Tafsir Midadurrahman, Kitab Terbesar Karya Ulama Indonesia dengan 115 Jilid, Ini 5 Sisi Uniknya

  • Nasrudin
  • 26 April 2016
  • Komentar Dinonaktifkan pada Tafsir Midadurrahman, Kitab Terbesar Karya Ulama Indonesia dengan 115 Jilid, Ini 5 Sisi Uniknya
  • 392
  •  
  •  
  •  
    392
    Shares

DatDut.Com – Apa kata yang paling cocok untuk mengagumi karya ulama Nusantara yang satu ini? Surah dalam Alquran saja jumlahnya 114, kok tafsirnya bisa jadi 115 jilid. Luar biasa! Kitab ini karya Syekh K.H. Shohibul Faroji Azmatkhan, MA. Grand launching-nya baru bulan Februari 2016 kemarin, dan tampaknya tak banyak media yang meliput.

Syekh K.H. Shohibul Faroji Azmatkhan saat ini memimpin Majelis Dakwah Walisongo, Jakarta. Ia adalah seorang habib atau sayyid kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 13 Juni 1977. Melalui jalur ayah, beliau masih keturunan dari Sunan Kudus, sedangkan dari jalur ibu ia merupakan keturunan dari Pangeran Diponegoro.

Nisbat Azmatkhan merupakan gelar untuk keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Seorang sayyid yang lahir di Tarim, Hadramaut Yaman. Menurut Wikipedia, Sayyid Azmatkhan merupakan leluhur dari para Walisongo.

Karya Syekh Shohibul Faroji sebenarnya banyak. Tafsir ini merupakan karyanya yang ketigapuluh dan merupakan tafsir terpanjang. Meraih rekor MURI, MURTI (Museum Rekor Terhebat Indonesia), dan MURNU (Museum Rekor Nahdlatul Ulama). Penganugerahan rekor tersebut dilakukan saat grand launching pada 27 pebruari 2016 yang bertempat di aula utama TMII.

Apa saja keistimewaan dari tafsir ini? Apa sisi menarik dari penulisnya? Berikut 5 fakta menarik tentang Tafsir Midadurrahman:

[nextpage title=”1. Tafsir Midadurrahman Paling Lengkap”]

1. Tafsir Midadurrahman Paling Lengkap

Seperti dijelaskan di awal, tafsir ini berjumlah 115 jilid. Setiap jilid merupakan tafsiran untuk satu surah. Jilid ke-115 merupakan ringkasan. Jumlah total halaman seluruh kitab tersebut mencapai 8500 halaman.

Metode penafsirannya pun komplit. Dalam menafsiri ayat, Syekh Shohibul Faroji menafsirkan secara runtut dan kronologis. Diutamakan tafsir ayat dengan ayat, lalu dengan hadis, tafsir ahlul bait, tafsiran para istri nabi, kemudian mendatangkan tafsiran para sahabat, tabiin, tabi’ tabi’in, para salaf shalih, tafsiran Wali Songo, lalu tafsir para ulama Nusantara. Istimewanya, tafsir karya ulama Indonesia ini tetap menggnakan bahasa Arab. Tujuannya agar tetap bisa dipelajari oleh seluruh umat Islam.

Baca juga:  Jurumiyah Jadi Buku Wajib Belajar Nahwu Dasar di Pesantren, Ini 5 Hal yang Tak Banyak Orang Tahu

[nextpage title=”2. Proses Penulisannya”]

2. Proses Penulisannya

Penulisan Tafsir Midadurrahaman memakan waktu selama 22 tahun. Dimulai sejak beliau berumur 14 tahun, ketika Shohibul Faroji baru menyelesaikan hapalan Alquran. Sebenarnya awal menekuni menulis tafsir adalah dari suatu hukuman dari gurunya karena saat itu ia sering tidur setelah subuh. Saat itu ia diharuskan menulis catatan dengan tema inspirasi Alquran. Dari menjalani hukuman akhirnya menjadi kebiasaan yang serius.

Kebiaaan menulis akhirnya menghasilkan sekian banyak kitab. Selain Tafsir Midadurrahman, ia pernah juga menulis kitab tafsir berjudul Ma’rifatullah yang membuatnya dihadiahi haji ke Baitullah.

[nextpage title=”3. Kontroversi tentang Nasabnya”]

3. Kontroversi tentang Nasabnya

Tidak semua orang percaya bahwa Syekh Shohibul Faroji masih termasuk golongan sayyid atau keturunan Rasulullah. Tulisan dalam rangka kritik dan upaya mengkaji ulang jalur nasab dari tokoh satu ini juga banyak beredar di media online. Menurut sumber tersebut, penisbatan Syekh Shohibul Faroji pada klan Azmatkhan adalah dusta. Seperti tulisan di anandakemas.wordpress.com, yang mengkritik dan mengkaji ulang nasab Sykeh Faroji.

Sebaliknya, bantahan juga datang dari pihak pengurus Majelis Dakwah Walisongo asuhan Syekh Shohibul Faroji. Menurut tulisan yang diposting oleh Iwan Mahmud al-Fattah Azmatkhan di ikrafaalfattah.blogspot.com, pihak yang menyebarkan keraguan atas nasab Syekh Shohibul Faroji hanyalah memfitnah karena tujuan balas dendam dan kepentingan tertentu.

Lepas dari mana yang benar antara kedua klaim tersebut, yang jelas dan sudah terbukti adalah Syekh Shohibul Faroji adalah seorang ulama yang nyata-nyata telah menghasilkan karya luar biasa.

Baca juga:  Dari Sekian Banyak Syarah dan Hasyiyah Taqrib, 5 Kitab Ini yang Paling Akrab dengan Santri

[nextpage title=”4. Hapalan Syekh Shohibul Faroji”]

4. Hapalan Syekh Shohibul Faroji

Usai menghapal Alquran 30 juz, Syekh Shohibul Faroji melanjutkan menghapal Alquran kepada para guru bersanad yaitu Syekh K.H. Adlan Ali Azmatkhan (pendiri Pesantren Walisongo, Cukir, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) dan Syekh KH. Yusuf Masyhar (pendiri Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur).

Selain menghapal Alquran, Syekh Shohibul Faroji juga menghapal berbagai kitab hadis, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, Muwattha Imam Malik dan Riyadhus Shalihin di bawah bimbingan Syekh Bahruddin Azmatkhan.

[nextpage title=”5. Jabatan yang Diemban”]

5. Jabatan yang Diemban

Selain sebagai pimpinan Majelis Dakwah Walisongo, Syekh Shohibul Faroji diamanahi berbagai jabatan penting. Ia juga aktif di P.T. Islamic Mint Nusantara, perusahaan yang mencetak dan memasyarakatkan koin dinar dan dirham agar lebih dikenal dalam berbagai transaksi.

Pada 5 Mei 2013, Syekh Shohibul Faroji mendapat mandat dari Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin (Sultan Kesultanan Palembang Darussalam) menjadi Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam dan bergelar Al-Mursyid Syekh Mufti Pangeran Penghulu Nata Agama As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh. Ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Nala Duta Igama Kerajaan Kutai Mulawarman.

 

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin