Propaganda Anti-Arab Paling Lucu! Ikuti Tuntunan Syariah Kok Dianggap Kearab-araban

  • 16
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares
DatDut.Com – Propaganda anti-Arab paling lucu yang saya baca 2 hari lalu adalah judul berita satu media online. Begini judulnya: “Arab menuju modern, sementara Indonesia menuju primitif”.
 
Ini ketahuan sekali kalau yang nulis propaganda itu tahunya Arab hanya dari berita-berita konflik. Kurang piknik dan kurang update sepertinya. Atau dia tahu itu, tapi dia sengaja memainkan itu sebagai bagian dari proxy war di mana dia hanya pion.
 
Arab sudah sejak lama jauh lebih modern dari kita. Dan, Arab terlalu luas. Anda mau Arabnya yang mana? Setidaknya ada 23 negara yang disebut negara Arab. Di antara ke-23 negara itu ada Arab Saudi, ada Qatar, ada Uni Emirat Arab.
 
Dua negara terakhir bahkan jadi tempat ajang gengsi orang-orang Barat untuk menunjukkan status sosialnya. Konon, belum dikatakan kaya orang Barat kalau belum punya properti di dua negara itu.
 
Generalisasi seperti itu sama lucunya dengan menilai Indonesia hanya Jakarta. Atau, menilai Indonesia dengan potret Papua. Sama juga dengan menilai Jakarta hanya memotret Sudirman-Thamrin. Terus kampung-kampung kumuh itu dikemanain?!
 
Dan yang lebih lucu lagi di artikel media itu digambarkan kalau ukuran kemajuannya didasarkan atas pakaian yang dikenakan. Kalau pakai cadar, hijab, gamis, dan jumlah, itu gambaran tidak maju. Tapi kalau yang terbuka dan terlihat auratnya, itu yang maju.
 
Sejak kapan kemajuan diukur dari terbuka dan tidaknya pakaiannya?! Bukannya capaian kemajuan suatu bangsa diukur dari pola pikir, kreativitas, inovasi, dan capaian ekonominya?
 
Pertanyaan sederhana saya, dia membenci Arab, tapi kok pakai Arab sebagai contoh kemodernan?! Di sini saya sepertinya mulai menangkap maksud dari tulisan di propaganda itu. Ada dua kemungkinan: menghasut untuk membenci orang Arab yang ada di Indonesia atau sedang menyinyiri orang yang mengamalkan dan mengikuti tuntunan syariah.
 
 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Baca juga:  Jangan Maafkan Manusia Rasis di Negeri Ini! Hukum Steven!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *