Jangan Pamerkan Ibadahmu, Apalagi di Media Sosial!

Pin It

DatDut.Com – Salah satu penyakit berbahaya dalam diri setiap orang adalah riya atau pamer. Riya biasa kita sebut juga pamer kebaikan. Pada dasarnya, riya merupakan tindakan menarik perhatian dan penghormatan.

Riya juga berarti mengerjakan perbuatan lantaran mengharap pujian dan sanjungan orang lain, bukan didasarkan keikhlasan. Saat ini media sosial telah menjelma jadi tempat yang memungkinkan semua orang memamerkan apa pun, termasuk ibadah. Jadi, pesan jangan pamer saat ini berlaku tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya, termasuk media sosial.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa pada umumnya, istilah riya terkhususkan untuk perbuatan menarik perhatian dan posisi kehormatan di hati orang lain dengan ibadah. Batasan riya adalah tujuan mendapat perhatian sesama hamba memakai ketaatan kepada Allah.

Sikap pamer sebenarnya juga seirng dilakukan orang-orang kaya dan pencinta dunia. Mereka memamerkan kekayaan dan kemewahan agar mendapat tempat lebih dalam pandangan orang banyak. Hal itu adalah buruk dan tercela. Namun, yang lebih buruk adalah riya dengan mempergunakan ketaatan atau ibadah.

Sebagai penyakit hati atau rasa, riya hanya bisa diketahui oleh pelakunya. Menuduh atau mencurigai orang lain riya dengan amal baiknya adalah kurang tepat. Cukuplah kita koreksi diri.

Dalam keseharian, riya tersisip dalam perilaku kita tanpa disadari. Karenanya perlu diwaspadai dan lebih teliti terhadap diri sendiri dalam berbagai amaliah. Menurut Imam al-Ghazali, 5 hal berikut ini biasa dijadikan media riya:

1. Badan

Bagi yang tekun beribadah dan menjalankan agamanya, badan kurus bisa menjadi bahan untuk riya. Biar disangka sebagai orang yang rutin puasa, sedikit makan. Kalau istilah santrinya kebanyakan tirakat. Memang, penampilan lusuh, kurus dan kuyu bagi sebagian kalangan agama justru menjadi ciri orang yang tekun ibadah.

Karena mencegah timbulnya rasa ingin terlihat beribadah, diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s. bersabda, “Bila salah satu dari kalian berpuasa, hendaklah ia meminyaki dan menyisir rambutnya, dan memakai celak mata.” Hal itu bertujuan agar tidak tampak orang lain bahwa ia sedang puasa.

Lain lagi para penggemar dunia. Postur badan tegap, gagah, otot kokoh, penampilan mempesona adalah bahan untuk masuknya rasa ingin dianggap “wah” orang lain.

2. Rupa dan Aksesoris

Penampilan rupa dan perilaku ahli ibadah juga bisa menjadi jalan masuknya sifat riya. Ada yang membiarkan rambut, jenggot dan pakaiannya tidak terurus agar tampak khusyu sehingga tidak sempat berhias diri.

Baca juga:  Dianggap Kualitasnya Mendekati Alquran, Inilah 5 Kitab Syarah Ihya' Ulumiddin Terpopuler

Zaman sekarang pun, penonjolan simbol-simbol agama dan identitas ketekunan berislam juga marak. Sebenarnya semua itu sah-sah saja. Tetapi perlu juga meneliti dan menelisik perasaan diri yang terdalam, apakah ada terbetik rasa agar ingin dipandang sebagai orang yang taat? Nah, rasa ingin dan agar yang tertuju kepada selain Allah itulah percik-percik riya yang harus dihapuskan.

Ahli dunia pun punya poin ini untuk jadi bahan timbulnya riya. Berbagai barang-barang mewah, kendaraan, perhiasan, rumah indah, aksesoris, yang tujuannya agar lebih meningkatkan level diri dalam padangan orang, itulah yang menjadi riya.

3. Perkataan

Ahli agama ber-riya ria dengan berbagai nasihat, motivasi, dalil-dalil Alquran dan hadis yang kesemuanya ditujukan untuk memperlihatkan intelektualitas dan keluasan wawasan. Bibir yang tampak tak henti bergerak dengan zikir, memperlihatkan kemarahan dan kesedihan atas berbagai maksiat dan sebagainya.

Ahli dunia berpotensi riya dengan banyaknya mengahafal teks satra dan berbagai kisah atau sejarah. Ada juga yang memperhalus tutur katanya terhadap sesama dengan tujuan agar orang kian tertarik olehnya.

4. Perbuatan atau Amal

Orang salat pun bisa riya lho. Memperlama berdiri, memperindah rukuk dan sujud, menundukkan kepala dalam-dalam yang kesemuanya bertujuan agar terlihat khusyu oleh orang lain. Bahkan berzakat, puasa dan haji pun tak lepas dari bisikan rasa ingin dianggah wah orang.

Bagi yang suka berzakat dengan mengundang para mustahik ramai-ramai dan antri sampai perlu meminta bantuan aparat, tampaknya perlu menelisik niatnya apakah sudah lurus. Tidakkah sebaiknya dan lebih memuliakan orang miskin jika zakat itu disampaikan langsung pada mereka?

5. Pergaulan dan Relasi

Luasnya pergaulan dan banyaknya relasi orang terkenal bisa menjadi bahan riya. Entah kalangan agamis maupun kalangan pebisnis, memiliki rekan dan kenalan dengan orang-orang yang levelnya lebih tinggi, bisa menjadi hal yang dipamerkan.

Kalangan agamis misalnya memamerkan bahwa ia pernah berziarah ke syekh ini, imam itu, sayyid sana, guru sini. Yang tujuannya agar orang lain memandangnya sebagai seorang yang beroleh berkah para orang mulia tersebut.

Baca juga:  Kalau Jakarta Masih Banjir, Itu Namanya Gubernur Gagal! Netizen Bully Ahoker Sombong

Begitu pula orang yang memamerkan banyaknya kenalan dari kalangan pejabat misalnya. Itu semua agar orang lain memandangnya sebagai seorang yang punya jalur lobi dan kenalan para tokoh hebat.

Hem… semuanya bisa jadi bahan riya. Tinggal menata diri dan hati untuk menghindarinya. Imam al-Ghazali sendiri memerinci hukum riya berdasarkan bahannya. Kalau yang digunakan untuk riya adalah selain ibadah, maka hukumnya sama dengan cara mencari harta. Karena tujuan utama riya atau pamer adalah menarik perhatian dan peghormatan orang. Mungkin dalam bahasa sekarang disebut pencitraan.

Riya dengan ibadah sangtlah dikecam dalam Islam. Bisa membatalkan pahala amal, bahkan tergolong syirik ashghar (syirik kecil) karena menyekutukan Allah dalam ibadahnya.

Sementara itu, Syekh Izzuddin bin Abdus Salam, menyarankan orang yang dihantui riya saat akan atau tengah beribadah, agar melakukan beberapa tindakan berikut ini agar amalnya tetap bernilai dalam pandangan Tuhan.

Hal itu diungkapkannya dalam kitab Maqashid ar-Ri‘ayah li Huquqillah. Ia berkata, “Ada tiga bentuk riya: Pertama, orang yang terbesit riya sebelum mengerjakan amalan dan dia mengerjakan amalan tersebut hanya semata karena riya. Agar selamat, orang semacam ini harus menunda amalannya sampai timbul rasa ikhlas.

Kedua, orang yang timbul di dalam hatinya riya syirik (mengerjakan ibadah karena ingin mengharap pujian manusia serta ridha Allah SWT). Ia dianjurkan untuk menunda amalan hingga benar-benar ikhlas.

Ketiga, riya yang muncul di saat melakukan aktivitas atau amalan. Orang yang dihadang riya di tengah jalan seperti ini, dianjurkan untuk menghalau gangguan itu sambil meneruskan amalannya. Kalau godaaan riya terus hadir, ia tidak perlu menggubrisnya. Diharapkan amalannya masih diterima karena tetap berpijak pada niatnya semula.”

Selamat beramal!

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *