Ini 5 Pesan Penting Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub Sebelum Wafat

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Imam Besar Masjid Istiqlal menyampaikan ceramah dalam sebuah acara pengajian yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ceramah yang bertema “Meningkatkan Semangat Pemuda Muslim dalam Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar” ini, dilaksanakan pada Sabtu (28/11/15) di Masjid Al-Mughirah, Ciputat, Tangerang Selatan. Berikut ini 5 isi ceramah Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub:

[nextpage title=”1. Masalah Kiblat Salat”]

1. Masalah Kiblat Salat

Kata kiblat berasal dari bahasa Arab al-qiblah yang artinya arah (al-jihah). Mengenai arah kiblat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw., Kiai Ali memaparkan bahwa dalam sebuah hadis, ketika Nabi Saw. berada di Madinah, beliau bersabda “Arah antara timur dan barat itu adalah kiblat”(HR. Tirmizi).

Secara geografis, kota Madinah terletak di sebelah utara Kakbah, maka orang yang berada di utara Kakbah berarti kiblatnya arah selatan. Sementara orang Indonesia yang terletak di barat Kakbah berarti kiblatnya arah timur.

Karenanya berdasarkan hadis Nabi tadi, yang menjadi kewajiban orang yang tidak dapat melihat Kakbah secara langsung hanyalah salat menghadap ke arah kiblat, berbeda dengan orang-orang yang saat akan melaksanakan salat dapat melihat kabah, misalnya sedang umrah, maka ia wajib menghadap ke Kakbah.

“Dalam niat salat yang diajarkan Nabi pun, kita melafalkan Mustaqbilal qiblati yang artinya menghadap kiblat,” jelas beliau, dan bukan dengan lafadz mustaqbilal ka’bati yang artinya menghadap Kakbah.

[nextpage title=”2. Dai-dai Bertarif”]

2. Dai-dai Bertarif

Permasalahan umat selanjutnya yang beliau sorot adalah persoalan dai-dai yang sengaja memasang tarif dalam berdakwah. Tentang hal ini beliau mengutip firman Allah Swt., “Ikutilah orang yang tidak minta imbalan kepadamu karena mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Yasiin (36): 21).

Baca juga:  Rio Haryanto Masuk F1, Ada 5 Hal yang Patut Diteladani dari Pembalap Ini

Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub menjelaskan bahwa mereka bisa dikatakan golongan orang-orang yang pada pagi hari dia beriman tapi sore telah kafir atau pada waktu sore beriman tapi paginya telah kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (HR. Muslim).

[nextpage title=”3. Zaman Berkabut”]

3. Zaman Berkabut

Zaman ini menurut beliau dapat dikatakan sebagai zaman berkabut, yaitu zaman di mana orang-orang mengambil petunjuk bukan dari petunjuk Nabi Saw. (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah).

Menurut beliau, kabut itu bagaikan pemahaman yang salah, karena pandangan jadi tidak jelas, sehingga salah dalam memutuskan permasalahan umat.

“Seperti permasalahan arah kiblat tadi adalah bukti bahwa pada zaman modern ini orang-orang lebih percaya dengan petunjuk Google daripada petunjuk Nabi Saw,” ujar beliau.

Meski dengan nada bergurau, ucapan Imam besar Masjid Istiqlal ini patut kita jadikan pelajaran hidup. Jangan sampai kita salah mengikuti petunjuk karena sesuatu pertimbangan yang masih samar kebenarannya.

[nextpage title=”4. Ciri-ciri Syiah”]

4. Ciri-ciri Syiah

Syiah merupakan mazhab yang memiliki banyak sekte, mulai dari sekte yang lurus (dalam artian masih mengakui Allah sebagai satu-satunya tuhan dan Muhammad adalah utusannya) sampai yang sesat.

Menurut Kiai kelahiran Batang, Pekalongan ini, berdasarkan keyakinannya Syiah dapat digolongkan menjadi tiga kelompok. Pertama, golongan yang menganggap Ali Ra. sahabat Nabi yang paling utama melebihi Abu Bakar Ra.

Mayoritas ulama berkata mereka tetap Muslim, kendati berbeda dengan keyakinan umat Muslim pada umumnya. Termasuk sekte Syiah yang mempunyai keyakinan seperti ini adalah Zaidiyah.

Kedua, golongan yang berkeyakinan Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan. Keyakinan ini dicetuskan oleh sekte as-Saba’iyah, karena dulu orang yang pertama kali mengatakan bahwa Ali adalah Tuhan adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang masuk Islam yang kemudian menyebarkan paham ini.

Baca juga:  Ini 5 Alasan Orang Syiah dan Liberal Tidak Suka K.H. Ali Mustafa Yaqub

Ketiga, golongan yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih tinggi derajatnya dari Nabi Muhammad Saw. merupakan paham yang disuarakan oleh Imam Khomeini dan pengukitnya.

[nextpage title=”5. Meneladani Sikap Dermawan Para Sahabat”]

5. Meneladani Sikap Dermawan Para Sahabat

Setelah dipersaudarakan oleh Rasulullah Saw., Sa’ad berkata kepada Abdurrahman: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separuh hartaku dan ambillah! Aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian Anda, akan kuceraikan ia hingga Anda dapat memperistrinya!”

Tapi apa jawaban Abdurrahman bin Auf? “Semoga Allah memberkati Anda, istri dan harta Anda! tapi tunjukkan letaknya pasar agar aku dapat berdagang!”

Sikap mulia para sahabat yang tercermin pada potongan kisah Sa’ad bin Rabi’ dan Abdurrahman bin Auf inilah yang harus dicontoh oleh para pemuda Islam.

Sikap Sa’ad yang ringan tangan dalam menolong, serta sikap Abdurrahman bin Auf yang saat ditawarkan separuh harta kekayaan Sa’ad, ia tidak bergeming dan menolak semua itu.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Neneng Maghfiro

Alumni Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.
Neneng Maghfiro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close