Ini 5 Metode Baca Alquran dari Indonesia yang Kini Mendunia

  • 113
  •  
  •  
  •  
    113
    Shares

DatDut.Com – Zaman dulu, untuk belajar membaca Alquran tenar metode yang disebut Bahgdadiyah. Setiap huruf dieja dengan harakatnya. Alif fathah a, alif kasrah i, alif dhammah u, bacanya a-i-u.

Kadang anak didik diajak belajar menulis dengan kata-kata unik. Misalnya kaf fathah ka, kaf kasrah ki, kaf damah ku, digabungkan menjadi kakiku.

Kini banyak anak-anak kecil sudah bisa membaca Alquran dengan lancar, tartil, dan merdu. Kalau dulu orang baru bisa khatam Alquran setelah ngaji bertahun-tahun, kini dalam hitungan bulan anak-anak sudah ada yang khatam Alquran.

Itu semua tak lepas dari jasa para ulama dan ustaz yang berkreasi menciptakan berbagai metode cepat belajar membaca Alquran. Berikut ini 5 metode belajar membaca Alquran yang paling terkenal di Indonesia:

1. Metode Qiroati, Semarang

Metode ini adalah yang paling awal. Mulai disusun pada tahun 1963 dan buku panduannya saat itu berjumlah 10 jilid. Penyusunnya adalah K.H. Dachlan Salim Zarkasyi (1928-2000).

Lahirnya metode ini tak lepas dari keprihatinan beliau ketika melihat pengajaran Alquran yang masih jauh dari kaidah tajwid dan gurunya pun terkesan asal-asalan.

Awalnya, metode ini masih dipakai untuk mengajar anak didik beliau saja. Namun setelah melihat keberhasilan metodenya, seorang ulama Semarang H. Ja’far, mengajak beliau sowan kepada K.H. Arwani Kudus untuk menunjukkan buku Qiroatinya.

Setelah diteliti dan dikoreksi, akhirnya metode itu mendapat restu Kiai Arwani. Setelah mendapat restu K.H. Arwani, buku Qiroati mulai dikenalkan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya.

Kini Qiroati terdiri dari enam jilid buku panduan yang harus dipelajari oleh santri, ditambah dengan buku panduan mempelajari tajwid dan gharib (bacaan yang sulit dan langka).

Seusai menyelesaikan pembelajaran melalui tingkatan-tingkatan tersebut, santri sudah bisa membaca Alquran dengan mahir dan secara tartil.

Metode Qiroati dikenal dengan ciri khasnya menetapkan standar yang ketat untuk guru dan kelulusan santri. Hanya guru yang memiliki syahadah atau sertifikat saja yang bisa mengajar baca Alquran dengan metode ini. Santri dinyatakan lulus setelah menjalani ujian yang ketat.

Sejak tahun 2000, metode Qiroati telah menyebar di beberapa negara seperti Australia, Malaysia, Brunei Darusalam dan Singapura.

2. Metode Iqra’, Yogyakarta

Metode Iqra’  termasuk paling dikenal dan menyebar luas di masyarakat. Penyusunnya adalah K.H. As’ad Humam (1933-1996).

Niatnya untuk menyusun metode membaca Alquran itu muncul semenjak ia bertemu dengan K.H. Dachlan Salim Zarkasyi yang lebih dulu mencetuskan Metode Qiroati. Sebagian sumber, seperti Republika.co.id, menyebutkan bahwa beliau juga belajar kepada K.H. Dachlan tersebut.

Baca juga:  Ada 5 Kejadian Memalukan Gara-Gara Tertidur Saat Jumatan

Metode Iqra’ mulai dikenalkan sekitar tahun 1988. Metode ini merupakan pengembangan dari Metode Qiroati. Awalnya, K.H. As’ad Humam menggunakan Qiroati dan melakukan berbagai eksperimen dalam pengajaran lalu dicatatnya.

Catatan itu lalu diajukan kepada K.H. Dachlan sebagai usulan perubahan metodenya. Namun beliau tak setuju karena beranggapan bahwa Metode Qiroati adalah inayah (pertolongan) dari Allah dan tak perlu diubah-ubah lagi.

Karena itulah, K.H. As’ad mengembangkan Metode Iqra’ bersama sahabat-sahabatnya di Team Tadarrus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta. Metode ini akhirnya berkembang luas di masyarakat.

Berbeda dengan Qiroati, buku panduan Iqra’ lebih mudah didapat karena bebas dipasarkan. Buku panduan Qiroati hanya bisa didapat dari lembaga yang menggunakan metode tersebut dan melalui jalur khusus kordinator masing-masing daerah.

3. Metode an-Nahdliyah, Tulungagung

Metode ini diusun oleh K.H. Munawir Kholid bersama rekan-rekannya. Berawal dari keinginan menyusun metode cepat belajar membaca Alquran yang lebih khas nuansa NU-nya, beliau mulai membentuk tim perumus.

Tim itu terdiri dari  Kiai Munawir Kholid, Kiai Manaf, Kiai Mu’in Arif, Kiai Hamim, Kiai Masruhan, dan Kiai Syamsu Dluha. Pembentukan tim itu juga tak lepas dari petunjuk yang ia dapatkan setelah beristikharah.

An-Nahdliyah sempat berubah nama sebanyak tiga kali. Pertama bernama Metode Cepat Baca AlQur’an Ma’arif  (format disusun PCNU Tulungagung pada tahun 1985).

Kedua, Metode Cepat Baca AlQur’an Ma’arif Qiroati (dengan meminta izin penyusun Qiroati untuk dicetak dengan nama tersebut). Dan ketiga, Metode Cepat Baca AlQur’an Ma’arif An-Nahdliyah (mulai dicetak pada tahun 1991). Metode an-Nahdliyah juga tediri dari 6 jilid.

Ciri khas pengajaran metode ini adalah penggunaan tongkat untuk menjaga irama bacaan agar sesuai panjang pendek bacaannya. Tongkat hanya bisa didapat melalui jalur LP. Ma’arif sebagaimana bukunya.

Keistimewaannya, tongkat tersebut telah didoakan oleh para kiai dan dinamakan Tongkat Penyentuh Jiwa. Para ustaz pengajar juga diijazahi wirid khusus agar diberi kemudahan dalam mendidik santri. Sungguh khas NU, ya.

4. Metode Yanbu’a, Kudus

Metode ini merupakan rumusan para kiai Alquran yang merupakan tokoh pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an putra K.H. Arwani Amin Al-Kudsy (Alm) yang bernama: K.H. Agus M. Ulin Nuha Arwani, K.H. Ulil Albab Arwani dan K.H. M. Manshur Maskan (Alm).

Baca juga:  Ini 5 Fakta Menarik tentang Air Mata

Terlibat pula tokoh lain di antaranya: K.H. Sya’roni Ahmadi (Kudus), K.H. Amin Sholeh (Jepara), Ma’mun Muzayyin (Kajen Pati), K.H. Sirojuddin (Kudus), dan K.H. Busyro (Kudus), alumni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an yang tergabung dalam majelis “Nuzulis Sakinah” Kudus.

Mulai terbit awal 2004 dan terdiri dari 6 jilid materi utama disusul buku pegangan pengajar dan buku materi hafalan, metode ini menekankan penggunaan Mushaf Rasm Usmani ala Timur Tengah yang banyak dipakai di negara-negara Islam.

Keistimewaan metode ini terletak pada sanadnya yang bersambung kepada para ahli Alquran dan huffazh yang berguru pada Kiai Arwani Kudus dan karenanya memiliki sanad keilmuan hingga Nabi Muhammad Saw.

Awalnya, pembuatan metode ini diawali dorongan para alumni agar memiliki ikatan kedekatan pada Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an.

5. Metode Tartili, Jember

Metode ini dicetuskan oleh Ustaz Syamsul Arifin Al-hafidz, pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah, Kesilir, Wuluhan, Jember, Jawa Timur. Beliau awalnya adalah Koordinator Qiroati se-Jawa dan Bali.

Penyusunan metode ini berawal dari sulitnya mendapat buku pedoman Qiroati yang harus ke Semarang. Beliau juga berpendapat bahwa metode Qiroati dan lainnya yang lebih dulu ada sudah terasa membosankan dan memakan waktu lama.

Dibanding metode lainnya, Tartili terbilang paling cepat karena hanya terdiri dari 4 jilid buku panduan. Sejak diperkenalkan pertengahan tahun 2000, metode ini mulai menyebar ke berbagai daerah Indonesia.

Metode ini juga mendapatkan pengakuan dari pihak LP Ma’arif NU Wilayah Jawa Timur. Perlu dicatat bahwa Metode Tartili berbeda dengan metode Tartili al-Irsyad yang dikenalkan baru-baru ini oleh LPP Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto.

 

Komentar

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    113
    Shares
  • 113
  •  
  •  

One thought on “Ini 5 Metode Baca Alquran dari Indonesia yang Kini Mendunia”

  1. Koreksi 1 :
    Buku Qira’ati selian 6 jilid (tk) juga ada lho.
    – 4 Jilid untuk SD,
    – 3 Jilid untuk SMA,
    – 2 jilid untuk Perguruan tinggi.
    – untuk yang pra-tk juga ada.

    Yg 10 jilid juga masih ada dan dijual bebas karna sudah “tercemar”.

    Koreksi 2 :
    Pak Dachlan meninggal tahun 2001, bukan 2000.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *