oleh gerakan Zionis, negara Israel. Konflik besar yang pernah terjadi antara Arab dan Israel itu secara singkatnya adalah sebagai berikut:

[nextpage title=”Perang Arab-Israel 1948″]

Perang Arab-Israel 1948

Mandat PBB tahun 1947 memutuskan untuk membagi wilayah Palestina di mana kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Hal itulah yang diprotes oleh negara-negara Arab tetangga Palestina sehingga menyulut konflik bersenjata.

Selang sehari setelah diproklamirkannya negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948, koalisi negara Arab yang terdiri dari Mesir, Suriah, Yordania, Iraq, Lebanon dan beberapa negara lain melancarkan operasi militernya.

Namun di luar dugaan, Israel yang masih seumur jagung itu berhasil memenangkan peperangan, bahkan merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB Britania Raya, Palestina. Harga diri bangsa Arab tercabik oleh peristiwa ini dan hal itu mengantar pada konflik lanjutan di tahun-tahun berikutnya.

[nextpage title=”Perang Enam Hari 1967″]

Perang Enam Hari 1967

Pada bulan Mei tahun 1967, Mesir mengusir United Nations Emergency Force (UNEF) dari Semenanjung Sinai. Pasukan PBB itu berpatroli di Sinai sejak tahun 1957 selepas invasi Israel ke wilayah itu pada 1956. Karena tekanan internasional terutama Uni Soviet dan Amerika Serikat, Israel menarik mundur tentaranya dan wilayah itu menjadi zona demiliterisasi.

Selanjutnya Mesir mempersiapkan pasukan di perbatasan dan memblokade selat Tiran yang menjadi jalur masuk kapal Israel dari Laut Merah ke Teluk Aqaba, lalu memanggil negara-negara Arab lainnya untuk berkoalisi.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan pada 5 Juni 1967 Israel mendahului serangan dengan menghancurkan pangkalan angkatan udara Mesir. Yordania meresponsnya dengan menyerang Yerusalem Barat dan Netanya.

Perang itu melibatkan Mesir, Yordania dan Suriah dibantu Iraq, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair melawan Israel. Pada akhirnya, Israel berhasil menguasai Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat dan Golan.

[nextpage title=”Perang Yom Kippur 1973″]

Perang Yom Kippur 1973

Perang Yom Kippur berawal pada 6 Oktober 1973 saat Mesir dan Suriah menyerbu Israel. Mereka mendapatkan dukungan aktip dari Saudi Arabia, Libya, Iraq, Yordania, Aljazair, Maroko, Sudan, Lebanon, Tunisia bahkan dilaporkan juga bahwa Kuba dan Korea Utara juga ikut serta.

Baca juga:  Ini Keistimewaan Masjidil Aqsa dan Palestina dalam Alquran dan Hadis

Perang diawali dengan ditembusnya benteng Bar Lev oleh pasukan Mesir. Benteng Bar Lev adalah tanggul pasir setinggi 20-an meter dengan sudut inklinasi 45 derajat yang dibangun Israel di sepanjang tepian Sinai dengan maksud untuk menghalangi laju pasukan Mesir jika mereka kembali berulah pasca Perang 1967.

Berhasil menyeberangi ke Sinai, pasukan Mesir menerapkan strategi payung udara dengan menggunakan rudal anti serangan udara untuk mengiringi gerak maju pasukan daratnya.

Sementara di sisi timur Israel, Suriah merangsek dengan ribuan kendaraan lapis bajanya. Superioritas Israel kembali dibuktikan, sempat kewalahan, Israel memobilisasi tentara cadangan dan memukul balik Mesir. Serangan frontal Suriah pun akhirnya bisa dihadang.

Melihat gelagat Uni Soviet dan Amerika Serikat yang bersiap untuk terlibat, Raja Saudi, Faishal bin Abdul Aziz, mengumumkan pembatasan produksi minyak yang mengakibatkan krisis energi di negara-negara industri. Dewan Keamanan PBB akhirnya mengadakan rapat dan mengeluarkan resolusi 339, gencatan senjata pun sementara tercapai.

Dari ketiga perang besar itu, Perang Yom Kippur-lah yang paling mengancam eksistensi Israel. Hal itu diakui oleh Yitzhak Rabin yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Israel pada 1992 dan berakhir pada Nopember 1995 saat dia diberondong peluru oleh seorang pemuda Yahudi ekstrim.

Kini seiring dengan pergantian millenium, perseteruan di Timur Tengah mengusung tema baru, dari perang melawan negara Zionis menjadi perang dengan disaksikan oleh negara Zionis.

Perang Yom Kippur dianggap sebagai sebuah perang yang berhasil mengangkat kembali martabat bangsa Arab di hadapan Israel. Mesir dan Suriah sebagai motor penggerak berhasil menggalang kebersamaan negara-negara Timur Tengah dalam melawan hegemoni Zionis Israel.

Namun sayangnya, momen bersejarah itu sekaligus menjadi penanda terpecahnya koalisi Arab karena masing-masing negara akhirnya menempuh jalan sendiri-sendiri dan berbeda dalam hubungannya dengan negeri Zionis. Hal ini tentu memperngaruhi peta geopolitik di kawasan kaya minyak itu, hingga kini.

Diawali pada 1977, saat Presiden Mesir, Anwar Sadat, menandatangani kesepakatan damai dengan Israel. Mesir yang semula menjadi bad boy bagi Israel, telah berubah haluan. Kesepakatan damai yang dikenal dengan Perjanjian Camp David itu praktis mencoret Mesir dari daftar negara yang memiliki potensi besar dalam mengancam eksistensi Israel.

Kesepakatan itu memberi mandat kepada Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai yang direbutnya dari Mesir. Pasca perjanjian itu, Anwar Sadat tewas dalam serangan yang dilakukan oleh beberapa tentara Mesir saat menghadiri parade militer dalam rangka memperingati Perang Yom Kippur pada 6 Oktober 1981.

Yordania menyusul Mesir dengan menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1994. Atas ditandatanganinya perjanjian ini, Israel bersedia mundur dari wilayah Yordania yang berhasil diduduki saat perang, begitu juga sebaliknya. Bahkan dikabarkan, Yordania dan Israel telah menjalin kerjasama dalam impor gas dan penyediaan air bersih.

Iraq memilih jalan lain dengan menolak berdamai dengan Israel. Pada penghujung 1970-an Iraq memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir. Dalam Perang Teluk 1 tahun tahun 1991, Iraq menghantam 2 kota Israel, Tel Aviv dan Haifa, dengan beberapa buah rudal Scud-B buatan Soviet yang dirakitnya sendiri, al-Hussein.

Baca juga:  Eep: Pendukung Ahok Jangan Cengeng setelah Kalah!

Kekuasaan Saddam Hussein berakhir saat Perang Teluk II tahun 2003, ditandai dengan invasi tentara Amerika Serikat dengan dalih melucuti senjata pemusnah massal. Tuduhan yang tak terbukti itu akhirnya berhasil mengeliminasi 1 lagi negara kontra Israel di kawasan Timur Tengah.

Bermula dari tuntutan rakyat yang terinspirasi oleh gerakan Arab Spring, konflik dalam negeri Libya berlanjut sampai pada keterlibatan pasukan NATO. Bersamaan dengan diberlakukannya zona larangan terbang di wilayah udara Libya, agresi tentara NATO dilancarkan. Jatuhnya Tripoli berlanjut dengan tewasnya sang presiden, Muammar Qaddafi, tahun 2011.

Pada 1982, Suriah kembali terlibat konflik bersenjata dengan Israel saat negeri Zionis itu menginvasi Lebanon. Salah satu peristiwa spektakuler yang melibatkan Suriah dan Israel adalah insiden Lembah Bekaa.

Israel berhasil merontokkan fasilitas radar Suriah yang didukung dengan teknologi canggih Uni Soviet dan memenangkan pertempuran udara dengan Angkatan Udara Suriah.

Hingga saat ini, Suriah masih tercabik perang dengan tema yang komplek yang melibatkan negara-negara yang sebagian di antaranya pernah berperang melawan Israel pada masa lalu. Satu per satu penentang hegemoni Israel di Timur Tengah tumbang. Saat ini pemerintahan baru pun masih menghadapi pergolakan.

[nextpage title=”Yinon Plan”]

Yinon Plan

Pada 1982, penasehat senior Kementerian Urusan Luar Negeri Israel, Oded Yinon, mengeluarkan dokumen yang mengungkapkan upaya bagi dominasi di wilayah Timur Tengah. Ada dua konsep dasar dalam dokumen tersebut.

Pertama agar bisa bertahan hidup, Israel harus mendominasi wilayah dan menjadi kekuatan dunia. Kedua, keberhasilan Israel di kawasan memerlukan pemecahan negara Arab jadi negara-negara kecil sehingga kehilangan potensinya.

“Semua negara Arab dibangun berupa istana pasir yang rapuh dan menyimpan minyak“, katanya dalam ‘A Strategy for Israel in the 1980s’.

Entah bagian dari rencana itu atau bukan, tampaknya dunia Arab kini tengah mengalami musibah besar. Bukan tidak mungkin, banyak orang di luar sana yang akan membangun logika bahwa inilah “peradaban” yang dibuat oleh orang-orang Islam, di mana ekstrimisme berkecamuk dan fanatisme yang mengatasnamakan agama merusak sendi-sendi kemanusiaan.

Islam yang seharusnya membangun dideskripsikan sedemikian rupa sebagai nilai spiritual yang destruktip karena dekat dengan kekerasan. Hal itu akan dengan mudah mengantarkan orang pada islamofobia.

Yang tidak kalah tragis adalah bahwa Palestina yang semula menjadi isyu sentral konflik Arab-Israel, kini wilayahnya semakin menyusut jauh lebih kecil dari saat pertama kali Israel diproklamasikan.

Na’udzubillah.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Ahmad Indra
follow me
Latest posts by Ahmad Indra (see all)
  • 7
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *