Jelang Nishfu Sya’ban, Ini 5 Tradisi Baik yang Biasa Dilakukan Umat Islam

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 169

Waktu Baca5 Menit, 18 Detik

DatDut.Com – Bulan Sya’ban sudah mendekati pertengahan. Sebentar lagi kita akan kembali memasuki bulan agung, yaitu Ramadhan. Menurut Ustaz Tubagus Ace Hasan Syadzili, Sya’ban diambil dari kata Sya’bun (kelompok/golongan). Disebut Sya’ban karena masyarakat jahiliyyah dahulu kala berpencar pada bulan itu untuk mencari air. Ada juga yang mengatakan mereka berpencar dalam beberapa kelompok untuk perang.

Bulan Sya’ban dikatakan juga sebagai bulan yang yatasya’abu fihi al-khair (bercabang-cabang kebaikannya). Dalam salah satu hadis riwayat an-Nasa’i disebutkan bahwa pada bulan Sya’ban buku catatan amal dihaturkan kepada Allah Swt. Menghadapi bulan istimewa ini, umat Islam di tanah air memilki tradisi yang disebut Ruwahan yang artinya memperbanyak sedekah. Sehingga bulan ini disebut juga dengan bulan Ruwah.

Nah, menjelang pertengahan bulan Sya’ban ini, tidak ada salahnya kalau kita menguak beberapa amaliah yang menjadi tradisi umat islam. Sebagian ada juga yang masih diperselisihkan dan dianggap bidah. Berikut ini 5 tradisi umat Islam saat bulan Sya’ban alias Ruwah.

[nextpage title=”1. Memperbanyak Puasa”]

1. Memperbanyak Puasa

Sya’ban atau Ruwah merupakan bulan sebelum Ramadhan. Bisa dikatakan Sya’ban adalah bulan persiapan menyambut Ramadhan. Rasulullah Saw. sendiri semakin memperbanyak puasa sunah pada bulan Sya’ban.

Dari Aisyah r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban,” (HR Bukhari dan Muslim).

[nextpage title=”2. Memperbanyak Sedekah, Bacaan Alquran, dan Mengeluarkan Zakat Mal”]

2. Memperbanyak Sedekah, Bacaan Alquran, dan Mengeluarkan Zakat Mal

Dalam bulan ini juga banyak umat islam yang semakin memperbanyak sedekah. Hal tersebut memang dianjurkan, karena di bulan Sya’ban terjadi peristiwa bersejarah dalam Islam. Yang terbesar adalah turunnya perintah Allah Swt. untuk mengalihkan kiblat dari masjid al-Aqsha ke Ka’bah. Seperti anjuran umum Imam Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 6 hlm. 233, “Disunnahkan memperbanyak sedekah ketika ada peristiwa-peristiwa penting.”

Selain sedekah secara umum, meningkatakan ibadah dengan membaca Alquran juga dianjurkan. Bahkan sebaiknya zakat mal dikeuarkan pada bulan ini. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, hlm. 258, al-Hafidz Ahmad Ibnu Rajab al-Hanbali meriwayatkan atsar dengan sanad dha’if dari Anas bin Malik r.a.: “Kaum muslimin ketika telah memasuki Bulan Sya’ban maka semakin menekuni mushaf dan membaca Alquran. Mereka mengeluarkan zakat harta mereka untuk diserahkan kepada orang-orang miskin. Hal ini untuk penguatan kaum miskin memasuki bulan Ramadhan.

Baca juga:  Ini 5 Tradisi Khas Muharram

[nextpage title=”3. Berziarah Kubur atau Nyadran”]

3. Berziarah Kubur atau Nyadran

Biasanya menjelang semakin mendekati bulan Ramadhan, banyak umat Islam berziarah ke makam keluarga, terutama orangtua. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah nyadran. Memang sebaiknya ziarah tidak hanya bulan Sya’ban saja. Namun bukan berarti ziarah kubur atau nyadran pada bulan ini tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw.

Masih dalam kitab Latha’if al-Ma’arif, al-Hafidz Ibnu Rajab juga mengatakan, sebagian hadis-hadis (tentang keutamaan nishfu Sya’ban) disahihkan oleh Ibn Hibban dan diriwayatkan dalam Sahih Ibnu Hibban. Hadis terbaik di antara hadis-hadis tersebut adalah, hadis Aisyah yang berkata, “Aku kehilangan Nabi , lalu aku keluar mencarinya, ternyata beliau ada di makam Baqi’, sedang mengangkat kepalanya ke langit…”

Kutipan tersebut menegaskan bahwa Rasulullah pada malam tanggal 15 Sya’ban datang ke makam al-Baqi’.

[nextpage title=”4. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban”]

4. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Keutamaan bulan Sya’ban berpuncak pada malam Nishfu Sya’ban. Pada malam itu banyak Muslim yang menghidupkannya dengan berbagai ibadah. Bahkan mengadakan majelis sebagai wadah melakukan dzikir, doa, bahkan shalat sunah secara berjamaah. Dalil tentang tradisi ini memang daif.

Dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’ bahwa Rasululah Saw. bersabda, “Bila datang nishfu Sya’ban, maka bangunlah pada malamnya dan berpuasalah siangnya. Sesungguhnya (rahmat atau malaikat) Allah Swt. turun pada malam itu sejak terbenamnya matahari kelangit dunia dan Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun, Aku akan mengampuninya. Adakah yang minta rezeki, Aku akan memberinya rezeki. Adakah orang sakit, maka Aku akan menyembuhkannya,’ hingga terbit fajar,'” (HR Ibnu Majah).

Adapun perkumpulan pada malam Nishfu Sya’ban memang belum ada pada masa Rasulullah Saw. Tradisi ini mulai tumbuh pada generasi tabiin. Sehingga tradisi ini masih merupakan peninggalan para salaf. Seperti disampaikan al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif, hlm. 264 bahwa tradisi ini dilakukan salah satu tokoh tabiin, Abdurrahman bin Yazid. Tradisi melakukan salat sunah berjamaah pada malam Nishfu Sya’ban dimulai oleh kalangan tabiin di daerah Syam.

[nextpage title=”5. Salat Sunah Mutlak pada Malam Nishfu Sya’ban”]

5. Salat Sunah Mutlak pada Malam Nishfu Sya’ban

Sebagaimana dicantumkan dalam Keputusan Lembaga Bahtsul Masail NU Kota Surabaya di Masjid at-Taqwa, Penjaringansari, Rungkut Surabaya, pada 29 Juni 2008 bahwa shalat sunah mutlak pada malam nishfu Sya’ban adalah mustahab (dianjurkan). Namun, bila diniatkan sebagai salat Nishfu Sya’ban, maka haram karena tidak ada tuntutan salat Nishfu Sya’ban. Salah satu referensi keputusan ini merujuk kepada pendapat Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam Dzikriyyat wa Munasabat, hlm. 155-156 yang menukil hadis riwayat al-Baihaqi.

Baca juga:  Kaum Muslim Indonesia Punya 5 Tradisi Khas Ini Ketika Lebaran

“Dari ‘Ala’ bin Kharits bahwa Aisyah berkata, “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya. Setelah selesai melakukan shalat Nabi berkata, ‘Wahai Aisyah, apakah kamu mengira aku berkhianat padamu?’, Saya berkata ‘Demi Allah, tidak, wahai Rasul. Saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.’

Rasul bersabda, ‘Tahukah kamu malam apa sekarang ini?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasulnya yang tahu.’ Rasulullah bersabda, ‘Ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan mengutamakan orang-orang pendendam.’ (HR. al-Baihaqi fi Syu’ab al-Iman, no. 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik).

Dalam keputusan itu dijelaskan juga bahwa kalangan imam mazhab seperti Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hanbal mengkategorikan hadis mursal sebagai hadis yang dapat diterima (hadis maqbul) dengan syarat-syarat khusus sebagaimana dalam kitab-kitab Ulumul Hadits.

Sebagaimana dikutip dari Mausu’ah Ruwat al-Hadits, ke-mursal-an hadits tersebut karena al-‘Ala’ bin al-Kharits adalah seorang tabi’in yang tidak pernah berjumpa dengan Aisyah. Sedang menurut Ibnu hajar, al-‘Ala’ sendiri adalah murid al-Makhul yang paling dipercaya.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Nasrudin