Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama NU Rekomendasikan Risalah Sarang

Pin It

DatDut.Com – Sebagaimana direncanakan beberapa waktu lalu, akhirnya acara Silaturahmi Nasional Alim Ulama Nusantara terlaksana dengan sukses. Di tengah kabar duka berpulangnya K.H Hasyim Muzadi (16/3/’17) Silatnas tersebut tetap berlansung hingga usai dan menghasilkan 5 poin pernyataan yang disebut sebagai Risalah Sarang.

Pertemuan para ulama yang diadakan di Pondok Pesantren Al-Anwar I, Karangmangu, Sarang, Rembang itu dihadiri oleh deretan ulama nusantara dari berbagai daerah.

Selain KH. Maimoen Zubair dan Gus Mus, beberapa nama ulama yang hadir antara lain: K.H. Ma’ruf Amin, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, K.H. Nawawi Abdul Jalil dari Pasuruan, K.H. Dimyathi Rois Kaliwungu, Jawa Tengah, TGH. Turmudzi Badaruddin dari Bagu, NTB.

Hadir juga K.H. Abuya Muhtadi Dimyathi dari Pandeglang, K.H. Muhammad Sanusi Baco dari Maros Sulawesi Selatan, K.H. TK. Bagindo M. Letter dari Sumatera Barat, Tengku H. Muslim Ibrahim dari Aceh, Abah Guru Zuhdiannor Martapura Kalimantan Selatan dan lain-lainnya.

Jika sebelumnya, pada 24-26 Februaru 2017 Muhammadiyah mengadakan Sidang Tanwir di Kota Ambon dan menghasilkan Resolusi Ambon yang mendorong dan mendukung pemerintah mewujudkan penguatan kedaulatan dan keadilan sosial, maka Silatnas Ulama di Sarang mengajak umat Islam dan bangsa Indonesia untuk mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah.

Selengkapnya, berikut ini 5 poin Risalah Sarang yang dibacakan oleh K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus)  setelah Silatnas Alim Ulama Nusantara:

Bismillahirrahmanirrahim

  1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di Indonesia ini saja tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah yang dihadapi dewasa ini.
  2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan, dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (afirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharruful imam manutun bi maslahatirroiyyah).
  3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat, seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan hal-hal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahan-pencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat diimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasi-informasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.
  4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, termasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggungjawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.
  5. Para ulama dalam majelis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderugan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi di antara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.
Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
Baca juga:  Gunakan Tagar #MendadakNU Pada Tempatnya, agar Tidak #MendadakTelolet!

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *