Pembaca Kitab Barzanji Dianggap Sesat, Ini 5 Bantahannya

  • 10
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares

DatDut.Com – Ada sebuah artikel lawas yang dimuat Nahimunkar.com, bersumber dari Syabaabussunnah.wordpress.com. Artikel tersebut menarik perhatian saya. Artikel tersebut disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.

Selanjutnya, artikel ini menyebar di berbagai situs online lain yang sama-sama suka membahas bidah, syirik, dan kafir. Karena masalah maulid selalu “dihangatkan” tiap tahun, maka artikel lawas itu otomatis akan diakses dan terus disebar.

Lima Kesesatan dalam Kitab al-Barzanji. Judul khas yang menunjukkan identitas aliran yang dianut penulisnya. Sebenarnya, artikel tersebut secara umum sudah terbantahkan dengan berbagai artikel yang mengetengahkan jawaban atas poin yang dibicarakan. Namun, bantahan itu bersifat perpoin saja dari kelima hal yang dibahas.

Oleh karena itu, saya ingin menyajikan sanggahan atas artikel tersebut dari berbagai sumber seperti sarkub.com, nu.or.id, dan lain-lain. Metode yang saya gunakan adalah memahami dan meneliti dalil-dalil dan pendapat ulama yang disajikan lalu membuka rujukan tersebut dari kitab aslinya. Kebetulan rata-rata saya miliki dalam bentuk PDF.

Sebelum masuk ke pembahasan, ada hal lucu yang ditulis dalam artikel itu. Dengan mengutip dari al-Munjid fil ‘Alam (h. 125), penulis artikel tersebut mengatakan bahwa pengarang al-Barzanji, Sayyid Ja’far adalah mufti kalangan Syafi’iyah. Ya, itu informasi yang benar.

Sayid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki, dalam Hawl al-Ihtifal bi Dzikra al-Mawlid an-Nabawi asy-Syarif (h.99) juga mengungkap profil singkat al-Barzanji. Ja`far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji itu ahli Hadis yang juga mufti Syafi`iyah di Madinah al-Munawwarah.

Terdapat perselisihan pendapat tentang tahun wafatnya. Sebagian ulama menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177 H (1763 M). Imam Az-Zabidy dalam al-Mu`jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184 H (1770 M). Imam Az-Zabidy pernah berjumpa beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi.

Penulis artikel tersebut keliru karena menambahkan asumsinya sendiri dengan mengatakan bahwa Ja’far al-Barzanji adalah penganut tasawuf dan bermazhab Syiah. Ini adalah kerancuan. Seorang mufti mazhab Syafi’i dikatakan juga bermazhab Syiah.

Lucunya, tuduhan itu hanya berlandaskan sebuah doa dalam al-Barzanji (h. 132), yang bunyinya, “Berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu’man.”

Seharusnya, untuk memastikan kesyiahan seorang ulama jaman dahulu, perlu adanya referensi dari kitab sejarah atau tarikh. Dan sangat aneh kalau ada Syiah tapi bermazhab fikih Syafi’i. Lalu, apakah doa tersebut bisa jadi ukuran kesyiahan seseorang?

Selanjutnya, mengawali pembahasan dengan menyoroti kesalahan umum kitab al-Barzanji, penulis artikel itu menuduh bahwa pembaca al-Barzanji menganggap bacaan al-Barzanji lebih utama ketimbang Alquran. Ini adalah tuduhan yang mengada-ada.

Dari mana dia melakukan penelitian? Siapa pun tahu bahwa kitab al-Barzanji tak lebih dari sejarah dalam bentuk sastra dan salawat. Tak akan bisa menyamai derajat Alquran yang tiap hurufnya berpahala 10 kebaikan.

Kalau ada yang hafal kitab al-Barzanji dan tidak hafal Alquran, lantas bisakah kita memvonis kesesatan seseorang berdasarkan hal tersebut? Ini juga secara tidak langsung mendiskreditkan para pembaca kitab al-Barzanji yang dilakukan hampir seluruh santri salaf di pesantren-pesantren.

Baca juga:  Qawa’idul I’lal fish Sharf, Kitab Kecil tentang Berbagai Perubahan Kata Bahasa Arab

Di bagian pembukaan saja, artikel itu telah menyuguhkan hal-hal kurang berbobot karena hanya asumsi tanpa bukti. Lalu, bagaimana isinya? Berikut bantahan atas artikel “Lima Kesesatan Kitab al-Barzanji”:

1. Orangtua Nabi Muhammad Saw. Masuk Neraka

Penulis menyalahkan al-Barzanji yang meyakini bahwa orangtua Rasulullah selamat. Menurut pendapat yang dianut penulis artikel itu, orangtua Rasulullah Saw. masuk neraka. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat Muslim.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, di manakah ayahku (di akhirat nanti)?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Saat lelaki itu berpaling pergi, Nabi memanggilnya lalu berkata, “Sungguh bapakku dan bapakmu di neraka.”

Ulama berbeda pendapat tentang masalah ini. Sebagian antara mereka, Imam Nawawi yang dalam tulisan itu dijadikan sebagai sumber utama, memang berpendapat bahwa kedua orangtua Nabi termasuk golongan orang tak beriman sama seperti para penyembah berhala.

Pendapat tersebut tidak menafikan bahwa orang Arab kala itu dalam masa fathrah atau ketiadaan rasul, karena dakwah Nabi Ibrahim telah sampai pada mereka sebelumnya lalu ajaran beliau diselewengkan, seperti dijelaskan dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi (3/74).

Sependapat dengan Imam Nawawi, Ibrahim al-Halabi dan Ali al-Qari menulis kitab tersendiri untuk membahas persoalan orangtua Nabi berdasarkan hadis ini.

Sementara itu, mayoritas ulama mazhab Syafi’i dan Asy’ariyah sependapat dengan Imam Suyuthi yang menjelaskan bahwa kedua orangtua Nabi dan orang-orang sebelum diutus Nabi Muhammad adalah tergolong orang yang dalam masa fathrah.

Mereka tak tergolong sebagai orang musyrik (Hasyiah as-Sindi, juz 3/348 versi Syamilah). Pendapat ini dikuatkan dengan ayat Alquran: “Kami bukan penyiksa (siapa pun), sampai kami mengutus seorang Rasul (kepada mereka)” (Q.S. Al-Isra: 15).

Imam Suyuthi mengarang dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orangtua Muhammad Saw. akan selamat. Kedua kitab tersebut berjudul al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta’zhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah.

Selain kedua kitab itu, ada deretan karya ulama lain, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba’ as-SyarifahNasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifainal-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba’ al-Jaliyyah.

Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orangtua Rasulullah akan masuk neraka. Yang terbaru, Dar Ifta Mesir bereaksi keras atas pendapat bahwa kedua orang tua nabi kelak di neraka, yang diangkat kembali oleh Syekh Abdullah bin Baz, seperti dilansir Republika.co.id.

Terlepas dari silang pendapat di atas, ternyata penulis artikel itu kurang lengkap menukil penjelasan dari Kitab Aun alMa’bud. Di akhir penjelasan, Syekh Abu Thayib menukil pendapat sebagian ulama bahwa tawaquf (menahan diri dari pembahasan) dalam masalah ini adalah lebih selamat.

Ini merupakan ungkapan yang indah (Aun al-Ma’bud, juz 10/236). Di sisi lain, perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama tidak sampai memvonis sesat pendapat yang berbeda. Dari judul artikel di atas, secara jelas penulis memvonis keyakinan bahwa orangtua Rasulullah selamat adalah salah dan sesat.

Baca juga:  Gaya Khas Kaum Salafi dalam Berbicara dengan Khalayak

Kalaupun orangtua Rasulullah benar-benar tidak selamat, lalu tidakkah penulis itu berpikir bahwa membicarakan hal itu berlarut-larut, tidakkah Rasulullah merasa tersakiti dan merasa sedih? Apalagi jika pendapat tersebut salah dan ternyata kelak orangtua Rasulullah tergolong orang selamat karena termasuk golongan ahli fathrah.

Bukankah dosa berganda akan dia terima beserta para pengikutnya? Maka sebagaimana pendapat ketiga yang dikutip Syekh Abu Thayib tersebut, tawaquf adalah lebih selamat. Cukuplah firman Allah Swt. menahan kita dari berlarut-larut dalam pembahasan ini. “Orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 61).

2. Berdiri Ketika Salawat

Dalam artikel tersebut, setelah mengetengahkan silang pendapat ulama tentang berdiri saat maulid (mahalul qiyam), penulisnya menyisipkan kalimat yang fatal. “Padahal Rasulullah Saw. telah berada di alam Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga, sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.”

Pada dasarnya, Wahabi menganut pendapat bahwa mengucap salam dan memanggil orang yang telah mati adalah terlarang. Padahal Nabi sendiri bersabda, “Tidaklah seorang muslim mengucap salam kepadaku, kecuali Allah telah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salam itu,” (HR. Abu Daud).

Hadis tersebut jelas sekali menyatakan bahwa Nabi Muhammad menjawab setiap salam kepadanya. Makna “kembalinya ruh” ini menjadi perbedaan pendaapt antara ulama Hadis. Al-Baihaqi berpendapat bahwa para nabi setelah wafat, ruhnya dikembalikan lagi dan mereka hidup disisi Tuhannya sebagaimana para syuhada (‘Aun al-Ma’bud, juz 6/28).

Argumen lain atas masalah ini tidak mendasarkan pada kehadiran ruh atau sosok Nabi, karena hal terebut adalah masalah gaib yang tak layak diperdebatkan. Tetapi, argumen ini menyatakan, berdiri saat pembacaan maulid bukanlah menghormat kepada Nabi baik ruh ataupun jasadnya, namun menghadirkan sosok beliau dalam jiwa dan rasa. Dan hal inilah yang dicontohkan oleh para ulama pembesar mazhab.

Dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, juz X/101-102, diceritakan bahwa Imam Taqiyuddin as-Subki (683-756 H/1283-1355 M) saat khataman pelajaran di Masjid Agung al-Umawi, Damaskus, beliau bersama ulama pakar hukum semasanya mendengar untaian syair pujian untuk Nabi Saw. karya Yahya bin Yusuf as-Sharshari (588-656 H/1192-1258 M) yang berbunyi:

Sedikit pujian bagi Nabi terpilih

Tulisan emas tergores pada pada perak lebih baik dari kitab-kitab

Orang-orang mulia bangkit saat mendengarnya 

Baris berdiri atau bertumpu pada lutut.

Ingatlah! Dengan memuliakannya, Allah menulis namanya di ‘Ars

Wahai pemilik derajat agung nan unggul atas seluruh derajat

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *