Nasihat Terbuka untuk Kiai Ahmad Ishomuddin

  • 139
  •  
  •  
  •  
    139
    Shares

DatDut.Com – Saya mendengar banyak kiai dan warga NU marah karena nama besar organisasi NU dibawa-bawa untuk mendukung penista oleh oknum-oknum tertentu.

Salah satu nama yang disebut-sebut hari ini adalah K.H. Ahmad Ishomuddin, nama Pak Kiai. Mereka marah karena Pak Kiai menjadi saksi ahli agama dari kubu penista, yang disebut oleh kubu Ahok sebagai wakil dari PBNU.

Berita mengenai kemarahan warga NU ini ternyata juga dikonfirmasi oleh Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Miftahul Akhyar yang menyebut bahwa banyak kiai NU yang marah atas tindakan Pak Kiai Ishom (Republika, 20/3).

Untuk itulah, sebagai sesama warga NU dan sesama dosen, saya menulis nasihat terbuka ini untuk Pak Kiai. Ini bagian dari cara saya untuk saling menasihat tentang kebenaran dan kesabaran, seperti yang diperintahkan oleh agama.

Semoga Pak Kiai juga masih ingat. Sebelum ini saya juga pernah mengirim surat terbuka untuk Pak Kiai ketika beberapa waktu lalu Pak Kiai membuat pernyataan yang dimuat di beberapa media bahwa al-Maidah 51 itu tidak terkait kepemimpinan.

Kalau Pak Kiai mau baca-baca lagi, ini suratnya terbukanya masih saya simpan di sini. Atau, supaya Pak Kiai tidak capek, berikut ini saya kutipkan sebagian intisari dari apa yang saya tuliskan saat itu:

Mengenai penjelasan Pak Kiai yang ditulis oleh media, berikut beberapa pertanyaan saya untuk Pak Kiai. Pertama, di media-media tak disebutkan apa yang Pak Kiai maksud sebagai tafsir terdahulu itu. Bila benar mengatakan itu, itu berarti Pak Kiai sedang memonopoli wawasan tafsir terkait ayat itu.

Pak Kiai pasti tahu ada ulama tafsir yang punya pandangan selain dengan yang Pak Kiai sebutkan, tetapi Pak Kiai tak ungkap itu. Apalagi Raghib Ashfihani dalam Mu’jam Mufradat Alfaz Alquran, h. 570 (di versi kitab yg saya punya), juga memberi makna تولى الأمر ‘memberi mandat kekuasaan’.

Menurut saya, kalau mau fair dan adil dalam masalah ini, Pak Kiai juga perlu menyebutkan pendapat yang berbeda dengan pandangan Pak Kiai. Bukankah adil dalam hal-hal seperti ini, kata Alquran, lebih dekat dengan ketakwaan.

Kedua, berdasarkan berita media itu, Pak Kiai menyebut konteks ayat itu dalam kondisi perang. Mohon informasi lebih lanjut dari Pak Kiai, tafsir mana yang membatasi ayat tersebut hanya dalam konteks perang dan tak berlaku dalam hal lain, termasuk soal memilih pemimpin.

Jadi, kita bisa paham, ada landasan yang kuat dari Pak Kiai ketika menyampaikan hal itu, sehingga kami-kami yang muda-muda ini tak berpikir ada apa-apanya di balik pernyataan Pak Kiai itu. Apalagi di Tafsir Thabari menyebutkan beberapa asbab nuzul ayat ini (klik untuk membaca penjelasan mengenai asbab nuzul dari Thabari). 

Ketiga, saya sudah mencoba mencari-cari biografi dan riwayat pendidikan Pak Kiai, tapi agak sulit menemukannya. Mungkin lain kali, Pak Kiai bisa meminta asisten Pak Kiai untuk mengupload biografi atau CV Pak Kiai ke internet, agar umat mudah mengecek apakah latar belakang keilmuan Pak Kiai sudah sesuai atau belum dengan topik yang Pak Kiai komentari.

Kalau yang berkomentar mengenai tafsir orang seperti Pak Quraish, mungkin orang akan mudah menerima (meskipun pasti juga ada pro-kontra), karena beliau memang pakar tafsir.

Nah, sekali lagi, kalau Pak Kiai memang berlatar belakang tafsir, umat insya Allah akan bisa memahami meski tak menjamin pendapat Pak Kiai diterima oleh seluruh umat. Masalahnya kalau Pak Kiai tidak berlatar belakang keilmuan tafsir, ini yang jadi soal. Bukankah Alquran juga mewanti-wanti “wa la taqfu ma laysa laka bihi ilmun”.

Saya menyampaikan ini karena saya juga kesulitan melacak artikel atau buku yang Pak Kiai tulis. Saya yakin hal itu karena Pak Kiai amat tawadu sehingga tak mudah menemukan karya-karya tertulis buah pena Pak Kiai.

O iya, terakhir, saya juga kaget bukan kepalang ketika membaca kutipan langsung dari Pak Kiai yang dimuat oleh media-media itu. Berikut ini kutipannya:

“Saya setelah melihat utuh videonya. Beliau (Ahok) tidak mempunyai niat untuk melecehkan, karena secara logika tidak mungkin orang yang sedang mencalonkan kemudian melecehkan. Jadi, tidak masuk akal kalau itu berniat melecehkan,” katanya.

Saya jadi kaget, Pak Kiai tiba-tiba beralih status dari ahli tafsir Alquran yang adiluhung menjadi ahli tafsir ucapan Ahok yang merendahkan derajat kekiaian Pak Kiai.

Pak Kiai seperti paham betul hatinya Ahok. Nah, ini yang juga membuat kami berpikir, ada apa di balik pernyataan Pak Kiai. Apakah kedekatan tertentu dengan Ahok, yang membuat Pak Kiai paham benar tentang hatinya Ahok. Sepertinya soal ini hanya Pak Kiai, Ahok, dan Allah yang tahu.

Mungkin ini yang bisa saya tuliskan untuk Pak Kiai. Tentu ini hanya sekadar coretan sederhana dan surat biasa, yang mungkin bisa Pak Kiai baca selepas tahajud nanti malam.

Siapa tahu Pak Kiai bisa mempertimbangkan pemahaman terkait QS Almaidah 51 itu dengan pendekatan yang lebih adil sesuai kaidah ilmu tafsir, sehingga umat tidak lalu menyimpulkan seolah-olah Pak Kiai memberi karpet merah pada cagub non-Muslim dan berusaha membelenggu cagub Muslim. Semoga tidak demikian.

Dalam jawaban atas surat saya itu, meskipun disampaikan tidak secara langsung, Pak Kiai menyebut bahwa itu pintar-pintarnya media. Apa yang dimuat di media tidak seperti yang Pak Kiai sampaikan.

Baca juga:  Jangan Berlebihan Menyanjung Ustaz yang Lagi Tenar

Waktu itu saya percaya itu kesalahan kutip media, atau media propenista sengaja menggoreng pernyataan Pak Kiai. Namun, saya kembali dikejutkan ketika nama Pak Kiai muncul sebagai pemberi kata pengantar buku 7 Dalil yang amat menghebohkan itu.

Pak Kiai kembali berkilah bahwa kata pengantar itu disarikan dari pidato Pak Kiai di salah satu acara. Namun, dari bantahan itu saya menangkap kalau memang ada keberpihakan dan dukungan tertentu dari Pak Kiai untuk si penista. Karena di bantahan itu, tidak ada substansi keberatan dari Pak Kiai tentang buku itu yang mencatut nama Pak Kiai.

Keberpihakan dan dukungan itu diperkuat lagi ketika Pak Kiai bersedia menjadi saksi ahli yang meringankan si penista. Dan, yang paling mengecewakan dan menyakitkan bagi saya dan beberapa teman Nahdliyin, Pak Kiai selalu disebut-sebut kubu penista sebagai saksi dari PBNU.

Pernyataan Pak Kiai yang dimuat di beberapa media, juga menjadi hal lain yang ternyata juga memancing tidak hanya kekecewaan, tapi juga kemarahan umat Islam yang menjadi warganet. Di media-media itu, Pak Kiai menyatakan bahwa al-Maidah 51 itu sudah tidak relevan.

Menyikapi hal-hal kontroversial yang bersumber dari Pak Kiai dalam dukungan dan keberpihakannya kepada penista, izinkan saya yang fakir ini menyampaikan beberapa nasihat untuk Pak Kiai:

1. Mohon jangan bawa-bawa nama NU dalam dukungan dan keberpihakan Pak Kiai terhadap si penista. Karena warga NU di bawah seperti saya ini yang terkena imbasnya ditanyai dan dibully gara-gara sikap orang-orang seperti Pak Kiai. Toh, Pak Kiai juga tahu sikap PBNU dalam hal ini.

Baca juga:  Menilai Kualitas "Ulama" Medsos

Kalau memang Pak Kiai mau mendukung atau berpihak ke penista, silakan saja. Tapi atas namakan sebagai pribadi. Nasihat ini juga disampaikan oleh K.H. Miftakhul Akhyar, Wakil Rais Syuriah PBNU.

2. Setahu saya tidak ada kiai-kiai besar di NU yang diakui keilmuannya, yang mau menjadi saksi ahli si penista. Semua bahkan sepakat bahwa dia memang menistakan agama. Kalau tiba-tiba nama-nama Pak Kiai yang muncul di permukaan, saya memang menjadi mafhum, karena kubu penista kesulitan mencari figur lain yang lebih kompeten dalam hal ini.

Semoga Pak Kiai tidak memakai kaidah khalif tu’raf untuk muncul di permukaan dalam momen kasus ini. Kalau memang Pak Kiai sedang mengamalkan kaidah itu, mohon segera kembali ke khittah awal Pak Kiai.

3. Soal kepemimpinan non-Muslim, sikap NU amat jelas. NU tidak bisa menerima kecuali dalam situasi darurat. Nah, semua pasti sepakat DKI Jakarta bukan dalam situasi darurat. Bahkan, sikap pesantren-pesantren besar di NU, mulai Sidogiri, Sarang, dan Jombang, terang-terangan menyatakan tidak membolehkan memilih pemimpin non-Muslim.

Jadi, mohon Pak Kiai tidak menafikan fakta itu dan tidak menyampaikan pernyataan-pernyataan yang akan membingungkan warga NU dan umat Islam pada umumnya soal memilih pemimpin non-Muslim.

4. Penafsiran dan pemahaman al-Maidah 51 itu masih terbuka. Memang ada ahli tafsir yang berpandangan seperti Pak Kiai bahwa ayat itu tidak terkait dengan kepemimpinan, tapi ada juga ahli tafsir yang berpandangan bahwa ayat itu memang terkait dengan kepemimpinan.

Namun, kalau benar Pak Kiai menyampaikan bahwa al-Maidah 51 itu tidak relevan lagi, maka pernyataan itu jelas tidak arif dan tidak bijak. Sebagai seorang yang disebut kiai dan dosen di perguruan tinggi Islam, semestinya kalimat itu tidak keluar dari Pak Kiai.

5. Apakah Pak Kiai lupa bahwa penista yang Pak Kiai bela adalah orang yang di depan jutaan mata pemirsa, menghardik K.H. Ma’ruf Amin, yang notabene pimpinan Pak Kiai di PBNU?

5. Mohon Pak Kiai juga memperhatikan psikologi mayoritas umat Islam. Umat Islam selama ini terlalu sabar dengan drama-drama persidangan yang melelahkan batin, terlebih munculnya orang-orang seperti Pak Kiai, yang kami tidak mengerti apa motivasi sesungguhnya dari dukungan dan pembelaan Pak Kiai itu.

Demikian nasihat terbuka ini. Nasihat ini bukan bermaksud menggurui, tapi ini bagian dari tugas saya sebagai sesama umat Rasulullah Saw., pengikut mazhab Syafi’i, berteologikan Asy’ari, bertasawufkan Ghazali, dan berlandaskan cara beragama ormasnya K.H. Hasyim Asy’ari.

Nasihat ini sebetulnya tidak hanya ditujukan untuk Pak Kiai, tapi juga semua orang, termasuk diri saya. Semoga kita semua selalu dibimbing dalam jalan taufik dan hidayah.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *