Ini Pesan Heroik Panglima TNI Gatot Nurmantyo pada Kuliah Kebangsaan di UIN Jakarta

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi narasumber Kuliah Kebangsaan di Auditorium Prof Dr Harun Nasution pada Selasa (29/11). Ia pun disambut meriah ribuan mahasiswa yang memenuhi ruangan tersebut.

Pukul 10.30, Nurmantyo tiba di kampus UIN Jakarta dengan mengendarai kendaraan dinas berpelat bintang empat. Kehadiran panglima dari ketiga angkatan di TNI itu lalu disambut Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada dan ketiga wakil rektor.

Satu per satu pimpinan UIN Jakarta itu menyalami Nurmantyo seraya menyilakannya masuk ke ruangan Rektor di lantai 2 gedung Rektorat untuk rehat sejenak.

Selang 15 menit kemudian, Nurmantyo bergegas menuju Auditorium, tempat diselenggarakannya Kuliah Kebangsaan. Ia didampingi Rektor serta sejumlah asistennya dari Markas Besar TNI.

Dilansir dari situs uinjkt.ac.id, di sepanjang jalan menuju tangga auditorium, Nurmantyo langsung disambut ratusan mahasiswa yang membentuk barisan di kiri-kanan jalan. Mereka juga mengabadikan kesempatan tersebut dengan mengambil gambar sosok orang nomor satu di TNI itu melalui kamera telepon seluler.

“Assalamu’alaikum,” sapa Nurmantyo kepada para mahasiswa yang dilaluinya seraya melempar senyum.

Tak cukup sampai di situ. Sambutan hangat dan meriah juga diberikan para mahasiswa saat Nurmantyo memasuki ruangan dalam auditorium.

Bahkan tepuk tangan mulai bergemuruh, mengiringi langkah Nurmantyo menuju tempat duduknya. Saat masuk gedung, ia pun kembali menyapa mahasiswa dengan mengucapkan salam.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960. Ia diangkat menjadi Panglima TNI sejak 8 Juli 2015 oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko yang sudah habis masa jabatannya. Sebelumnya, Nurmantyo juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Dankodiklat TNI-AD, dan Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya.

[nextpage title=”Menjadi Bangsa Pemenang”]

Menjadi Bangsa Pemenang

Seusai sambutan Rektor, Nurmantyo lantas mulai memberikan Kuliah Kebangsaan bertema “Menguatkan Kebhinekaan untuk Indonesia Maju dan Berkeadaban”. Hanya saja, saat beberapa menit tampil bicara, Nurmantyo tampak seperti “kikuk” menghadapi mahasiswa di depannya. Ia menjadi salah tingkah dengan menggaruk-garuk kepalanya.

“Mahasiswa di sini (UIN Jakarta, Red) luar biasa,” ujarnya seperti menyimpan rasa malu.

Kepada ribuan mahasiswa UIN Jakarta yang hadir di tempat itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di antaranya memberikan semangat. Ia meminta agar mahasiswa memiliki semangat sebagai pejuang seperti para pejuang dulu saat melawan penjajah. “Mari kita bergotong royong, membangun bangsa untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa pemenang di era kompetisi global,”pekiknya.

Baca juga:  Ini 5 Bacaan Wajib Jurusan Sastra Arab Universitas Sorbonne

“Mengapa sebagai bangsa pemenang?,” tanyanya yang kemudian dijawab sendiri, “Karena kita hidup dalam kompetisi global. Kalau kita tidak siap, kita dilibas,” pungkas lulusan Akademi Militer tahun 1982 itu. Saat memberikan kuliah, Nurmantyo sempat mendapat tepuk tangan berkali-kali dari warga sivitas akademika yang hadir.

[nextpage title=”Narkoba dan Kepentingan Asing”]

Narkoba dan Kepentingan Asing

 

Di hadapan sedikitnya 3.000 mahasiswa dan jajaran sivitas akademika UIN Jakarta, Panglima TNI membeberkan beberapa indikasi kekuatan asing yang ingin menguasai sumber daya alam dan memecah belah kesatuan bangsa  Indonesia.

“Indikasinya jelas, karena memang sudah kita analisis lama. Kekuatan asing sangat menginginkan kekayaan alam kita, salah satunya adalah bagaimana membuat bangsa kita pecah, lalu mereka masuk dengan program ekonominya,” ujar Gatot.

Jenderal bintang empat itu mencontohkan, banyak kejadian yang dianggap tak lepas dari keterlibatan pihak asing, di antaranya adalah saat provinsi Timor-Timor lepas dari NKRI, serta banyaknya sindikat pengedar narkotika yang masuk ke Indonesia untuk menjual-belikannya secara ilegal.

“Ini sangat memprihatinkan, sudah seharusnya kita lebih proaktif mencegah masuknya barang haram tersebut ke negeri ini. Apabila generasi penerus sudah terkontaminasi oleh pil haram tersebut, maka generasi penerus perjuangan akan hancur dalam waktu yang panjang,” tambahnya.

Diperjelas oleh Gatot, berdasarkan data BNN, pengguna narkoba mengalami kenaikan dari 1,5 persen pada tahun 2005, menjadi 2,6 persen di tahun 2013, serta pada tahun 2015, sudah mencapai 2,8 persen atau sekitar 5,1 juta penduduk Indonesia telah mengonsumsi narkoba.

[nextpage title=”Kedaulan NKRI dan Proxy War”]

Kedaulan NKRI dan Proxy War

Di akhir pemaparannya, Panglima TNI mengajak semua komponen masyarakat termasuk para mahasiswa, untuk terus menggalang semangat persatuan dalam perbedaan suku, agama, ras maupun antargolongan yang ada di Indonesia.

“Jaga terus persatuan, saya harap adik-adik mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam membantu pemerintah menjaga stabilitas nasional negara kita,” tutupnya.

Baca juga:  Menag: Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri Jangan Kehilangan Jati Diri

Dalam penyampaiannya, secara umum Gatot mengajak seluruh peserta yang hadir untuk bersama-sama menjaga kedaulatan NKRI dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan bermaksud memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Mari kembali pada nilai luhur bangsa ini. Mengerti bahwa cinta dan peduli kepentingan bangsa di atas segalanya. Individu yang kaya bukan jaminan menjadikan bangsa ini sejahtera, tetapi negara yang kaya dan dikelola secara arif dan bijaksana akan membuat rakyatnya sejahtera,” ungkap Jenderal kelahiran Tegal, 56 tahun yang lalu itu.

Masih menurut Gatot, saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi Proxy War. Pasalnya, negara ini seolah telah menjadi kepanjangan tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategis, namun menghindari keterlibatan secara langsung dalam peperangan tersebut.

“Oleh karena itu, seluruh komponen bangsa harus membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang luas ditambah dengan pengalaman yang nyata di lapangan agar terbentuk pribadi yang kuat, berkarakter serta budi pekerti yang baik, sehingga mampu menangkal dan melawan proxy war di negeri tercinta ini,”jelasnya.

Di akhir sambutannya, Jenderal bintang empat tersebut berharap agar lembaga pendidikan tidak hanya membekali anak didiknya dengan teori-teori keilmuan semata. Lebih dari itu, mencetak generasi yang berkarakter, arif dan bijaksana, serta memiliki jiwa patriotisme yang berimplikasi pada nilai-nilai nasionalisme juga dipandang sebagai sebuah kewajiban dan dibutuhkan bangsa ini.

“Mari kita persiapkan diri dan bahu-membahu antar komponen bangsa, untuk melaksanakan dan menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita agar senantiasa menjaga kedaulatan Ibu Pertiwi yang kita cintai ini,” tandas panglima.

Sumber: uinjkt.ac.id

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close