Muhammadiyah Larang Tahlil, Ini 5 Komentar Amien Rais

  • 962
  •  
  •  
  •  
    962
    Shares

DatDut.Com – Kata tahlil itu serapan dari bahasa Arab. Secara bahasa, kata tahlil berarti membaca lafal la Ilaha Illallah. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, istilah tahlil tidak hanya membaca la Ilaha Illallah, namun ada tambahan bacaan surah Alquran lainnya, seperti Yasin, al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, dan lain sebagainya.

Biasanya, tahlil dijadikan sarana mendoakan sanak saudara yang telah wafat dalam durasi waktu tertentu, seperti tiga hari, tujuh hari, seratus hari dan seterusnya. Selain itu, sahibulbait biasanya menyediakan berkat dan makanan ringan untuk para pentakziah usai tahlil.

Muhammadiyah membenarkan bacaan tahlil dalam makna sempit di atas, yaitu membaca lafal la Ilaha Illallah, seperti dikutip dari Fatwatarjih.com.

Baca juga:  Bukan Hanya Garis Lurus dan Protestan, Ternyata Ada 5 Macam NU Lainnya di Medsos!

Menurut mereka upacara semacam itu sisa-sisa budaya animisme, dinamisme, serta peninggalan ajaran Hindu yang sudah mengakar.

Selain itu, upacara tahlil ini tidak jarang mengeluarkan biaya yang cukup besar dan itulah mengapa Muhammadiyah melarang upacara tahlil.

Namun demikian, Prof. Dr. H. Amien Rais, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-12, justru sangat menganjurkan tahlil dengan dua sudut pandang yang lebih luas. Berikut 5 komentarnya terkait tahlil:

1. Tahlil Ada Tiga Tingkatan

Menurut Prof. Dr. H. Amien Rais, tahlil itu ada tiga tingkatan. Ketiga tingkatan tahlil itu disampaikaannya pada saat pengajian yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Kepri dan Pimpinan Daerah Tanjungpinang, Minggu (23/3/10), seperti dikutip dari Tanjungpinangpos.co.id.

Baca juga:  Lakukan 5 Hal ini Saat bulan Muharram

Menurutnya, ketiga tingkatan tersebut tahlil dengan hati, tahlil dengan lisan, dan tahlil dengan perbuatan. Pemaknaan tahlil yang cukup luas ini kemungkinan besar diadopsi dari konsep tentang tingkat iman.

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi

7 thoughts on “Muhammadiyah Larang Tahlil, Ini 5 Komentar Amien Rais”

  1. Sy tidak mengomentari, tapi cerita pengalaman.
    Tahun 1970an sy masih sekolah lanjutan. 100% orang sekampung sy muslim. Tapi yg sholat, dan sedikit memahami agama kurang dari 10%. Melekat budaya slametan atau kirim doa kepada leluhur. Doa atau ujubnya murni bahasa lokal jawa. Dengan menyebut² danyang atau tempat pemujaan non islami. Ada praktek² pemborosan. Sy generasi muda waktu itu mengkritisi lewat ortu. Ortu walau menurutiku. Walhasil, ortu dikucilkan. Ketika ngundang tetangga slametan gak ada yg datang satu orang pun.
    Kini terbalik, 80% lebih sudah sholat, slametan diganti tahlilan atau yasinan, mereka hafal surat yaa siin. pemborosan ditiadakan.
    Ternyata di balik yasinan adalah media dakwah yg super efektif.
    Mereka mendoakan tidak hanya leluhur, tetapi juga rasulullah, keluarga, sahabat, terus nyambung sampai ustadz masa kini. Mereka melakukan demikian karena tanpa mereka islam tak akan sampai kepada mereka. Itulah ilmu yang bermanfaat yang mereka sampaikan. Sebagai rasa terima kasih, mereka mendoakan orang² yg telah berbuat amal sholeh untuk mereka walau tak kenal. Lagi pula, sesama muslim adalah saudara. Mereka menganggap tidak ada dosa mendoakan saudaranya yang muslim, yang tak mungkin semua ingat namanya atau kenal. Jadi orang² ndeso macam meraka dan sy menghormati dan mendoakan sesama muslim baik yg masih hidup maupun yg mati karena jasa mereka langsung atau tidak langsung kita nikmati di masa kini. Contoh petani, jasanya menyediakan beras. Kita tidak kenal mereka. Mereka merasa rendah tak bisa berbuat banyak bahkan untuk kebutuhan sendiri seperti beras tadi masih butuh saudaranya yg tak ia kenal. Maka mereka mendoakannya.
    Itulah cara mereka berpikir di kampung saya yang ndeso.
    Barangkali kurang cocok untuk orang yang sibuk menumpuk harta di jaman sekarang ya.

    Maaf, bila tulisan ini kurang berkenan di hati pembaca semuanya.

  2. Trus pertanyaanya apakah semua yg tdk dicontohkan nabi itu bid’ah?
    Apakah mendoakan org tua, keluarga, sanak saudara dan teman yg sudah meninggal dg cara tahlilan termasuk haram? Dalilnya apa? Adakah sesuatu yg tdk ada larangan do dalamnya itu haram dilakukan? Maaf sy org awam

    1. Mas boleh gak sholat subuh 4 rokaat?

      Kalau gak boleh, dalil nya apa?

      Boleh gak baca doa masuk wc buat makan, kan artinya bagus tuh, kalau gak boleh dalil nya apa?

      Logika nya kebalik mas, dalam ibadah itu di butuhkan dalil, ada gak diajarkan nabi dan para sahabat.

      Nah yg dituntut mendatangkan dalil seharusnya mereka yg berinovasi dg menambahkan ritual2 baru dalam beribadah.

  3. Jangan terllu cpet memvonis amalan itu bid’ah atau haram! Kaji dulu amaln mereka! Memng dlu di zaman rasulullah tdak ada , tapi apakah ya? KIta slah mengagung2 kan nama ALLah ????

    1. mengagungkan nama Allah ya jelas nggak salah, tapi niyatnya itu lo yang nggak ada tuntunannya, kalau bacaa tahlil,tasbih dan tahmid abis sholat subuh dan ashar 100x, akhsan lebih afdhol krn adaa tuntunan dari junjungan dan panutan kita Muhammad Sallahualaihi wa Salam

  4. Setuju…tahlil milik dunia islam logo bendera isis juga tahlil..mau sakaratul maut baca tahlil insyA Allah surga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *