Puisi Syarif Hade Ini Menampar Keras Posisi Memalukan Kaum Liberal pada Pilkada DKI

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Pilkada DKI 2017 membuka banyak tabir yang selama ini masih samar-samar. Masyarakat diberi pelajaran berharga bahwa ada banyak hal yang terjadi di belakang panggung pra-Pilkada ini.

Masyarakat tahu mana partai politik (parpol) yang konsisten dan berkomitmen, dan mana parpol yang hanya mengejar target jangka pendek. Masyarakat paham mana calon gubernur (cagub) yang bisa dipegang omongannya dan mana yang tidak, mana cagub yang berkualitas dan mana yang hanya dipoles media. Yang paling akhir masyarakat juga paham, mana cagub yang punya kebencian pada umat Islam dan ada otak jahat, mana yang tidak.

Masyarakat juga mulai ngeh mana media yang independen berada di tengah, dan mana yang partisan. Ternyata bukan hanya media abal-abal yang jadi tim hore salah satu partisan, tapi media besar sekalipun tak lagi malu-malu menyebarkan berita dan artikel yang tendensiun mendukung calon tertentu.

Dan, masyarakat lalu jadi paham juga kalau selama ini orang liberal itu tak benar-benar memperjuangkan sesuatu yang luhur, tapi ada tendensi-tendesi tertentu di balik ucapan dan sikapnya.

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) - Bagian 1

Salah satu bukti paling mudah, cek saja status atau twitan di akun medsos pentolan-pentolan kaum liberal terkait Ahok. Tak ada satu pun kritik atas apa yang sudah diucapkan dan dilakukan Ahok. Orang-orang liberal itu rela menjadi cheerleaders di pinggir lapangan, dengan bersorak kegirangan memakai rok mini dan rumbe-rumbe pada apa pun yang dilakukan oleh Ahok. Padahal pada agama, Alquran, hadis, dan ulama, mereka kerap nyinyir kesetanan.

Puisi sastrawan Syarif Hade ini menampar keras fonemena itu. Puisi yang diberi judul “Liberal Itu Memalukan” memberi pesan bahwa menjadi liberal hari-hari ini justru memalukan. Berikut puisi tersebut:

Orang liberal itu
Pada Alquran bisa kritis
Pada hadis tak jarang malah skeptis
Pada ulama mereka sering sinis
Eh, kepada Ahok kayak hewan najis

Pada Ahok
Mereka bisa taklid buta
Membela membabi-buta
Seolah dia tak ada salahnya
Kayak kerbau dicucuk hidungnya

Ucapan Ahok kayak kitab suci
Tindakan Ahok bak para nabi
Selalu dicarikan pembenaran dari sana-sini
Tak peduli memperkosa kalam ilahi
Demi angpao yang masuk kantong sendiri

Hari ini
Menjadi liberal itu memalukan
Tak beda dengan pelacur kelas jalanan
Melambai-lambai pada kekuasaan
Berharap dapat tumpangan

Hari ini
Menjadi liberal itu tak ada kebanggaan
Meski gelar berderetan
Tapi hilang kemerdekaan
Dari kebenaran yang diam-diam menyesakkan

Hari ini, sekali lagi
Menjadi liberal itu seperti melumuri muka dengan kotoran sendiri
Karena tak lebih mulia dari maling kelas teri
Lantaran ilmu yang dipunya bukan untuk kesucian diri
Tapi dipakai untuk melacurkan diri
Demi sesuap nasi

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close