Muhammad Kusrin, Lulusan SD Perakit TV, Ini 5 Fakta Kasusnya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com- Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan berita penangkapan Pak Kusrin (42). Warga Dukuh Wonosari, RT 02, RW 03, Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar ini dituduh melanggar hukum.

Ia telah merakit dan memperjualbelikan televisi rakitannya yang tidak memiliki setifikat SNI. Dengan berlandaskan pasal 120 (1) jo Pasal 53 (1) huruf b UU RI No.3/2014 tentang Perindustrian, Pak Kusrin divonis 6 bulan penjara dan denda Rp 2,5 juta.

Tak hanya itu, ratusan televisi hasil kerja Pak Kusrin dan karyawannya yang disita sebagai barang bukti juga dihancurkan oleh Pengadilan Negeri Karanganyar. Bermula dari foto penghancuran televisi karya Kusrin inilah, kasus yang menimpanya menjadi pembicaraan hangat dan mengundang simpati dari masyarakat utamanya para pengakses internet. Foto para pejabat kejaksaan yang tengah menghancurkan televisi menuai hujatan.

Apa saja lika-liku kasus Pak Kusrin hingga akhirnya meraih sertifikat SNI? Berikut 5 ulasannya:

[nextpage title=”1. Televisi Kusrin Bermerek”]

1. Televisi Kusrin Bermerek

Pak Kusrin yang hanya lulusan SD, memiliki kemampuan istimewa hingga mampu merakit tabung bekas komputer menjadi televisi. Televisi karyanya itu lantas dijual dan ternyata mendapat respon baik dari masyarakat. Jumlah orderan pun meningkat.

Akhirnya Kusrin menekuni usaha perakitan televisi ini dan merekrut karywan. Pak Kusrin lantas menggunakan merek Veloz, Maxreen, dan Zener untuk produknya. Televisi rakitan ini di jual hingga keluar Solo dengan harga per unitnya sekitar Rp. 600.000 – Rp. 800.000.

[nextpage title=”2. Memiliki Izin Usaha”]

2. Memiliki Izin Usaha

Sebenarnya usaha milik Muhammad Kusrin, UD. Haris Elektronika, sudah mempunyai izin. Yaitu Izin usaha perdagangan dan izin mendirikan usaha. Nyatanya, izin yang dimilikinya belum mencukupi agar perakitan televisinya selamat. Ia tersandung dengan masalah SNI.

Menurut Kusrin, tidak adanya sertifikat SNI pada produknya adalah karena ia tidak tahu bahwa produksi barang elektronik seperti yang dibuatnya harus bersertifikat. “Mengadu ke siapa, mengurus ke siapa, bikin di mana, membuatnya bagaimana? Kita enggak tahu‎ itu. Makanya baru urus itu sekarang,” paparnya, seperti dikutip Detik.com.

Baca juga:  Ketika Ulil Pun Akhirnya Amat Murka pada Ahok, Bukti Si Penista Tak Lagi Punya Pembela

[nextpage title=”3. Ratusan Televisi Dihancurkan, Modal Habis”]

3. Ratusan Televisi Dihancurkan, Modal Habis

Diberitakan sebelumnya, Kusrin dijerat hukum karena dianggap melanggar pasal 120 (1) jo Pasal 53 (1) huruf b UU RI No. 3/2014 tentang Perindustrian. Dikutip dari oke.zone.com (11/1/16), atas kesalahan itu, Pengadilan Negeri Karanganyar menjatuhkan vonis 6 bulan penjara serta denda Rp.2,5 juta kepada Kusrin. Selain itu, barang bukti juga dimusnahkan.

Kusrin tidak mengajukan banding atas putusan pengadilan. Ia hanya mengajukan permohonan penangguhan hukuman untuk mengurus perizinan usahanya. “Setelah ditangkap kemudian saya meminta penangguhan hukuman untuk mengurus perizinan. Dan ternyata tidak harus melalui PT, perseorangan pun bisa mengurus izin SNI,” tutur Kusrin kepada Metrotvnews.

Dengan disitanya semua karya Kusrin dan karyawannya yang berjumlah sampai 30 orang, otomatis Pak Kusrin kehabisan modal. Ditambah dia harus mengurus izin yang ternyata tidak gratis.

[nextpage title=”4. Petisi Kepada Menteri Perindustrian”]

4. Petisi Kepada Menteri Perindustrian

Ketika foto-foto proses pemusnahan barang bukti yang dilakukan oleh para pejabat Pengadilan Negeri Karanganyar diunggah ke internet, ramailah tanggapan dari netizen. Kebanyakan menghujat ulah para pejabat daerah dan pengadilan yang tidak menghargai karya anak bangsa. Seharusnya Kusrin itu dibina, bukan dibinasakan, ujar sebagian di antara mereka.

Adalah Muhammad Izzuddin Shofar dari Semarang, salah satu simpatisan yang menggalang protes atas kasus Kusrin dengan membuat petisi online kepada Menteri perindustrian Republik Indonesia. Petisi itu mengundang perhatian dan akhirnya dapat menggalang 27.113 tanda tangan. Pada 19 Januari kemarin, petisi itu mendapat respon dari Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Saleh Husin.

“Saya mendengar dan mengapresiasi dukungan puluhan ribu orang melalui petisi ini. Karenanya, hari ini saya selaku Menteri Perindustrian akan menyerahkan SPPT-SNI CRT TV kepada UD. Haris Elektronika (atau yang lebih dikenal dengan Pak Kusrin),” ujarnya dalam tanggapan petisi tersebut.

Baca juga:  Gus Miek dan Tiga Preman Tanjung Priok

[nextpage title=”5. SNI Tidak Gratis”]

5. SNI Tidak Gratis

Sertifikat SNI yang diperoleh Pak Kusrin bukanlah barang gratisan. Ia harus merogoh koceknya lebih dalam lagi. Untuk biaya SNI saja ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 35 Juta.

“Rp 20 juta untuk sertifikasinya. Kemudian ada pengujian sample Rp 5 juta per merek. Kita punya 3 merek, sehingga total Rp 15 juta. Rp 15 juta dan Rp 20 juta, jadi semua sekitar Rp 35 juta,” ujar Kusrin di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (19/1/2016) seperti dikutip Detik.com.

Begitulah lika-liku Pak Kusrin si perakit televisi untuk mempertahankan usahanya yang juga menghidupi banyak karyawan. Satu pertanyaan yang tersisa, setelah kasusnya menjadi cemoohan banyak orang kepada pejabat daerah, apakah Kusrin akan tetap menjalani hukuman penjara 6 bulan? Sepertinya, petisi yang baru direspon tersebut harus dilanjutkan ke poin lain. Bebaskan kusrin perakit televisi dari kurungan 6 bulan. Lestarikan kreatifitas anak bangsa.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
Close