Mungkin Karena Kita Berjodoh

  • 25
  •  
  •  
  •  
    25
    Shares

DatDut.Com – Aku tidak pernah menyangka sama sekali, akan menikah dengan seorang santri jebolan salah satu pesantren termasyhur di Jawa Timur.

Hari-hari kulalui lebih banyak di kantor. Berangkat pagi dan pulang hampir menjelang ashar. Aku bekerja di sebuah bank milik swasta hampir delapan tahun.

Diusiaku yang sudah menginjak kepala tiga, aku baru akan melangsungkan pernikahan September nanti. Surprise sekali! Lama sudah aku menunggu momen ini.

Bayangkan saja, di antara teman-teman hanya akulah yang belum menikah. Omongan-omongan tidak mengenakkan hati sering kudengar. Dari teman-teman sekantor, tetangga-tetangga ibu, bahkan terkadang orang yang tidak sengaja kutemui di jalan.

Aku paling tidak tega dengan ibu. Sebab pertanyaan-pertanyaan tetangga tentang kapan aku menikah dan tentu ingin juga sesegera mungkin punya cucu. Apalagi aku anak pertama, sedangkan adikku masih SMA. Jauh sekali selisih usianya denganku.

Dari Arini, temanku. Aku mengenal Mas Habibi sebulan yang lalu.

Arini pun mengenal Mas Habibi dari teman halaqohnya. Dengan pertemuan singkat yang dibersamai mereka, aku dan Mas Habibi mantap untuk menikah.

Seminggu kemudian aku bertemu dengan Arini di sebuah resto cepat saji, janjian makan siang. Kuceritakan kepadanya kabar baik tentang rencana pernikahan kami ini.

“Terimakasih ya, Rin. Sejauh ini kamu sudah nenangin aku, juga mengenalkan aku pada Mas Habibi,” ucapku pada Arini. “Tiga hari setelah pertemuan itu, beliau datang ke rumah menyampaikan niat baiknya, Rin. Dan dua hari kemudian datang bersama orangtuanya melamarku.”

Baca juga:  Karena Kopimu Tak Pernah Sepahit Hidupnya (Cerpen Nasrullah Alif S)

Arini yang sedang asik menikmati semangkuk coto Makasar pun mengulas senyum, “Alhamdulillah, akhirnya kamu akan menikah, ” jawabnya singkat.

“Iya, hampir saja aku putus asa tahu. Lagian orang-orang suka banget ngomongin aku gara-gara usiaku sudah tiga puluh tahun lebih. Sedih aku. Mereka tidak mengerti sama sekali perasaanku, Rin,” ceritaku dengan mudahnya mengalir.

“Sudah deh. Tidak perlu mikirin omongan mereka lagi,” sahutnya.

“Sekarang mulai persiapkan pernikahanmu saja. Kalau perlu apa-apa cerita ya, siapa tahu aku bisa bantu, ” Arini menawarkan diri. Ia memang teman yang baik. Meski usianya lebih muda, ia lebih bijak dalam menyelesaikan suatu masalah.

***

Tiga September, hari yang kunanti-nanti akhirnya tiba. Hari di mana aku akan bersama dengan lelaki yang sebelumnya tidak pernah kutemui, tidak pernah kukenal dan akan mulai mengenalnya. Aku menikah!

Satu jam pun berlalu, ijab-qabul terucap sudah. Tidak ada batas lagi antara aku dan Mas Habibi. Rasanya bahagia.

Arini dan dua teman Mas Habibi yang mengenalkan kami saat itu juga hadir. Doa-doa membanjiri pernikahan kami.

“Allah, terimakasih ya. Untuk surprise-Mu ini, indah sekali.” ucapku dalam hati.

Baca juga:  Utari - Bagian 2

Sorenya, aku dan Mas Habibi banyak bercerita. Tentang hal-hal yang selama ini kami kerjakan dan lalui. Juga persiapan-persiapan nikah yang tidak semudah kata orang.

“Mas, aku boleh nanya?” ucapku kemudian.

“Bolehlah, Dik,”

“Mm… kenapa kamu mau menikahiku, Mas? Padahal, mungkin banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari aku. Yang hafal Al-Qur’an sepertimu atau sama-sama mondok denganmu.”

“Ya, karena kita berjodoh, Dik,” ucapnya dengan senyum. Kulihat matanya, ada cinta.

“Aku kan tidak pernah mondok, Mas. Hafal Al-Qur’an juga belum. Biasanya mereka yang hafal Al-Qur’an atau mondok akan mencari pasangan yang sama seperti dirinya,” jelasku lagi. Aku masih belum percaya, bagaimana bisa Mas Habibi mau menikahiku.

“Kalau kita tidak berjodoh, kita tidak akan menikah. Lagipula, seorang santri tidak harus menikah dengan sesama santri kan, Dik?”

Aku tersenyum. Sepertinya memang tidak perlu alasan tertentu untuk hidup bersama seseorang atau mungkin Mas Habibi berkata seperti itu untuk menyenangkan hatiku. Entahlah. Tapi aku suka.

Komentar

Windarti

Ibu rumah tangga yang nyambi jadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Terbuka.

Latest posts by Windarti (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *