Saat Kehabisan Bekal, Beginilah 5 Cara Unik dan Sederhana ala Santri untuk Menyiasati Menu Makan

DatDut.Com – Ada saja cara dan trik para santri untuk menyiasati saat-saat krisis moneter pribadi melanda. Baik santri yang kerja sendiri maupun santri yang masih setia dalam kiriman dari orangtua. Saat masa krisis mereka harus membuang semua sikap gengsi. Termasuk soal menu maka ala santri.

Demi memenuhi tuntutan perut yang keroncongan, sekaligus memenuhi tugas ikut kegiatan mengaji dan lainnya, segera mengisi perut agar kuat belajar adalah pilihan terbaik. Tidak sempat lagi memikirkan standar gizi apalagi harus 4 sehat lima sempurna. Yang penting ada nasi atau tiwul, maka lauk apa pun jadi, yang penting halal dan boleh masuk perut.

Nah, mau tahu cara santri bokek mengganjal perut keroncongan? Yuk intip menu ala santri bokek berikut ini. Jangan nangis ya pemirsaa. Hehehe

1. Makan Nasi Lauk Garam

Ini sepertinya sudah cara umum di masyarakat. Ketika tidak ada lauk dan tidak ada sayur, agar nasi tawar bisa diterima lidah, dicampur sedikit garam. Lumayanlah daripada hambar. Syukur-syukur kalau dapat kelapa untuk diparut. Jadilah nasi krawu sederhana.

Trik ini biasanya hanya dilakukan oleh santri yang memang tidak bergabung dengan kelompok masak. Alasannya mungkin beragam. Dari tidak ada uang untuk ikutan iuran, sampai sedang menjalani pola hidup masak sendiri.

Kalau rekan ada yang tahu si santri makan model begini biasanya juga dibantu dengan memberi atau menawarkan sayurnya. Bagi santri yang benar-benar tidak mau dikasihani, dia akan makan model begini sembunyi sembunyi.

2. Makan Lauk Cobek

Ini cara yang agak lebih nikmat ketimbang makan cuma lauk garam. Tinggal datang ke dapur umum, dan tuangkan nasi hangat-hangat ke dalam cobek umum. Tekan-tekan sedikit dengan menggunakan ulek-ulek, dan jadilah nasi tawar itu bercampur dengan sambal segala rasa sisa penggerusan bumbu.

3. Makan Lauk Wajan

Cara ketiga ini dilakukan juga dengan sembunyi-sembunyi. Menunggu rekan-rekan yang masak normal meninggalkan dapur. Biasanya di dapur juga terdapat wajan umum yang dipakai bergantian.

Kalau ada kelompok masak yang habis masak enak dan berkuah, lumayanlah buat menambah rasa nasi. Kalaupun bukan sayur berkuah, maka sayur oseng-oseng juga menyisakan minyak dan kuah berbumbu di wajannya. Inilah sasaran si santri krisis tadi.

Cukup bermodal nasi putih, lalu dituang ke wajan yang habis digunakan masak sayur. Di oles-oleskan ke wajan, rasanya lumayan buat menambah nafsu makan.

4. Trik Unik Mengakali Pengen Makan Mie Kuah

Pengen makan mie kuah di kantin tapi duitnya nipis? Bagaimana cara unik santri menyiasatinya? Lupakan ego dan gengsi. Masuk kantin beli kerupuk barang satu atau dua bungkus. Para santri lain banyak yang beli mie instan siap santap di kantin.

Kalau jenis mie rebus, biasanya tidak dihabiskan hingga kuahnya. Pasti tersisa. Itulah yang bisa dipakai untuk meredam keinginan yang belum kesampaian.

Mangkok yang ditinggalkan begitu saja dan masih tersisa kuah lumayan banyak. Tinggal kerupuk yang baru dibeli dibuka, diremas biar hancur, lalu masukkan ke dalam kuah mie rebus tersebut. Jadilah kerupuk rasa mie rebus instan. Rasanya nggak jauh amat kok dengan mie yang baru dimakan santri lainnya tadi.

5. Begini Cara Bikin Nasi Gurih ala Santri Miskin

Nasi gurih biasanya dibuat dengan resep khusus. Diberi kunyit hingga memberi warna kuning alami yang menarik. Dengan tambahan bawang goreng dan suwiran daging. Tapi santri saat krisis bekal juga bisa kok membuat nasi gurih.

Caranya dengan memasak nasi dan langsung dicampur garam saat memasaknya. Kadang ada yang aneh-aneh dengan sekalian mencampurkan penyedap rasa. Atau kalau ada sisa bumbu di penyimpanan, dan nggak bisa beli sayuran, ya bumbu seadaanya itu dibuatlah sambal lalu dicampurkan sekalian dengan nasi saat menanak. Tujuannya biar rasa bumbunya merata.

Begitulah sebagian cara santri yang lagi krisis menjalani masa sulitnya. Ngenes ya? Atau justru Anda adalah alumni pesantren yang pernah mengalami salah satu pengalaman diatas? Selamat bernostalgia saja …

Komentar

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
Artikel ini bermanfaat buat Anda? Bagikan ke teman-teman Anda:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*