Persekusi Bali, Ancaman Serius terhadap Toleransi

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ustaz Abdus Somad (UAS) disuruh cium bendera, menyanyikan Indonesia Raya, mengakui Pancasila, dan berikrar terhadap 4 pilar kebangsaan. Wah, ini sih yang nyuruhnya kurang piknik dan nirwawasan.

Beliau itu PNS, dosen di UIN Riau. Yang perlu diketahui, pada umumnya sivitas akademika IAIN/UIN di manapun, sudah tidak ada masalah dengan Pancasila, bendera RI, lagu Indonesia Raya, dan Pilar Kebangsaan.

Kalau ada satu-dua yang masih punya masalah, biasanya alumni kampus umum (tidak pernah mengecap pendidikan di IAIN/UIN) yang menjadi dosen di IAIN/UIN. Tapi biasanya setelah diberi pengertian dengan dalil dan argumen, mereka akan paham juga bahwa tidak ada masalah dengan hal-hal tersebut.

O iya yang perlu juga dijelaskan bahwa alumni kampus-kampus Islam dalam dan luar negeri yang berideologi dan bermanhaj agak berbeda dengan IAIN/UIN, biasanya sudah enggan melamar sebagai dosen di IAIN/UIN karena menganggap ideologi IAIN/UIN tidak sesuai dengan prinsip mereka.

Jadi, kalau ada yang mempersekusi UAS dengan memintanya melakukan hal-hal tersebut, pastilah orang-orang yang kerap baca postingan Abu Janda dan Denny Siregar, yang terbukti memang super ngawur itu.

Baca juga:  Tambah Pinter Kok Malah Tambah Keblinger! Nasihat untuk yang Suka Nyeleneh agar Terkenal

Ini bahayanya kalau kita tidak melakukan tindakan apa-apa dan pemerintah membiarkan provokator medsos seperti Abu Janda dan Denny Siregar itu. Bisa runyam masalah bangsa ini gara-gara mispersepsi sebagai akibat dari postingan super ngawur para provokator medsos itu.

Maka, jika mau adil, kalau Jonru saja bisa diproses secara hukum, logika normalnya Abu Janda dan Denny Siregar juga HARUS diproses secara hukum. Kalau tebang pilih, ya risikonya aparat hukum yang akan kehilangan wibawa dan hukum hanya akan dianggap sebagai alat kuasa saja.

Terakhir, kelakukan sekelompok orang di Bali itu jelas persekusi dan ancaman serius terhadap toleransi dan kerukunan umat beragama.

Kepada mereka yang kerap ngoceh soal toleransi, tolong jangan hanya ketika pelakunya umat Islam saja mereka garang menyebut itu tindakan intoleransi, tapi ketika pelakunya non-Muslim mereka bungkam seribu bahasa. Satu lagi yang kita perlu ingatkan kepada mereka bahwa kelompok radikal itu ada di semua agama, dan jangan hanya dialamatkan pada Islam. Jadi, adillah.

Baca juga:  5 Kelebihan Bahasa Arab Dibanding Bahasa Lain

Tolong yang terakhir ini jadi PR besar bagi mereka yang kerap bertingkah seolah jadi polisi toleransi. Kalau terus-terusan bersikap tidak adil seperti itu, orang akan tahu mereka ngoceh soal toleransi itu menyuarakan kepentingan siapa dan dibayari siapa.

Mereka juga yang perlu dimintai pertanggungjawaban kenapa berita dan informasi yang beredar di luar negeri tentang umat Islam Indonesia kok negatif, padahal secara umum kita bisa hidup berdampingan dan rukun-rukun saja.

Mengapa mereka harus bertanggung jawab, karena mereka informan orang-orang di luar negeri sana tentang apa yang terjadi di Indonesia.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Moch. Syarif Hidayatullah

Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *