Puisi dan Status FB Syarif Hade Ini untuk Buya dan Para Pembela Si Penista

  • 9
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares

DatDut.Com – Jangan salahkan masyarakat yang bereaksi keras pada siapa pun yang membela si penista! Karena para pembela itu juga sama sekali tidak menunjukkan empati pada perjuangan umat Islam untuk menegakkan keadilan dan memberlakukan semua orang sama di muka hukum! Para pembela itu alih-alih berempati, mereka justru seperti menari-nari di atas penderitaan umat Islam yang dikangkangi oleh hukum dan kekuasaan rezim ini!

Kalau tak mau dan tak siap dapat reaksi keras dari masyarakat, ya berempatilah pada rasa sakit umat Islam akibat dipermainkan oleh hukum dan kekuasaan rezim ini. Apalagi sikap tidak empati itu dipertontonkan di media secara live. Itu sama dengan meledek orang yang sedang kesakitan.

Reaksi keras dari masyarakat dalam bentuk beragam. Ada yang dalam bentuk status FB, twitan, surat terbuka, puisi, bahkan meme. Puisi Syarif Hade ini salah satunya. Puisi ini ditujukan untuk Buya dan para pembela si penista:

Buya
Apalagi yang kau cari?
Senja sudah tinggal tenggelam
Padahal hidup selalu soal akhir catatan

Buya
Umat Islam sedang butuh panglima dan ksatria
Mengapa kau justru berpesta di seberang?

Buya
Kini semua mata tertuju padamu
Berharap ada ucapan ahli surga keluar dari mulutmu
Tapi bila masih sama seperti yang berserakan di media
Generasi nanti akan bertanya-tanya tentang sikap anehmu

Buya
Mungkin kau bisa menang dalam permainan lidah
Tapi kami khawatir malaikat maut sudah tak sabar menunggu
Dan kau belum sempat meminta maaf pada umat Islam yang kau kecewakan gara-gara keberpihakanmu

Selain puisi, Syarif Hade yang banyak menulis puisi dengan isu agama dan kelompok Islam, juga menulis status berikut di akun FB-nya:

Baca juga:  Pesan Bapak (Cerpen Ali Munir Sangkakala)

Buya, katamu semalam banyak ahli tafsir yang punya pendapat sama denganmu tapi diam dan tak berani bicara?! Sebut saja namanya kalau memang benar ada. Jangan-jangan kau hanya berlindung di balik kata “banyak” padahal sebetulnya tak ada. Itu kau katakan seiring semakin tak berbobot dan tak bernasnya argumenmu, tak seperti yang kukenal dari dirimu yang dulu.

Buya, semalam kau mengutip al-Maidah 8 untuk mengingatkan kita semua agar berlaku adil pada orang yang kita benci. Dengan ayat yang sama, saya juga ingin mengingatkan agar Buya juga berlaku adil pada MUI dan umat Islam peserta aksi. Jangan kau gabyah uyah semua bila kau tak suka salah satunya. Itu juga tidak adil, Buya.

Buya, semalam kau sudah membuat pengakuan terbuka bahwa kau tak terlalu ngerti agama, tapi kau hanya tahu benang merah. Tapi selama ini, terutama dalam isu ini, kau kerap menggunakan argumen agama, termasuk soal al-Maidah 8 itu. Nah, kalau tak terlalu ngerti agama, sebaiknya ya bertanya dan tak membuat kesimpulan yang kadang sesat dan membingungkan.

Jadi pengen bertanya, ada apa denganmu, Buya? Terlalu mahal kau pertaruhkan dirimu untuk seseorang yang sudah melukai jutaan umat Islam di Indonesia. Itu pun jika dirimu masih punya secuil keadilan di dadamu.

Buya, apa gak sebaiknya istirahat saja?!

 

Baca juga:  Singgah di Bulan (Cerpen Syarif Hade) - Bagian 3 (Habis)

 

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *