Para Korban Hoax dalam Sejarah dan Sikap Kita

  • 19
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

DatDut.Com – Ibunda Aisyah r.a. pernah diisukan sebuah berita hoax. Beliau dituduh melakukan perselingkuhan dengan seseorang bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwan oleh seorang munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Bahkan, hampir saja Rasulullah Saw percaya hal itu, jikalau tidak ada QS An-Nur: 11-20 turun. Kisah ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa haditsul ifki.

Khalifah Utsman bin Affan r.a. wafat terbunuh juga karena diisukan berita hoax melakukan KKN. Hal yang sama juga terjadi pada Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. yang dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam juga karena si pembunuh termakan berita hoax bahwa Ali melanggar hukum Allah Swt.

Negara Syria, Yaman, Libia, dan Iraq hancur lebur, sesama bangsa sendiri sendiri saling berperang sampai saat ini juga karena penduduknya masing-masing termakan berita hoax. Sejak Arab Spring, Mesir juga hampir saja terpecah penduduknya karena berita hoax.

Inilah mengapa Alquran mengajarkan kita terkait dengan berita hoax. “Wahai orang-orang yang beriman! Sekiranya datang kepada kalian orang fasiq dengan satu berita, hendaklah kalian selidiki (tabayyun) supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian,” (QS Al-Hujurat, 6).

Baca juga:  Boni Hargens Sudah Minta Maaf, Tapi Pelecehan terhadap Ketua MUI Viral di Medsos

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan kerana Al-Walid bin Uqbah ketika diutus oleh Rasulullah Saw. kepada Bani Mushthaliq untuk memungut zakat.

Di pertengahan jalan, timbul rasa takut dalam hati beliau terhadap Bani Mushthaliq. Lalu beliau kembali kepada Rasulullah dan melaporkan bahwa Bani Mushthaliq tidak mau menyerahkan zakat, dan malah ingin membunuhnya. Setelah diselidiki, ternyata laporan itu adalah dusta semata-mata.

Ayat ini sepatutnya menjadi pegangan seluruh umat Islam dalam berinteraksi dengan berita yang sampai kepada mereka. Apa jadinya kalau akademisi, agamawan (kyai, ustad, dai, muballigh), toga (tokoh agama), tomas (tokoh masyarakat), aktivis, politisi, negarawan, mudah dikecoh dan mudah reaksioner oleh berita-berita yang belum jelas tanpa melakukan check dan recheck. Apa kata dunia?

Baca juga:  Efek Banjir Informasi Tapi Miskin Literasi

Lalu, tabayun-nya bagaimana? Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam,” (HR Bukhari Muslim).

Berkata yang baik bisa lewat tulisan atau perkataan. Diam itu bisa mulut yang diam atau diamnya tangan dengan tidak asal nge-share.

Dengan fenomena yang terjadi sekarang ini memang kita perlu memiliki literasi media sosial dengan baik, karena percepatan perkembangan dunia maya saat ini kalau tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang cukup, bisa berbahaya dan merugikan masa depan kita, termasuk berbangsa.

Komentar

Muhandis Azzuhri

Muhandis Azzuhri

Dosen IAIN Pekalongan dan Alumni Universitas Al Azhar Kairo
Muhandis Azzuhri

Latest posts by Muhandis Azzuhri (see all)

  •  
    19
    Shares
  • 19
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *