Penerjemahan Kebudayaan dalam Alquran, Ini 5 Contohnya

  • 51
  •  
  •  
  •  
    51
    Shares

Dibaca: 2361

Waktu Baca3 Menit, 1 Detik

DatDut.Com – Penerjemahan kebudayaan dalam teks-teks agama masih sangat jarang dilakukan para akademisi. Padahal, model penerjemahan seperti itu sangat diperlukan untuk menyampaikan pemahaman teks yang diterjemahakan.

Dr. Moch Syarif Hidayatullah, penulis buku Seluk-Beluk Penerjemahan Arab Indonesia Kontemporer, sangat sering menganjurkan para mahasiswanya melakukan penerjemahan yang belum penerjemah lain lakukan.

Direktur Pusat Penerjemahan Alquran dan Hadis ini memprediksikan bahwa yang dibutuhkan umat Islam di masa yang akan datang adalah terjemah Alquran dan Hadis, bukan lagi tafsir.

Oleh karena itu, pria kelahiran Pasuruan ini sangat memperhatikan betul perkembangan penerjemahan Alquran dan Hadis di Indonesia.

Ia mencontohkan ungkapan bahasa Arab man ‘arafa bu’das safar ista’adda. Bila diterjemahkan secara tekstual, maka terjemahan yang dihasilkan: orang yang mengetahui perjalanannya jauh, maka ia akan bersiap-siap.

Terjemahan ungkapan tersebut akan berbeda bila menggunakan pendekatan kebudayaan. Ungkapan tersebut diterjemahkan menjadi sedia payung sebelum hujan. Berikut 5 contoh penerjemahan kebudayaan dalam Alquran:

1. Rendah Hati

Alquran menyebutkan istilah rendah hati dengan khafdhul janah (merendahkan sayap). Penyebutan khafdhul janah disebutkan dalam tiga surah, yaitu Al-Hijr ayat 188, Al-Isra ayat 124, dan Asy-Syu’ara ayat 215.

Peribahasa seperti padi, kian berisi kian merunduk dapat diterapkan dalam ketiga surah tersebut. “Hormatlah pada kedua orang tuamu. Seperti padi, kian berisi kian merunduk. Doakan keduanya, “Tuhan sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil” (QS Al-Isra [17]: 124).

2. Pelit dan Dermawan Berlebihan

Baca juga:  Ini 5 Etika Membaca Alquran

Menurut Dr. Moch Syarif Hidayatullah, setiap kebudayaan mempunyai isyarat dan kebiasaan yang khas dan berbeda dengan kebudayaan yang lain. Bahkan tak jarang, isyarat dan kebiasaan yang sama, tapi maknanya berbeda. Ia mencontohkan ayat berikut:

Wa la taj’al yadaka maghlulatan ila ‘unuqika wa la tabsutha kulla basthi fataq’uda malumam mahsura. Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu jadi tercela dan menyesal (QS Al-Isra [17]: 29).

“Tangan terbelenggu pada leher” itu simbol kikir yang bersumber pada isyarat tangan yang dikenal masyarakat Arab. Sementara “mengulurkan tangan berlebihan” merupakan simbol dermawan yang berlebih-lebihan. Dalam bahasa Jawa, ayat tersebut bisa diterjemahkan ojo medit lan ojo nyah-nyoh. Mengko awakmu ngenes lan getun.  

3. Kesombongan

Idiom merupakan salah satu aspek budaya dalam penerjemahan sebagaimana disampaikan Dr. Moch Syarif Hidayatullah dalam bukunya, Seluk-Beluk Penerjemahan Arab Indonesia Kontemporer.

Dalam bahasa Indonesia, kita kenal idiom membusungkan dada yang berarti menyombongkan atau membanggakan diri. Kasus ini dapat kita temukan dalam ayat berikut:

Wa la tamsyi fil ardhi maraha innaka lan takhriqal ardha wa lan tablughal jibala thula. Jangan kau busungkan dadamu. Karena bumi yang keras tak akan terbelah dan gunung yang tinggi tak akan mampu kau daki hanya dengan membusungkan dada (QS Al-Isra [17]: 37).

4. Larangan Merasa Paling Hebat

Larangan merasa paling hebat sendiri dalam berbagai macam keahlian dalam peribahasa Indonesia dinyatakan dengan di atas langit ada langit. Artinya di atas yang pintar, pasti ada yang lebih pintar lagi.

Baca juga:  Demi Muliakan Alquran, Hindari Tulis Ayat dalam 5 Tempat Ini

Peribahasa ini dapat kita terapkan pada potongan ayat berikut: Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim. Di atas langit ada langit (QS Yusuf [12]: 76).

5. Kebodohan

Himar dalam tradisi Arab simbol kebodohan. Peribahasa Indonesia bagai kera diberi kaca berarti memberi barang kepada orang yang tidak tahu manfaat dan kegunaannya. Peribahasa ini juga dapat berarti seorang yang tidak dapat dapat menghargai sesuatu yang baik.

Artinya, peribahasa ini dapat kita terapkan dalam menyampaikan pesan perumpaan kebodohan yang disimbolkan dengan kera dan kaca. Dalam arti yang pertama, kita dapat menerapkan peribahasa ini dalam ayat berikut:

Matsalul ladzina hummilut taurata tsuma lam yahmiluha ka mastalil himari yahmilu asfara. Orang Yahudi yang telah diberikan Taurat, namun tidak mengamalkannya bagai bagai kera diberi kaca. (QS Al-Jumuah: 5).

harisPenulis : Ibnu Harish | Peneliti Pusat Penerjemahan alquran dan Hadis

Fb : Ibnu Harish

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi
  • 51
    Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *