Ternyata Pernah Suatu Masa Praktek Ibadah NU dan Muhammadiyah Tidak Ada Bedanya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia. Dua ormas ini sama-sama mempunyai kontribusi dan peran yang besar terhadap perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, putra terbaik dari masing-masing ormas ini pernah juga hingga sampai menempati kursi sebagai Presiden RI.

Kedua ormas ini punya fokus yang berbeda, meskipun pada hal-hal tertentu sempat ada kesamaannya. NU fokus ke pesantren dan kegiatan pembinaan masyarakat secara informal, sementara Muhamadiyah lebih fokus pada sekolah dan pemberdayaan sektor formal, seperti rumah sakit.

Hubungan kedua ormas ini pasang surut. Namun, belakangan sepertinya sudah tidak ada masalah yang serius di antara kedua ormas ini. Kalau pun ada perbedaan, tapi masing-masing sudah memahami posisi dan sikapnya.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pada suatu waktu kedua ormas ini pernah ada sedikit gesekan, namun perjalanan waktu membuat keduanya memahami bahwa ada hal yang penting untuk menjadi fokus bersama, di antaranya: melawan paham terorisme dan radikalisme yang mulai tumbuh subur di masyarakat, terutama kalangan muda.

Namun, siapa sangka dulunya praktek ibadah kedua ormas ini sama alias tidak ada bedanya. Sebetulnya ini tidak terlalu mengejutkan, karena pendiri kedua ormas ini satu perguruan baik ketika nyantri di sini maupun saat di Mekah. K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah) dan K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) sama-sama murid K.H. Sholeh Darat. Keduanya sama-sama belajar di Mekah yang saat itu menganut mazhab fikih Syafi’i dan mazhab teologi Asy’ari. Wajar bila keduanya mengamalkan amaliyah ibadah yang sama. 

Bukti mengenai hal ini dapat ditemukan pada ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, diterbitkan oleh Penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III. Buku ini diterbitkan tahun 1343 H/1925 M. Pada buku itu terlihat bahwa amaliyah ibadah Muhammadiyah sama dengan amaliyah ibadah warga NU seperti yang bisa ditemui di kitab Fashalatan yang bisa dibaca dan dipelajari di kalangan pesantren NU. Berikut beberapa isinya:

Baca juga:  Soal Kesucian dalam Rumah, 5 Hal Ini Perlu Diperhatikan Keluarga Muslim

1. Niat salat memakai bacaan “ushalli fardha…” (halaman 25)
2. Setelah takbir membaca: “Allahu akbar kabiran walhamdulillahi katsira…” (halaman 25)
3. Membaca surah al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26)
4. Setiap salat subuh membaca doa qunut (halaman 27)
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “sayyidina”, baik di luar maupun dalam salat (halaman 29).
6. Setelah salat disunnahkan membaca wiridan berupa: istighfar, Allahumma antassalam, subhanallah 33 x, Alhamdulillah 33 x, Allahu Akbar 33 x (halaman 40-42)
7. Salat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50)
8. Tentang salat dan khutbah Jumat juga sama dengan amaliyah NU (halaman 57-60)

Tulisan ini tidak berniat untuk memunculkan kontroversi baru dan tidak berpretensi untuk memaksa yang satu ikut yang lain. Namun, ada fakta yang memang harus diketahui oleh orang-orang yang selama ini ingin menonjolkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah. Padahal, faktanya dulunya tidak ada perbedaan itu. Perbedaan terjadi karena ijtihad baru. Maka, di sini kita penting selalu menemukan titik temu antarormas, agar masing-masing bersinergi dan bukan menonjolkan pertentangannya.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
Close