Tak Usah Ribut Soal Doa di Sidang Paripurna! Di Negeri Ini Agama Sudah Lama Dipolitisasi, Bahkan Diproyekkan

  • 48
  •  
  •  
  •  
    48
    Shares

DatDut.Com – Doa dipolitisasi ribut, padahal sudah lama politisasi itu dilakukan di negeri ini. Ayo inget-inget waktu kampanye, siapa yang eksen jadi imam salat dan pakai jilbab?! Tapi yang sekarang ribut justru pada masa kampanye bungkam tak bersuara. Seolah kalau calon yang didukungnya melakukan politisasi agama sah-sah saja

Kalau diperhatikan dengan seksama, ya masalahnya dia kebakaran jenggot bukan karena agama atau Tuhan diajak berpolitik, tapi karena yang didoakan “menyakitkan” orang yang didukungnya. Coba kalau yang didoakan “menyakitkan” orang yang jadi lawan junjungannya, pasti dia bersorak.

Tak usahlah menyebut “doa setan”, “setan pimpin doa”, “Tuhan dibajak”. Cukup berlaku adil. Kalau kamu adil, perlakuanmu pasti sama tidak terima kalau agama dipakai main-main di wilayah politik. Kamu tak lihat siapa yang dipolitisasi, tapi ajaran agama yang dipolitisasi itu yang kamu persoalkan.

Baca juga:  Kubu Penista Bikin Acara #MendadakIstighosah, PWNU Jakarta akan Tindak yang Terlibat

Kalau benar tidak boleh politisasi doa, kamu juga mesti larang atau marah juga politisasi pesantren, politisasi majelis taklim, politisasi istighatsah, politisasi khataman Quran, politisasi khotbah, politisasi imam, politisasi jilbab, politisasi kopiah, politisasi zikir. Itu baru adil.

Toh di negeri ini agama tak pernah berhenti dikait-kaitkan, terutama ketika dibutuhkan untuk kepentingan politik. Di negeri ini agama tak hanya dipolitisasi, tapi juga diproyekkan untuk dapat dana-dana asing dengan mengatasnamakan pesantren, HAM, demokrasi, pensyariatan, dan tetek bengek lainnya.

Selama kamu berat sebelah dan tak adil, tak usahlah menyebut “doa setan” dll. Jangan-jangan dirimulah setan itu. Tak usah bilang membajak Tuhan, jangan-jangan kamu yang “memperkosa” Tuhan. Apalagi kalau motif menyebut orang yang berdoa sebagai “setan” agar cepat terkenal. Kalau mau terkenal, sabar sedikit. Ikuti tahapannya. Karena popularitas yang didapat dengan sensasi itu tidak mberkahi. Sudah banyak contohnya, kok. Termasuk orang-orang yang mempolitisasi dan memproyekkan agama. Banyak yang blangsak hidupnya. Kamu mau jadi yang selanjutnya?

Baca juga:  Ini 5 Fakta Tak Tertungkap tentang Tangis dan Tawa

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *