Kitab

Pembaca Kitab Barzanji Dianggap Sesat, Ini 5 Bantahannya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ada sebuah artikel lawas yang dimuat Nahimunkar.com, bersumber dari Syabaabussunnah.wordpress.com. Artikel tersebut menarik perhatian saya. Artikel tersebut disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.

Selanjutnya, artikel ini menyebar di berbagai situs online lain yang sama-sama suka membahas bidah, syirik, dan kafir. Karena masalah maulid selalu “dihangatkan” tiap tahun, maka artikel lawas itu otomatis akan diakses dan terus disebar.

Lima Kesesatan dalam Kitab al-Barzanji. Judul khas yang menunjukkan identitas aliran yang dianut penulisnya. Sebenarnya, artikel tersebut secara umum sudah terbantahkan dengan berbagai artikel yang mengetengahkan jawaban atas poin yang dibicarakan. Namun, bantahan itu bersifat perpoin saja dari kelima hal yang dibahas.

Oleh karena itu, saya ingin menyajikan sanggahan atas artikel tersebut dari berbagai sumber seperti sarkub.com, nu.or.id, dan lain-lain. Metode yang saya gunakan adalah memahami dan meneliti dalil-dalil dan pendapat ulama yang disajikan lalu membuka rujukan tersebut dari kitab aslinya. Kebetulan rata-rata saya miliki dalam bentuk PDF.

Sebelum masuk ke pembahasan, ada hal lucu yang ditulis dalam artikel itu. Dengan mengutip dari al-Munjid fil ‘Alam (h. 125), penulis artikel tersebut mengatakan bahwa pengarang al-Barzanji, Sayyid Ja’far adalah mufti kalangan Syafi’iyah. Ya, itu informasi yang benar.

Sayid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki, dalam Hawl al-Ihtifal bi Dzikra al-Mawlid an-Nabawi asy-Syarif (h.99) juga mengungkap profil singkat al-Barzanji. Ja`far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji itu ahli Hadis yang juga mufti Syafi`iyah di Madinah al-Munawwarah.

Terdapat perselisihan pendapat tentang tahun wafatnya. Sebagian ulama menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177 H (1763 M). Imam Az-Zabidy dalam al-Mu`jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184 H (1770 M). Imam Az-Zabidy pernah berjumpa beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi.

Penulis artikel tersebut keliru karena menambahkan asumsinya sendiri dengan mengatakan bahwa Ja’far al-Barzanji adalah penganut tasawuf dan bermazhab Syiah. Ini adalah kerancuan. Seorang mufti mazhab Syafi’i dikatakan juga bermazhab Syiah.

Lucunya, tuduhan itu hanya berlandaskan sebuah doa dalam al-Barzanji (h. 132), yang bunyinya, “Berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man.”

Seharusnya, untuk memastikan kesyiahan seorang ulama jaman dahulu, perlu adanya referensi dari kitab sejarah atau tarikh. Dan sangat aneh kalau ada Syiah tapi bermazhab fikih Syafi’i. Lalu, apakah doa tersebut bisa jadi ukuran kesyiahan seseorang?

Selanjutnya, mengawali pembahasan dengan menyoroti kesalahan umum kitab al-Barzanji, penulis artikel itu menuduh bahwa pembaca al-Barzanji menganggap bacaan al-Barzanji lebih utama ketimbang Alquran. Ini adalah tuduhan yang mengada-ada.

Dari mana dia melakukan penelitian? Siapa pun tahu bahwa kitab al-Barzanji tak lebih dari sejarah dalam bentuk sastra dan salawat. Tak akan bisa menyamai derajat Alquran yang tiap hurufnya berpahala 10 kebaikan.

Kalau ada yang hafal kitab al-Barzanji dan tidak hafal Alquran, lantas bisakah kita memvonis kesesatan seseorang berdasarkan hal tersebut? Ini juga secara tidak langsung mendiskreditkan para pembaca kitab al-Barzanji yang dilakukan hampir seluruh santri salaf di pesantren-pesantren.

Di bagian pembukaan saja, artikel itu telah menyuguhkan hal-hal kurang berbobot karena hanya asumsi tanpa bukti. Lalu, bagaimana isinya? Berikut bantahan atas artikel “Lima Kesesatan Kitab al-Barzanji”:

1. Orangtua Nabi Muhammad Saw. Masuk Neraka

Penulis menyalahkan al-Barzanji yang meyakini bahwa orangtua Rasulullah selamat. Menurut pendapat yang dianut penulis artikel itu, orangtua Rasulullah Saw. masuk neraka. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat Muslim.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, di manakah ayahku (di akhirat nanti)?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Saat lelaki itu berpaling pergi, Nabi memanggilnya lalu berkata, “Sungguh bapakku dan bapakmu di neraka.”

Ulama berbeda pendapat tentang masalah ini. Sebagian antara mereka, Imam Nawawi yang dalam tulisan itu dijadikan sebagai sumber utama, memang berpendapat bahwa kedua orangtua Nabi termasuk golongan orang tak beriman sama seperti para penyembah berhala.

Pendapat tersebut tidak menafikan bahwa orang Arab kala itu dalam masa fathrah atau ketiadaan rasul, karena dakwah Nabi Ibrahim telah sampai pada mereka sebelumnya lalu ajaran beliau diselewengkan, seperti dijelaskan dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi (3/74).

Sependapat dengan Imam Nawawi, Ibrahim al-Halabi dan Ali al-Qari menulis kitab tersendiri untuk membahas persoalan orangtua Nabi berdasarkan hadis ini.

Sementara itu, mayoritas ulama mazhab Syafi’i dan Asy’ariyah sependapat dengan Imam Suyuthi yang menjelaskan bahwa kedua orangtua Nabi dan orang-orang sebelum diutus Nabi Muhammad adalah tergolong orang yang dalam masa fathrah.

Mereka tak tergolong sebagai orang musyrik (Hasyiah as-Sindi, juz 3/348 versi Syamilah). Pendapat ini dikuatkan dengan ayat Alquran: “Kami bukan penyiksa (siapa pun), sampai kami mengutus seorang Rasul (kepada mereka)” (Q.S. Al-Isra: 15).

Imam Suyuthi mengarang dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orangtua Muhammad Saw. akan selamat. Kedua kitab tersebut berjudul al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta’zhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah.

Selain kedua kitab itu, ada deretan karya ulama lain, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba’ as-SyarifahNasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifainal-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba’ al-Jaliyyah.

Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orangtua Rasulullah akan masuk neraka. Yang terbaru, Dar Ifta Mesir bereaksi keras atas pendapat bahwa kedua orang tua nabi kelak di neraka, yang diangkat kembali oleh Syekh Abdullah bin Baz, seperti dilansir Republika.co.id.

Terlepas dari silang pendapat di atas, ternyata penulis artikel itu kurang lengkap menukil penjelasan dari Kitab Aun alMa’bud. Di akhir penjelasan, Syekh Abu Thayib menukil pendapat sebagian ulama bahwa tawaquf (menahan diri dari pembahasan) dalam masalah ini adalah lebih selamat.

Ini merupakan ungkapan yang indah (Aun al-Ma’bud, juz 10/236). Di sisi lain, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama tidak sampai memvonis sesat pendapat yang berbeda. Dari judul artikel di atas, secara jelas penulis memvonis keyakinan bahwa orangtua Rasulullah selamat adalah salah dan sesat.

Kalaupun orangtua Rasulullah benar-benar tidak selamat, lalu tidakkah penulis itu berpikir bahwa membicarakan hal itu berlarut-larut, tidakkah Rasulullah merasa tersakiti dan merasa sedih? Apalagi jika pendapat tersebut salah dan ternyata kelak orangtua Rasulullah tergolong orang selamat karena termasuk golongan ahli fathrah.

Bukankah dosa berganda akan dia terima beserta para pengikutnya? Maka sebagaimana pendapat ketiga yang dikutip Syekh Abu Thayib tersebut, tawaquf adalah lebih selamat. Cukuplah firman Allah Swt. menahan kita dari berlarut-larut dalam pembahasan ini. “Orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 61).

Baca juga:  Sebuah Fragmen Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama, Komite Hijaz, dan Posisi NU

2. Berdiri Ketika Salawat

Dalam artikel tersebut, setelah mengetengahkan silang pendapat ulama tentang berdiri saat maulid (mahalul qiyam), penulisnya menyisipkan kalimat yang fatal. “Padahal Rasulullah Saw. telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.”

Pada dasarnya, Wahabi menganut pendapat bahwa mengucap salam dan memanggil orang yang telah mati adalah terlarang. Padahal Nabi sendiri bersabda, “Tidaklah seorang muslim mengucap salam kepadaku, kecuali Allah telah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salam itu,” (HR. Abu Daud).

Hadis tersebut jelas sekali menyatakan bahwa Nabi Muhammad menjawab setiap salam kepadanya. Makna “kembalinya ruh” ini menjadi perbedaan pendaapt antara ulama Hadis. Al-Baihaqi berpendapat bahwa para nabi setelah wafat, ruhnya dikembalikan lagi dan mereka hidup disisi Tuhannya sebagaimana para syuhada (‘Aun al-Ma’bud, juz 6/28).

Argumen lain atas masalah ini tidak mendasarkan pada kehadiran ruh atau sosok Nabi, karena hal terebut adalah masalah gaib yang tak layak diperdebatkan. Tetapi, argumen ini menyatakan, berdiri saat pembacaan maulid bukanlah menghormat kepada Nabi baik ruh ataupun jasadnya, namun menghadirkan sosok beliau dalam jiwa dan rasa. Dan hal inilah yang dicontohkan oleh para ulama pembesar mazhab.

Dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, juz X/101-102, diceritakan bahwa Imam Taqiyuddin as-Subki (683-756 H/1283-1355 M) saat khataman pelajaran di Masjid Agung al-Umawi, Damaskus, beliau bersama ulama pakar hukum semasanya mendengar untaian syair pujian untuk Nabi Saw. karya Yahya bin Yusuf as-Sharshari (588-656 H/1192-1258 M) yang berbunyi:

Sedikit pujian bagi Nabi terpilih

Tulisan emas tergores pada pada perak lebih baik dari kitab-kitab

Orang-orang mulia bangkit saat mendengarnya 

Baris berdiri atau bertumpu pada lutut.

Ingatlah! Dengan memuliakannya, Allah menulis namanya di ‘Ars

Wahai pemilik derajat agung nan unggul atas seluruh derajat

Ketika sampai bait kedua, Imam as-Subki berdiri mengikuti ajakan as-Sharshari dan diikuti semua hadirin. Tiba-tiba mereka merasakan suasana yang luar bisa. Setidaknya, inilah contoh paling jelas yang dilakukan para ulama agung.

Maka apa salahnya dengan ucapan Ya nabi salam alaika, marhaban ya nur al-aini, dsb dalam kitab al-Barzanji? Bukankah sejenis dengan assalamu alaika ayyuhan nabiyyu yang dibaca dalam salat. Kecuali Anda telah melakukan bidah dengan mengubah bacaan tersebut dengan assalamu ‘alan Nabi.

3. Syair Syirik karena Mengkultuskan Nabi

Pada poin ini, penulis artikel Lima Kesesatan Kitab al-Barzanji menyoroti kata-kata pada bagian syair kitab Barzanji berikut: ya basyiru ya nadhiru, ya mujiru min as-sa’iri, dan ya ghiyatsi ya maladzi. “Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat untuk meminta tolong dan bantuan …,” demikian tulisnya.

Sudah maklum bahwa Wahabi paling anti dengan sanjungan kepada Nabi. Sikap hati-hati yang kebablasan itu membuat mereka menafikan, melupakan bahkan membantah hadis maupun ayat yang membantah pemahaman tersebut. Penulis artikel itu tampaknya tak bisa menyerap kiasan-kiasan yang ditampilkan al-Barzanji dalam syairnya. Sehingga, kata-kata sanjungan itu dianggap telah melampaui batas.

Terkait kata basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan), dalam Alquran bahkan ada 3 ayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Sang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Lihat surah al-Baqarah ayat 119, as-Saba` ayat 28, Fathir ayat 24. Kitab Alquran juga disifati dengan basyir dan nadzir, sebagaimana dalam surat Fushilat ayat 4.

Sehingga, memuji Nabi dengan ungkapan Ya basyiru Ya nadziru, tidaklah bertentangan dengan sabda beliau, “Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan setan menggelincirkanmu.” Karena apa yang diungkapkan tidaklah melampaui sanjungan Allah Swt.

Kemudian kata “ya mujiru min sa’iri (wahai penyelamat dari neraka sa’ir)”. Kata al-mujir (sang penyelamat) tidak khusus untuk meyifati Allah Swt. dan bukan termasuk salah satu dari 99 asma al-husna yang tercantum dalam Hadis. Mengenai kata Mujir, dalam  surah al-Mu’minun ayat 88 Allah berfirman:

Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedangkan Dia melindungi (menyelamatkan) tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui.

Dalam surah at-Taubah ayat 6 Allah berfirman:

Jika seseorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ke tempat yang aman baginya.

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa sifat “menyelamatkan” bukanlah khusus bagi Allah. Makhluk pun disifati oleh Allah bisa menyelamatkan, tentu sesuai dengan kadarnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Tiap-tiap nabi mempunyai doa yang dikabulkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat (pertolongan) di akhirat,” (HR Bukhari). Kalau Rasulullan diberi kemampuan menolong umatnya dari neraka, berlebihankah jika kita memanggilnya “Wahai sang penyelamat dari neraka”?!

Kata ghiyats (sang penolong) dan maladz (tempat berlindung). Rasulullah Saw. Bersabda, “Sungguh pada hari kiamat matahari mendekat hingga keringat mencapai separuh telinga. Saat itu mereka meminta tolong kepada Nabi Adam, Musa, lalu kepada Muhammad Saw.,” (HR. Bukhari).

Hadis ini menggunakan kata istaghatsu (beristigasah atau minta tolong). Saat Nabi menolong umat manusia agar disegerakan hisabnya, tidaklah berlebihan jika beliau disifati sebagai Sang Penolong, tentu sesuai kadar makhluk. Memahamai kata-kata yang sepintas adalah sifat Allah semata dan tak pantas disandang makhluk seperti inilah perlu lebih teliti dan tidak main pukul rata. Karena, nyatanya Allah sendiri yang menyifati makhluknya dengan kata-kata itu.

4. Kesesatan Kreasi dalam Menulis Salawat

Pada poin keempat ini, penulis artikel Lima Kesesatan Kitab al-Barzanji menyoroti kreasi salawat yang ditulis penulis kitab al-Barzanji. Menurutnya, penulis al-Barzanji telah melakukan bidah dalam menulis salawat yang tidak pernah Rasulullah Saw. ajarkan.

Dalam komentarnya, setelah membahas luas tentang keutamaan salawat secara umum, penulis artikel tersebut mengatakan, “Tetapi dengan syarat membaca salawat secara benar dan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bidah dan khufarat serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bukan mendapat ketenteraman di dunia dan pahala di akhirat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah Azza wa Jalla. Siksaan tersebut bukan karena membaca salawat, namun karena menyelisihi sunah ketika membacanya.”

Nampaknya, penulis artikel itu hanya membatasi bahwa “membaca salawat secara benar” adalah salawat yang bersumber dari Nabi saja. Dia menafikan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat telah menyusun berbagai redaksi salawat versi mereka.

Baca juga:  Surga Bukan Ditentukan karena Anda NU, Muhammadiyah, Salafi, Syiah, JIL atau ISIS!

Salawat yang dikreasikan tidak sesuai versi Rasulullah Saw. itu selalu berisi sanjungan pada Nabi yang menurut standar Wahabi pastilah sebuah pengkultusan. Lebih jelasnya baca “Ini Lima Sahabat Nabi dan Tabiin Yang Lakukan Kreasi Dalam Doa dan Salawat.” Masihkah berani mengatakan syirik terhadap salawat dengan redaksi bukan dari nabi, berisi sanjungan tinggi, yang berasal dari sahabat nabi?

Dari contoh yang diajarkan para sahabat dan tabiin, bisa dimengerti bahwa kreasi bentuk salawat tidaklah dilarang. Apalagi kreasi seorang ulama besar, mufti mazhab Syaif’i, Syekh Ja’far. Mungkinkah ia akan menyisipkan kesyirikan? Ataukah kita yang tidak memahami arti kiasan dalam sastra Arab tersebut?

Pikirkan lagi jika Anda hendak memvonis sesat ulama yang tingkat kelimuannya jauh di atas Anda. Atau jangan-jangan bidah versi Anda itu sesuatu ibadah yang Anda tidak ketahu dalilnya, begitukah?!

5. Nur Muhammad sebagai Asal Mula Penciptaan

Pada bagian ini, artikel Abu Ubaidillah yang akan dibahas adalah pendapatnya yang mengatakan pemahaman tentang penciptaan Nabi Muhammad dari cahaya adalah faham sesat dari kalangan sufi. Memang, faham Wahabi sangat anti terhadap kaum sufi. Sebagaimana ciri khas kaum anti khilaf ini, apa yang tak sependapat pasti dihukumi sesat.

Ia menyoroti salawat di bagian awal, halaman 13 versi cetakan Al-hidayah, Surabaya, yang artinya “… dan tambahkanlah dia cahaya di atas cahaya yang telah Engkau ciptakan dia dari cahaya itu.”

Menurutnya, yang tercermin dalam ungkapan salawat tersebut adalah keyakinan bahwa cahaya Muhammad adalah awal dari segala penciptaan. Dan ini bertentangan dengan firman Allah: Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.“(QS. Al-Kahfi: 110).

Penulis artikel tersebut terlalu gegabah menunding paham atau pendapat yang berbeda darinya sebagai sesat. Dia hanya mengutip satu pendapat dari Ibnu Baz  dalam Fatawa Nur ‘Ala Darb, yang dan menjadi satu-satunya ukuran untuk memvonis sesat.

Hisam Dimasyqi dalam bantahannya mengutip sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Syekh Abdul Hadi al-Kharsah. “Mohon penjelasan rinci, bagaimana yang benar. Saya temukan dalam kitab-kitab ulama, bahwa yang pertama kali diciptakan adalah cahaya Nabi Muhammad Saw. dan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah asal dari segala makhluk yang diciptakan.”

Beliau menjawab, masalah tersebut adalah perbedaan pendapat. Hal yang kami yakini adalah bahwa Nabi Muhammad adalah cahaya dari sisi ruhnya dan manusia biasa dalam hal bentuk dan rupanya. Baginya ada bermacam keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain kecuali para nabi.

Al-Lusi berkata: Nabi memiliki dua sisi, yaitu sisi yang bisa berhubungan dengan alam malaikat sehingga beliau menerima wahyu, dan sisi manusiawi yang ia menyampaikan wahyu dengannya. Malaikat diciptakan dari cahaya, kalau tak ada keserupaan bentuk dan kesamaan tercipta dari cahaya, maka tidak mungkin keduanya bisa berhubungan.

Siapa yang menafikan hal-hal istimewa pada diri seorang nabi, maka ia telah menyerupai orang kafir yang berkata kepada para nabi, “Kalian tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami.” (QS Ibrahim [14]: 10). Kita harus mengakui dan menetapkan sifat manusiawi Nabi dan sifat keistimewaan Nabi yang Allah jadikan sebagai perbedaan dari manusia yang lain. Diri Rasulullah jelaslah beda dari diri Abu Jahal sebagaimana misik berbeda dari air kencing.

Firman Allah: “Sungguh telah datang kepada kalian, cahaya dan kitab yang menjadi petunjuk.” (QS. Al-Maidah [5]: 15). Ibnu Abbas menafsiri nur adalah Nabi Muhammad. Begitu juga ath-Thabari, as-Suyuthi, dan ash-Shawi dalam Hasyiyah Tafsir al-Jalalain.

Al-Haytsami dalam Majma’ az-Zawaid meriwayatkan, Abbas bin Abdul Muthalib menyanjung Rasulullah dengan syair yang berbunyi:

“Tatkala engkau terlahir, bumi bercahaya, dan kaki langit menjadi terang karena sinarmu.”

“Kami dalam naungan terang dan cahaya itu, lalu jalan petunjuk pun terbuka”

Tentang hadis yang menyatakan bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama, ulama hadis terdahulu maupun sekarang berbeda pendapat. Sebagian besar menilai sebagai hadis palsu, sebagian mengatakan daif, ada yang menilai hasan, dan ada yang menganggap sahih dari sisi sanad.

Hadis tersebut dinukil oleh Ali al-Qari dalam al-Murid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi. Sementara itu, Sayid Muhammad Alawi al-Maliki  berpendapat, “Sanad Jabir tidaklah bermasalah, sedang matannya diperselisihkan ulama karena gharib. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al-Bayhaqi.”

Terkait hadis lain, “Yang pertama kali diciptakan adalah Qalam,” dalam riwayat lain “Akal”, maknanya adalah paling awal secara idhafi atau dibandingkan dengan hal sesudahnya.

Syekh Badrudin al-Aini dalam Umdah al-Qari, ketika menyimpulkan riwayat-riwayat hadis tentang yang paling awal diciptakan, mengatakan itu adalah awal nisbi. Karena setiap hal bisa dikatakan ia paling awal bila dibanding dengan apa yang setelahnya.

Adapun pendapat bahwa Nabi Muhammad adalah asal dari segala penciptaan, dan segalanya diciptakan karena dari cahayanya atau karena cahaya itu, maka tidak ada dalil sahih yang bisa dijadikan dasar. Hal tersebut hanyalah merupakan ungkapan para ulama agung dengan pemahaman mereka terhadap beberapa nash secara isyari (mentakwilkan dengan makna yang bukan makna lahiriah).

Syekh Abdul Hadi mengakhiri jawaban panjangnya dengan sikap tawaquf atau menahan diri, tanpa menyetujui maupun membantah karena masalah ini, apakah segala sesuatu tercipta dari Cahaya Muhammad, bukanlah bagian pokok dari akidah yang wajib diketahui oleh Muslim. Menurutnya, membahas soal ini hanya akan membuang waktu, menyulut permusuhan dan mengungkit khilafiah yang tak penting.

Begitulah sikap hati-hati ulama Ahlussunnah dalam menghadapi perbedaan pendapat yang telah lama terjadi dalam kalangan ulama. Mereka membantah, melemahkan pendapat tanpa menyalahkan, menyesatkan dan mensyirikkan, Wallahu A’lam.

 

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *