Unik! Ini Ekspresi Kikuk dan Salah Tingkah Santri Ketika Bertemu Kiai

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Kiai, dalam kalangan santri pesantren adalah figur utama yang menjadi titik pusat dan kehidupan pesantren. Keberadaannya merupakan titik awal terwujudnya sebuah lembaga pesantren, sebagai pembimbing, pengawas, pengelola, sekaligus pemilik langsung dari sebuah lembaga pesantren.

Karena itulah seorang figur kiai sebagai guru keilmuan maupun spiritual memiliki kharisma tersendiri bagi santri. Ditambah bimbingan tatakrama lewat kitab metode dan adab khas pesantren, Ta’lim al-Muta’alim, kiai menjadi sosok paling dihormati oleh semua lapisan santri di pesantren. Sehingga, kondisi bertemu langsung dengan kiai pengasuh merupakan hal istimewa bagi santri. Istimewa, menegangkan, plus menyenangkan.

Nah, soal cara menghormati, mentakdimi dan sopan santun saat kepergok kiai, santri ternyata berbeda-beda cara mengekspresikannya. “Kepergok” digunakan sebagai ungkapan dari tidak sengaja bertemu atau berpapasan sang kiai. Entah di jalan, di tempat kerja bakti atau dimanapun, ketika tanpa sengaja santri bertemu kiainya, maka tingkahnya antar lain seperti berikut ini.

Masing-masing pesantren bisa beda cara mengekspresikan sikap takzim dan hormat kepada kiai, namun intinya sama. Perbedaan yang timbul bisa bermula dari perbedaan tradisi dan budaya kesukuan juga. Berikut ini macam-macam gaya santri saat berpapasan kiainya.

1. Salaman dan Cium Tangan

Ini tergolong cara paling baik dan berani. Mungkin juga dianggap biasa bagi pesantren yang memang membiasakan tradisi ini. Namun bagi pesantren lainnya bisa jadi adalah tindakan berani dan PD. Ini juga tindakan santri ketika kepergok kiai dan tak ada jalan untuk tidak berpapasan dengan kiainya. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali memberanikan diri untuk salaman dan mencium tangan kiai.

2. Diam Mematung

Sebagian rekan saya dari Madura menceritakan bahwa santri di daerah Madura punya cara lain lagi ketika berpapasan atau ada kiai yang melewati mereka. Segala bentuk kegiatan yang sedang dilakukan para santri segera berhenti. Semua santri berdiri, diam mematung sambil menundukkan wajah.

Baca juga:  Jangan Kau Tanya Kenapa Harus Ada Hari Santri, karena Aku Sudah Siap dengan 5 Alasan Ini

Cara menghormati kiai dan keluarganya sejenis pernah dicontohkan oleh salah satu ulama yang dinukilkan kisahnya dalam Ta’lim al-Muta’alim. Dikisahkan oleh Syekh Islam Burhanuddin bahwa pernah ada salah satu ulama besar dari Bukhara yang berulang kali berdiri saat dalam majelis pengajian. Ketika ditanya tentang tindakannya itu, ia mengatakan bahwa ia berdiri untuk menghormati putra gurunya yang masih kanak-kanak dan sedang bermain di jalanan.

3. Diam Merunduk

Ini juga masih cerita rekan saya dari Madura. Selain diam mematung, ada juga ekspresi santri saat berpapasan atau dilalui oleh kiai atau keluarganya yang diwujudkan dengan cara merunduk. Semua kegiatan santri berhenti seketika, lalu para santri itu duduk jongkok dan diam menunduk.

4. Lari atau Menghindar

Bukan karena takut atau menghina. Daripada berpapasan langsung dengan kiai atau keluarganya, sebagian santri ada juga yang memilih kabur. Ini biasa dilakukan ketika jarak dengan kiai masih terbilang aman. Sebelum bertemu, pilih jalan lain. Ini juga tradisi yang pernah saya temui di salah satu pesantren di Lampung.

Ini karena bagi mereka, berpapasan dengan sang kiai lalu menyalami dan mencium tangannya masih merupakan tindakan sangat berani. Memerlukan mental baja. Terlebih ketika kiai tergolong ulama yang punya kelebihan mata batin. Yang jelas, kewibawaan kiai membuat mereka memilih untuk tidak bertemu langsung kecuali sangat terpaksa dan dibutuhkan.

Baca juga:  Lewatilah Masa-masa Galau Jadi Santri! Semua yang Nyantri Pasti Mengalami

5. Ada Juga yang Biasa-biasa Saja

Hormat, takzim pada guru tak harus berupa tindakan unik seperti di atas. Tidak selalu dalam bentuk cara bersalaman dan cara berpapasan. Namun bisa juga dalam ekspresi biasa. Utamanya jika seorang kiai tergolong orang yang amat akrab dengan santri. Maka penghormatan kepadanya oleh santri baru terlihat saat ia membutuhkan bantuan tenaga santri dan sebagainya.

Misalnya santri-santri relawan ndalem yang dituntut untuk bersikap lebih wajar karena bertemu kiai dan keluarganya sudah jadi kegiatan harian mereka. Wujud ketakziman mereka adalah kepatuhan dan ketuntasan tugas yang ditanggungnya.

Santri aktivis bahsul Masail yang diawasi langsung oleh salah satu keluarga pengasuh juga harus terbiasa duduk bersama dan diskusi berbagai masalah dengan kiai. Bahkan kadang harus berdebat juga dalam memahami ungkapan dalam kitab-kitab klasik.

Begitulah uniknya berbagai ekspresi dan cara santri menghormati sosok kiai. Beragam cara dan budaya tradsinya, namun intinya sama. Menghormati sang guru sebagai pembimbing kelimuan maupun spiritual mereka.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close