Peringati Hari Bahasa Arab Dunia, Kenali 5 Pakar Bahasa Arab Indonesia dengan Keahlian Khusus Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain bahasa agama, bahasa Arab juga bahasa budaya, politik, dan juga bahasa teknologi. Karenanya, PBB melalui Unesco selalu memperingati Hari Bahasa Arab Dunia setiap 18 Desember pada setiap tahunnya.

Organisasi Bahasa Arab di Indonesia, seperti Ittihadul Mudarrisin Lil Lughah Al-Arabiyah (IMLA), Ikatan Mahasiswa Studi Arab Indonesia (IMASASI), Ittihad Thalabah Lughah al-Arabiyah bi Indonesia (ITHLA), juga ikut merayakan Hari Bahasa Arab Dunia.

Paling tidak, ini 5 orang pakar bahasa Arab Indonesia yang berkontribusi dalam bidangnya masing-masing.

1. HD Hidayat

Ia adalah Prof. Dr. H. D. Hidayat yang lahir pada tahun 1944. Pria kelahiran Sukabumi ini, menjadi mahasiswa S1 pada Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang rampung pada tahun 1968.

Setelah itu, Pengarang buku Ta’limul Lughatul ‘Arabiyyah ini, menyelesaikan program magisternya di Ma’had Khurthum ad-Dauli lil Lughatil ‘Arabiyyah, Khutum, Sudan, pada tahun 1981. Gelar doktornya diselesaikan di program Pascasarjana IAIN (UIN) Jakarta pada tahun 1998.

Dari beberapa karyanya dan ceramah-ceramah ilmiahnya, pria berusia 71 tahun dikenal sebagai pakar Metode Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa Arab. Karya-karyanya menjadi kurikulum dan rujukan di Madrasah Tsanawiyah maupun Madrasah Aliyah.

2. Muhbib Abdul Wahab

Nama Muhbib Abdul Wahab mungkin tidak asing bagi para mahasiswa bahasa Arab, khususnya UIN Jakarta. Pria kelahiran Paciran, Lamongan, Jawa Timur ini, menyelesaikan program S1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa, Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta pada tahun 1991. Saat itu, pria kelahiran 1968 ini, menyelesaikan Diploma I di Lembaga Ilmu Pengetahuan Arab dan Islam (LIPIA) pada tahun 1992.

Pria yang produktif menulis di media nasional ini, menyelesaikan magister (1997) dan doktornya (2008) di universitas yang sama. Salah satu kontribusinya terbesar dalam bahasa Arab adalah keterlibatannya dalam pembuatam TOAFL, tes kemahiran bahasa Arab.

Baca juga:  Ini 5 Mursyid Tarekat Terkemuka di Indonesia

Ini suatu hal yang membanggakan sekaligus ironi. Dikatakan membanggakan karena TOAFL UIN Jakarta menjadi salah satu rujukan di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri lainnya. Dikatakan ironi karena hingga saat ini, negara-negara Arab belum memiliki standar tes untuk warga negara asing yang digunakan dalam skala internasional. Yang mempunyai inisiatif tersebut justru orang Indonesia.

3. Moch Syarif Hidayatullah

Moch Syarif Hidayatullah lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 29 Desember tahun 1979. Pria yang memiliki nama pena Syari Hade Masya ini, produktif menulis, menerjemahkan, dan menyunting buku tidak kurang dari 100 buku.

Pria berusia 36 tahun ini, menyelesaikan S1 pada Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, IAIN (UIN) Jakarta pada tahun 2001, dan Program Pascasarjana Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tahun 2004. Sementara itu, jenjang doktornya ia selesaikan pada Program Pascasarjana Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tahun 2013.

Pria kelahiran Pasuruan ini, memiliki minat kajian Ilmu-ilmu Keislaman, Linguistik, Penerjemahan Arab-Indonesia, dan Filologi. Karyanya yang berkaitan dengan bahasa Arab di antaranya Cakrawala Linguistik Arab, Tadribat Tarjamah, dan Seluk Beluk Penerjemahan Arab-Indonesia Kontemporer. 

Dari karya dan aktivitasnya, ia dapat dikatakan fokus mengabdikan ilmunya dalam bidang penerjemahan Arab-Indonesia, baik secara teori maupun praktik. Selain mengajarkan materi tentang penerjemahan Arab-Indonesia dan Linguistik Arab, ia juga berkontribusi dalam menyiapkan generasi penerjemah Arab-Indonesia melalui pelatihan, worhshop, dan short course tentang penerjemahan Arab-Indonesia.

4. Saifullah Kamalie

Saifullah Kamalie lahir di Cipanas, Jawa Barat, pada 29 Juni tahun 1958. Setelah lulus dari Pondok Modern Gontor pada tahun 1978, ia melanjutkan program sarjananya pada Institut Pendidikan Darussalam Gontor. Namun, ia tidak menyelesaikan kuliahnya ini karena mendapat beasiswa dari Universitas Madinah.

Saat itu, ia mengambil Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Madinah, Arab Saudi pada tahun 1980 dan selesai pada tahun 1984. Sepulang dari Madinah, pria berusia 57 tahun ini, mencicipi menjadi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab IAIN Jakarta pada tahun 1985 hingga 1987.

Baca juga:  ADDAI: Acara Keislaman di Televisi Perlu Selektif Memilih Dai

Pada tahun 2000, ia dapat merampungkan gelar magisternya pada Program Linguistik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Pendidikan doktornya diselesaikan pada Jurusan Bahasa dan Lingustik, Universitas Malaya, Malaysia, pada 201. Selain menekuni linguistik Arab, penerjemahan, ia juga menekuni pengajaran bahasa Arab berbasis teknologi. Salah satu aktivitasnya yang menonjol dalam bidang bahasa Arab adalah aktivitasnya dalam memberi pelatihan bahasa Arab berbasis ICT.

5. Yusring Sanusi Baso

Yusring Sanusi Baso lahir di Bontobuddung, Sulawesi Selatan pada Maret tahun 1970. Jenjang sarjana diselesaikan tahun 1983 pada Jurusan Bahasa Arab Universitas Hassanuddin, Makasar. Sementara itu, programa magisternya diselesaikan pada tahun 2003 pada Applied and Computational Linguistics, The University of Newcastle, Australia.

Beberapa penelitiannya yang telah dipublikasikan berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab di antaranya Materi Pelajaran Interaktif Bahasa Arab Berbasis Web dan CD. Ia diketahui banyak terlibat dalam pembuatan materi seputar  software untuk tes dan evaluasi pembelajaran bahasa Arab.

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
100 %
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close