Pelajaran Berharga dari Tsalabah, Orang Kaya Baru Zaman Nabi

  • 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

DatDut.Com – Kekayaan merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Mensyukuri kekayaan dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan positif, seperti membuat lembaga pendidikan, panti asuhan, dan lain sebagainya. Namun, ada sebagian orang kaya enggan berbagi dengan sesamanya dengan berbagai macam alasan.

Konon, di masa Nabi, ada seseorang bernama Tsalabah yang hanya memiliki sehelai pakaian yang digunakan secara bergantian dengan istrinya. Dia rajin salat berjamaah. Suatu ketika dia bosan hidup dalam keadaan miskin. Akhirnya, dia mencari cara praktis agar kehidupannya dapat berubah.

Pria penggembala kambing ini minta pada Nabi agar dijadikan orang kaya. Namun, Nabi tidak langsung memenuhi keinginan Tsalabah. Baginda Nabi khawatir Tsalabah tidak mampu memikul amanat kekayaan yang nantinya akan menjadi miliknya.

Karena terus merengek, Nabi pun mencoba berdoa pada Allah untuk menjadikan Tsalabah sebagai orang kaya. Akhirnya Tsalabah menjadi orang kaya.

Namun sayang, kekayaan tersebut membuatnya lupa daratan. Prediksi Nabi ternyata benar. Tsalabah jarang salah berjamaah lagi. Dia juga kikir, tidak mau bayar zakat. Kurang lebih begitu cerita yang beredar di masyarakat.

Terlepas benar tidak kejadian tersebut ada di masa Nabi, namun kita dapat memetik pelajaran dari kisah di atas. Saya rekomendasikan untuk merenungi 5 pelajaran dari kisah tersebut. Yuk, merenung bersama.

1. Mau Kaya Jangan Instan

Semua yang instan pasti akan berdampak negatif. Misalnya mie instan. Bila Anda terlalu sering mengkonsumsi mie instan, kesehatan Anda di kemudian hari akan memburuk.

Anda bisa terkena kanker. Kopi instan pun begitu. Lambung Anda akan bermasalah bila terlalu sering meminum kopi instan (Baca: Ini 5 Bahaya Kopi Instan yang Wajib Kamu Tahu). Selain itu, Anda juga dapat terkena sakit ginjal.

Baca juga:  Innalillahi, Pak Maftuh Basyuni, Menteri Agama di Era SBY, Wafat

Nah, kekayaan yang didapatkan dengan cara instan pun demikian. Efek negatif yang sering terdeteksi dari kaya dadakan adalah sombong, pelit, dan suka pamer. Karenanya, bila Anda ingin kaya, bersabarlah dan berproses sebagaimana orang kaya lainnya yang mendapatkan hasil jerih payahnya dengan susah payah.

2. Biarlah Tuhan yang Memilihkan Langkah Anda

Pilihan Tuhan berbeda dengan pilihan manusia. Pilihan Tuhan memang terkadang awalnya terasa menyakitkan. Namun, tidak jarang setelah itu pasti ada hikmah di balik peristiwa menyakitkan tersebut yang kita ketahui di kemudian hari.

Biasanya, jika perbuatan yang kamu lakukan berkali-kali gagal, minimal tiga kali, berarti itu bukan pilihan Tuhan. Misalnya, Anda seorang kiai yang memiliki santri cukup banyak, terbiasa salat berjamaah dan mengaji bersama santri. Anda merasa jadi kiai kok tidak kaya-kaya.

Tiba-tiba, di hati Anda terbesit keinginan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), karena melihat tetangga Anda yang menjadi anggota DPR itu kaya raya.

Anda mencoba mencalonkan diri sebagai anggota dewan, namun berkali-kali juga gagal. Nah, bisa jadi itulah pilihan Tuhan yang terbaik. Anda tetap menjadi kiai yang fokus ngurusin santri.

3. Sudah Kaya Jangan Lupa Berbagi

Orang yang terbiasa susah secara ekonomi kemudian mendapatkan kekayaan nomplok terkadang kerap lupa akan asal usulnya. Hal ini tentu berbeda dengan orang susah yang kemudian sukses dengan keringatnya sendiri.

Berbagi pada sesama merupakan kewajiban kita sebagai makhluk sosial. Semakin banyak harta yang kita miliki seharusnya semakin cepat kita menjadi dermawan. Toh, kekayaan yang kita miliki tidak akan di bawa mati. Konon, orang yang terakhir masuk surga itu orang-orang kaya.

Baca juga:  Kiai Subeki Parakan, Ulama Zaman Penjajahan yang Usul Bambu Runcing Jadi Senjata Lawan Belanda

4. Berbagi Jangan Menunggu Kaya

Berbagi pada sesama tidak perlu menunggu kaya dulu. Kalau begitu cara berpikirnya, kita tidak akan pernah berbagi pada orang lain yang membutuhkan. Wong, kita sendiri saja belum kaya.

Tuhan menilai amal baik seseorang itu bukan dari berapa banyak Anda memberi, bukan dari kuantitas yang Anda sumbangkan. Tuhan menilai seberapa besar keikhlasan Anda memberi, walaupun pemberian Anda pada orang lain hanya sebesar biji bayam.

5. Hidup Akan Selalu Berputar

Selain Tuhan, semuanya tidak ada yang kekal. Saat ini kita kaya, bisa saja besok atau lusa kekayaan kita akan ludes karena bangkrut. Ingatlah, kehidupan itu selalu berputar. Ada siang juga ada malam. Ada si kaya juga ada si miskin. Ada kesuksesan juga ada kegagalan.

Karena itu, mohonlah selalu pada Allah agar segala langkah yang kita pilih merupakan bimbingan dari-Nya. Kita perlu khawatir akan salah langkah jika tidak selalu memohon pada-Nya. Jadi, tawakal setelah berusaha maksimal itulah kunci keberhasilan mukmin sejati. (Ibnu Harish)

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *