Sejarah dan Alasan Gelar Haji di Indonesia

  • 18
  •  
  •  
  •  
    18
    Shares

DatDut.Com – Sepulang dari ibadah haji di Tanah Suci, masyarakat Indonesia biasanya akan memberi gelar para jemaah haji dengan sebutan Haji (H.) bagi laki-laki, dan Hajjah (Hj.) bagi perempuan.

Di samping sebagai bentuk pengakuan identitas bahwa seseorang tersebut telah melaksanakan ibadah haji, gelar ini juga berdampak dalam perubahan kedudukan sosial di masyarakat.

Sudah menjadi rahasia publik di masyarakat bahwasanya penyandang gelar ini memiliki aura kesalehan serta status sosial yang sedikit lebih tinggi di banding masyarakat pada umumnya.

Tak ayal, banyak masyarakat yang berlomba mengumpulkan pundi-pundi uang agar bisa segera menunaikan ibadah haji kemudian mendapatkan gelar perubah status sosial ini.

Namun, sebenarnya dari mana sih penyebutan gelar ini bermula?

Ternyata, gelar ini memiliki keterkaitan tertentu dengan pemerintahan kolonial Belanda. Tatkala itu, banyak terbentuk organisasi-organisasi Islam yang dirasa bisa mengancam Belanda.

Adapun tokoh-tokohnya adalah mereka yang telah pulang dari Tanah Suci, kemudian membawa ajaran islam serta mengajak penduduk setempat untuk memiliki jiwa nasionalis.

Beberapa di antaranya termasuk pendiri organisasi terbesar di Nusantara saat ini, yaitu K.H. Hasyim Asyari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama dan K.H. Ahmad Dahlan pendiri Organisasi Muhammadiyah.

Baca juga:  Penjelasan Lengkap tentang Sifat Wajib 20

Dari sinilah, pemerintah kolonial Belanda mulai terasa terancam karena semakin tahun semakin banyak umat muslim Indonesia yang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Jika hal ini terus berlanjut, maka jiwa persatuan dan nasionalis masyarakat Indonesia akan semakin menguat.

Akhirnya Pemerintah Belanda pun mulai membuat kebijakan-kebijakan politik guna membatasi pergerakan dakwah Islam nasionalis.

Di antaranya dengan memberi gelar Haji dan Hajjah kepada jamaah laki-laki dan perempuan setelah pulang dari Tanah Haram.

Tentu saja kebijakan saat itu berguna bagi Belanda, karena dari sanalah mereka bisa memetakan langkah pergerakan organisasi-organisasi Islam. Peraturan ini pun berlaku dari tahun 1903 sampai Indonesia merdeka.

Namun ternyata kebiasaan ini tetap ada setelah Indonesia merdeka bahkan hingga sekarang. Alhasil, kebiasaan ini menjadi adat tak tertulis dan selalu dipakai di masyarakat Indonesia.

Para ulama sendiri pun masih berselisih pendapat mengenai hukum pemberian gelar haji ini.

Baca juga:  Agar Ziarah Kubur Tidak Bidah, Baca 5 Penjelasan Ini

Ada yang melarangnya karena penyebutan ini tak ada anjurannya dari Rasulullah SAW serta bisa memberikan efek negatif bagi penyandangnya di antara sifat riya.

Pendapat ulama lain, memperbolehkan penyebutan gelar ini karena sudah menjadi bagian dari tradisi dan bisa memotivasi menyandangnya agar lebih giat belajar beribadah serta mempelajari islam lebih mendalam.

Sebetulnya tak ada masalah dari penyebutan gelar Haji dan Hajjah ini karena memang tak ada larangan baik dari Alquran maupun Hadis.

Namun, perlu ditekankan bahwasanya haji merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah serta bagian dari proses penyempurnaan rukun Islam yang kelima.

Bukan sebagai bahan kontestasi untuk bisa meninggikan derajat seseorang di kehidupan sosial bermasyarakat.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

M. Afzainizam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
M. Afzainizam
  •  
    18
    Shares
  • 18
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close