NU dan Penolakannya terhadap Full Day School

  • 36
  •  
  •  
  •  
    36
    Shares

DatDut.Com – “Menurut kami, para kiai serta banyak pihak telah menyampaikan, PBNU juga demikian, semua menolak keras. Maka saya yakin proses selanjutnya yang akan dilaksanakan ada dua. Pertama, aksi atau demonstrasi. Kedua, judicial review di MK. Kita akan menggugat Permendikbud ini.” 

Itu yang dikatakan Ketua Umum Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), K.H. Lukmam Hakim, dalam halaqah kebangsaan yang diinisiasi Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI di Hotel Acacia Jl. Kramat Raya Jakarta, Senin 7 Agustus sebagaimana dikutip oleh NU Online.

Di media sosial, kini tengah viral “Surat Terbuka untuk Kaesang Terkait Full Day School”. Postingan tersebut merupakan status facebook Syamsul Huda, Ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang diunggah pada 10 Agustus 2017.

Gencarnya penolakan nahdliyyin terhadap gagasan full day school (lima hari sekolah) yang dibesut oleh Mendikbud, Prof. Dr. Muhajir Effendy, menunjukkan kekhawatiran NU yang menjadikan madrasah diniyah sebagai salah satu basis pendidikan agamanya.

Baca juga:  Ahok Tak Juga Diberhentikan, LBH Ini Tulis Surat Terbuka untuk Presiden dan Mendagri

Saya sendiri sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan diniyah di sore hari, melihat manfaat yang begitu besar yang bisa diberikan oleh lembaga pendidikan nonformal tersebut.

Melalui madrasah diniyah semacam itu, anak-anak seusia SD diberikan pendidikan keagamaan yang tidak dijumpainya di sekolah umum.

Materi yang disuguhkan identik dengan pelajaran yang diberikan di pondok-pondok pesantren tradisional meskipun dari segi pendalaman dan variannya masih kalah dengan lembaga pendidikan para santri itu.

Bahasa Arab, tauhid, tajwid, akhlaq, khoth (seni menulis Arab), imla’ (dikte bahasa Arab), pegon (baca tulis bahasa Jawa dengan abjad hijaiyah) dan sejenisnya, hingga pelajaran yang paling digemari anak-anak tarikh (sejarah) diajarkan oleh guru-guru yang tak jarang adalah lulusan pesantren pula.

Mencermati hal itu, kita bisa melihat dengan jelas perbedaan kuota pelajaran agama yang diselenggarakan di sekolah umum yang hanya beberapa jam saja dalam sepekan dengan madrasah diniyah yang selama 6 hari fokus dalam studi keagamaan.

Baca juga:  Orang Disuruh Ramah, Tapi yang Dibela Kok Orang yang Suka Marah dan Tak Terkendali Emosinya!

Bukan bermaksud membandingkan antara keduanya karena memang tidak apple to apple, melainkan sekedar memberikan deskripsi betapa madrasah diniyah memberi kontribusi lebih terhadap anak dalam khazanah spiritual.

Jadi wajar kiranya alim ulama NU dan segenap nahdliyyin merasa gundah saat ada kebijakan yang mempunyai potensi untuk menggeser pendidikan non formal tersebut. Saking besarnya kekhawatiran itu, sampai-sampai muncul gagasan untuk melaksanakan unjuk rasa tersebut.

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

One thought on “NU dan Penolakannya terhadap Full Day School”

  1. Perintah pertama yg diterima rasulullah junjungan kita adalah Iqra. Mohon meluangkan waktu membaca permendikbudnya agar terjaga diri kita masuk kategori ikut-ikutan. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *