Sarung dan Peci, Dua Simbol Nasionalisme yang Beda Nasib

  • 40
  •  
  •  
  •  
    40
    Shares

DatDut.Com- Pernahkah kamu jalan-jalan ke mall pakai sarung dan peci?  Kalau belum pernah silahkan dicoba sekali-kali, dan rasakan sensasinya.

Kalau tidak dikira habis sunat, ya paling ditanya mau tahlilan di mana?Itu sih masih lebih beruntung, daripada dikira teroris bawa bom.

Seperti video santri yang dipaksa polisi membuka kardus bawaanya yang viral setahun yang lalu itu. Bisa dibayangin kan, bagaimana jengkelnya kang santri itu?

Padahal sarung itu kurang nasionalis apa coba. Seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari sarung.

Dipakai untuk shalat, ronda, tahlilan, pengajian, khitanan, tidur, nimang bayi, pasti pakai sarung.

Bahkan sarung juga dipakai permainan ninja-ninjaan (buat anak-anak bukan bapak-bapak) sampai main koprok dan adu ayam pun pakai sarung. 

Sampai-sampai peran maling di sinetron juga pasti pakai sarung buat tutup wajah. Kenapa nggak pakai helm saja sih? Heran.

Di balik sisi merakyatnya, sarung ternyata tidak lantas membuat pemakainya mendapatkan kesetaraan hak sebagaimana pemakai celana.

Masuk kampus saja tidak boleh pakai sarung, padahal kampus Islam. Masuk kantor juga tidak boleh baik punya pemerintah apalagi swasta.

Bahkan teman saya pernah mau masuk ke mall dicegat pak satpam gara-gara memakai sarung karena dianggap tidak sopan.

Hello, terus itu yang pakai kolor doang, atau yang pakai rok mini itu sopan? Benar-benar pelanggaran hak asasi persarungan.

Tetapi ya mau bagaimana lagi, dunia sudah terlanjur terkontaminasi dengan westernisasi. Dibangun paradigma bahwa sarung itu kolot atau simbol conservatism yang menolak kemajuan.

Kalau mau dianggap kekinian ya harus mengikuti trend fashion yang sedang booming.

Sedih kalau diceritain mah. Ibaratnya kacang lupa istrinya eh kulitnya. Sarung kalau kita telusuri sejarahnya pernah dijadikan simbol politik identitas melawan Belanda.

Baca juga:  Jangan Tertipu dengan Penampilan Orang yang Sok Agamis

Menurut sejarawan NU Agus Sunyoto tercatat 112 penyerangan oleh kalangan pesantren kepada belanda selama tahun 1800-1900. Namanya juga pesantren pasti pakai sarung iya toh?

Akhirnya Belanda yang merasa kewalahan dengan serangan-serangan itu menyimpulkan bahwa pesantren harus disingkirkan karena fanatisme kebangsaan rakyat indonesia tumbuh dari pesantren. Caranya dengan membuat politik etis.

Rakyat indonesia boleh bersekolah di sekolah bikinan belanda yang tujuannya agar lulusanya bekerja untuk mereka. Walhasil tidak ada lagi pemberontakan, karena semua sudah jadi anak buah mereka.

Nah dari sinilah rakyat indonesia dikotak-kotakan (maaf bukan kampanye), yang mau belajar agama silahkan masuk pesantren. Yang mau belajar ilmu pengetahuan, silahkan masuk sekolah Belanda.

Ternyata kaum sarungan merespon kebijakan tersebut dengan senjata hadis rasul “man tasyabbaha bi qaumin, fahuwa minhum”. Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum itu.

Maka kalau anak-anak yang belajar di sekolah belanda pakai celana. Santri pakai sarung. Mereka pakai jas, santri pakai baju koko.

Mereka pakai blangkon, santri pakai peci. Mereka pakai sepatu, santri pakai bakiak. Begitulah bentuk perlawanan santri kepada penjajah dan cara mereka menumbuhkan rasa nasionalisme kepada bangsanya.

Sarung adalah simbol nasionalisme yang tidak terbantahkan. Dibanding celana ya lebih nasionalis sarung. Walaupun sarung asalnya dari Yaman, setidaknya bukan dari negeri penjajah seperti celana.

Tapi mirisnya setelah negeri ini merdeka. Sarung diintimidasi, direndahkan, tidak diakui, bahkan tidak boleh ikut upacara kemerdekaan. Pokoknya tidak jauh beda seperti nasib Cinderella atau Bawang putih yang dianaktirikan. Hiks Mana tisu!.

Beda lagi dengan nasib peci. Teman seperjuangan sarung tapi nasibnya lebih beruntung. Ia tidak mengalami intimidasi.

Baca juga:  Menguak 5 Dalil Serampangan Wahabi dalam Memvonis Bidah Amalan Umat Islam

Boleh masuk kantor, mall, kampus bahkan gedung pemerintahan pun tetap leluasa. Biasa dipakai ustaz untuk betibadah, dan dipakai koruptor saat sidang.

Atribut santri tapi dipopulerkan Soekarno yang belajar di sekolah milik Belanda. Ketika di sekolah STOVIA, pemerintah Belanda mewajibkan para siswanya untuk mengenakan pakaian daerahnya masing-masing.

Hanya yang beragama Kristen boleh memakai pakaian Belanda. Tujuannya untuk memberi sekat-sekat antar anak bangsa sehingga tidak bersatu.

Akhirnya Soekarno mencetuskan ide untuk membuat penutup kepala persatuan.

Sebuah peci beludru berwarna hitam yang dibeli di Tanah Abang dari haji Musthofa Ahmad. Makanya sekarang kita menyebut peci hitam dengan peci sukarno atau peci nasional.

Sarung atau peci sama-sama simbol nasionalisme bangsa yang nasibnya berbeda. Selain itu keduanya juga menjadi simbol identitas santri yang eksistensinya mulai diakui. Meski terlambat, tapi tidak apa-apa daripada tidak sama sekali.

Apalagi wakil presiden terpilih juga santri. Mudah-mudahan 17 agustus nanti Kyai Ma’ruf tetap pakai sarung dan peci mewakili santri untuk menghaturkan hormat kepada sang merah putih di Istana Negara.

Jangan mau kalau disuruh pakai celana ya pak kyai! Pakaian penjajah itu. Ha ha.

100 %
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam
  •  
    40
    Shares
  • 40
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close