Musa, Bocah Ajaib Hafiz Alquran, Ini 5 Bocoran Kunci Kekuatan Hapalannya dari Sang Ayah

  • 172
  •  
  •  
  •  
    172
    Shares

DatDut.Com – Sejak menjadi juara satu pada acara Hafiz Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta pada tahun 2014, nama Musa langsung melejit. Di usianya yang kala itu baru 5,5 tahun, ia tidak hanya menarik perhatian publik di Indonesia, bahkan menjadi idola tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan Singapura.

Kekuatan hapalan bocah kelahiran 2008, memang sangat istimewa. Selain hapal Alquran, bocah 8 tahun ini juga menghapal beberapa kitab lain, seperti ‘Umdatul Ahkam, Arbain Nawawi, Arbain Hadits Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat, dan telah selesai Durusul Lughah. Sekarang sedang menghafal Bulughul Maram. Uniknya, kemampuannya itu justru didapat hanya belajar dari ayahnya.

Soal kekuatan hapalan, Musa tidak hanya membuktikannya dalam ajang lomba hapalan Alquran di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Ia pernah mewakili Indonesia di ajang lomba hapalan Alquran internasional di Jedah, Arab Saudi. Kini ia kembali mewakili Indonesia untuk mengikuti ajang sejenis yang diadakan di Mesir. Info terbaru Musa juara 3.

Tentu ada rahasia di balik prestasi bocah ajaib yang telah mengantongi rekor MURI sebagai hafiz Alquran 30 juz termuda. Apa saja rahasianya? Berikut penuturan ayah Musa kepada Ustad Rahmanto Abu Al Laits yang kebetulan bertemu di Bandara Soekarno-Hatta, ketika bocah ini hendak berangkat ke Mesir:

[nextpage title=”1. Rajin Murajaah”]

1. Rajin Murajaah

Berdasarkan penuturan ayah Musa kepada Rohmanto, yang dituliskan kembali di akun Facebooknya, pada awalnya Musa juga sulit menghapal sebagaimana umumnya anak, namun dengan ketekunan akhirnya hafal juga. Kunci paling penting adalah murajaah alias mengulang-ulang hapalan. Perlu diketahui juga ayah Musa tidak hafal semua yang dihapal Musa saat ini, namun bisa menjadikan Musa hapal dengan kuat.

Baca juga:  Hoax atau Nyata? Habib Umar Mimpi Bertemu Rasulullah dan Habib Rizieq Syihab

[nextpage title=”2. Menjaga Pergaulan dan Menjauhkan dari Televisi”]

2. Membatasi Pergaulan

Kunci yang lainnya yang diterapkan oleh ayah Musa adalah menjaga dan membatasi pergaulan Musa. Bisa dikatakan Musa kurang bergaul dengan banyak anak seusianya, karena memang niat ayahnya untuk menjaga hapalan.

Kunci ini menjadi penting di tengah buruknya iklim pergaulan anak-anak di sekitar kita. Bila salah bergaul, bisa berakibat fatal. Banyaknya godaan permainan yang tidak sehat pasti akan berdampak buruk pada tumbuh-kembang anak. Ini mungkin yang menjadi alasan ayah Musa dalam hal ini. Semoga saja Musa menikmati situasi ini.

[nextpage title=”3. Menjauhkan dari Televisi”]

3. Menjauhkan dari Televisi

Nah, televisi ternyata salah satu benda yang dijauhkan dari Musa. Musa sangat dijaga jangan sampai nonton televisi. Bukti paling nyata, pas Rohmanto ngobrol dengan ayah Musa di ruang tunggu, kebetulan saat itu pas di depan televisi. Sang ayah langsung minta pindah. “Pindah yuk, akh. Takut Musa nantinya lihat televisi,” kata beliau.

Untuk anak seusia Musa, apa yang dilakukan ayah Musa sudah tepat. Anak memang harus dibatasi dalam mengakses televisi. Bila terlalu banyak menonton TV, apalagi sampai kecanduan acara televisi, pasti akan berdampak buruk pada perkembangan emosi dan fisiknya, juga mungkin kecerdasannya, apalagi tontonan di televisi saat ini cenderung kurang mendidik.

[nextpage title=”4. Menjaga Makanan”]

4.  Menjaga Makanan

Beberapa makanan yang selalu dikonsumsi di lingkungan keluarga Musa, seperti Sari kurma, madu dan propolis. Ayahnya selalu memberikan makanan atau minuman itu kepada Musa dan adik-adiknya. Alasannya karena menghafal membutuhkan banyak energi!

Baca juga:  Muhammad Kusrin, Lulusan SD Perakit TV, Ini 5 Fakta Kasusnya

Madu dan kurma sudah sejak lama jadi rahasia kekuatan hapalan. Bahkan, di beberapa kitab, seperti Ta’lim Muta’allim, madu juga termasuk makanan yang dianjurkan agar memiliki kekuatan hapalan yang baik.

Baca: Mau Gampang Menghafal Apa Pun? Ini 5 Caranya Versi Kitab Ta’limul Mutaalim

[nextpage title=”5. Menata Rutinitas Harian secara Disiplin”]

5. Menata Rutinitas Harian secara Disiplin

Menurut ayahnya, rutinitas harian Musa adalah pagi setengah jam sebelum subuh, tahajud menjadi imam untuk adik-adiknya. Kemudian subuh berjamaah di masjid. Setelah subuh, murajaahnya sampai jam 9 pagi. Musa kuat murajaah 10 juz dalam sehari secara rutin! Jam 9-10 Musa baru makan pagi.

Jam 10-zhuhur, Musa tidur siang. Tidur ini hukumnya wajib untuk Musa. Habis zhuhur Musa menambah hapalan baru sampai ashar. Bakda ashar sekarang Musa sedang menghafal Bulughul Maram. Nah, barulah jam 5-maghrib, Musa mempunyai waktu bermain.

Setelah maghrib-isya, ia ikut pengajian ayahnya. Sebelum ayahnya menyampaikan taklim, Musa biasa mengawali dengan membacakan hafalannya. Terkadang hadirin dipersilakan bertanya mengetes. Ini berjalan hampir setiap hari.

 

 

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    172
    Shares
  • 172
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close