Saat Politik Menyusup di Setiap Tema Pembicaraan

  • 63
  •  
  •  
  •  
    63
    Shares

DatDut.Com – Badrun kebingungan meskipun hal yang dipikirkan tidak semestinya membuat bingung, karena tidak berkaitan dengan uang bulanan istri ataupun buntunya negosiasi dengan mitra kerja perusahaan tempatnya bekerja.

Hal yang membuatnya bingung itu adalah beberapa potong komentar kalap di sebuah status media sosialnya, yang sampai menyematkan titel pemecah belah umat padanya.

Lho, kok bisa? Justru saya ini meng-counter para pemecah belah itu.. karena bla bla bla dan seterusnya,” dia me-reply si komentator. Namun apa daya, lawan bicaranya nggak ambil pusing.

Materi yang menjadi pangkal persoalan sebenarnya adalah materi lawas yang kembali disundul oleh sebagian pihak selepas kunjungan seorang pengurus PBNU yang sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Yahya Cholil Staquf, ke Israel. Tak lain tak bukan, yakni Islam Nusantara.

Pernyataan defensif Badrun kepada para pencaci tema muktamar NU di Jombang 3 tahun lalu itu dianggap sebagai sebuah aksi pecah belah yang ditujukan pada umat Islam yang tengah bersatu melawan kedhaliman penguasa.

Padahal Badrun hanya ingin meluruskan tuduhan-tuduhan bengis yang ditujukan pada para masyayikh NU yang mendukung tema Islam Nusantara dengan menjelaskan definisinya dari dapur NU, bukan yang lain.

Karena tuduhan-tuduhan semacam itu sejatinya berasal dari pemahaman yang tak menyeluruh dan sangat mungkin berasal dari sumber-sumber yang tak valid.

Distorsi makna telah terjadi sedemikian rupa dan bercampur dengan anasir-anasir lain yang sejatinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam Nusantara.

Salah satunya adalah teori lucu yang mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah sebuah sekte yang digalang untuk mendukung pencalonan kembali Joko Widodo dalam kontes pemilihan presiden tahun depan.

Belum lagi tuduhan bahwa Islam Nusantara hendak mencerabut muslim dari nilai-nilai syariat sehingga nantinya akan muncul ajaran shalat dengan bahasa Indonesia, mengganti kain kafan dengan batik dan ungkapan-ungkapan menggelikan lainnya.

Ternyata, pergumulan pendapat antara Badrun dan si komentator mewakili sekian banyak perseteruan di dunia medsos yang melibatkan dua pihak yang berdiri di pijakan yang berbeda. Yang satu berpijak pada hakikat persoalan, sedangkan yang lain selalu mengaitkannya dengan tema politik.

Dan kita tahu jika kaldu politik sudah dicampurkan dalam pembicaraan maka yang terlibat kadang bukan akal sehat lagi, namun antipasti pada pihak tertentu.

Mereka selalu salah, aku yang benar. Pun pihak-pihak yang enggan berseberangan dengan lawan politik atau bersikap moderat padanya, akan ditempatkan pada kedudukan yang sama dengan lawan politik hingga mereka berkalang hujatan.

Itulah yang ada di benak Badrun saat menyaksikan beranda media sosialnya. Jempolnya nggak tahan untuk menuliskan pembelaan kepada orang-orang alim yang telah dinistakan oleh orang-orang tak mengerti permasalahan. Yang berpijak pada kepentingan pragmatis politis dan enggan mengunyah informasi dari pihak di luar golongan mereka.

Mungkin hal itulah yang menyebabkan orang berkata “Politik itu kotor”.. meski yang semestinya adalah “Politik itu kotor.. karena ulah politisi yang tak bersih”.

Atau mungkin juga hal itulah uang membuat orang berkata “Politik itu kotor”.. karena penuh dengan persangkaan buruk, caci dan hujatan satu sama lain.

Baca juga:  "Ajak Nikah ke KUA" Mungkin Jadi Meme Terfenomenal Tahun 2016 di Jagad Medsos

Jadi, satu hal yang perlu kita ingat adalah jangan membicarakan masalah politik saat makan bersama istri kita karena semua masakan akan terasa lebih pedas dari yang sebenarnya.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

follow me

Ahmad Indra

Pekerja yang tengah mencoba untuk geluti dunia literasi
Ahmad Indra
follow me

Latest posts by Ahmad Indra (see all)

  •  
    63
    Shares
  • 63
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close