Mestinya Ini yang Dilakukan Kaum Aswaja pada Khalid Basalamah

  • 12
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares

DatDut.Com – Nama Dr. Khalid Basalamah kembali viral di media cetak atau media sosial. Apalagi setelah terjadinya insiden di Sidoarjo. Ada yang mengecam, tapi tidak sedikit yang menyanjung. Tentu, hal demikian dikarenakan sudah begitu banyak orang yang terpengaruh oleh paham Dr. Khalid Basalamah.

Bisa melihat pendapat-pendapatnya mengenai maulid, tahlil, ziyarah wali, dan mengenai Allah, Dr. Khalid Basalamah adalah pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri biasa disebut Wahhabi, meski mereka lebih nyaman disebut Salafi.

Dr. Khalid Basalamah sangat tekun berdakwah. Rekaman video kajian beliau tersebar di berbagai media, seperti Instagram dan Youtube. Jika kita mencari sebuah tema keislman di Youtube, Insyaallah video-video kajian beliau akan muncul. Dan, rekaman kajian beliau sudah dilihat oleh ribuan orang. Mulai dari dalam negeri sampai yang luar negeri.

Dakwah beliau yang lembut dan santun, ditambah suara beliau yang jernih membuat masyarakat tertarik untuk mendengarkan video-video kajian beliau. Mungkin awalnya, masyarakat kenal dari medsos yang begitu akrab saat ini, Instagram. Setelah itu beralih ke Youtube. Kemudian masyarakat begitu rajin menengok video beliau di Youtube.

Tulisan ini tidak dimaksudkan menghakimi Dr. Khalid Basalamah. Tulisan ini hanya sebagai introspeksi bagi kaum Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Bahwa kaum Aswaja kalah cepat, kalah strategi dalam mempertahankan akidah Aswaja. Kaum Wahhabi sudah naik pesawat, kita masih enjoy saja dengan becak. Perlu introspeksi.

Baca juga:  Viral! Banser yang Menghina Habib Rizieq Ditegur Keras Oleh Menantu Mbah Maimun Zubair

Jika Dr. Khalid Basalamah sangat gencar berdakwah di media internet, kenapa kita tidak begitu? Kenapa kita tidak buat kajian berseri tentang keislaman, misalnya, kemudian di-upload di Youtube. Kajiannya harus kontinyu dan istikamah, sebagaimana yang dilakukan oleh Dr. Khalid Basalamah.

Sebab, sepengatahuan penulis, sedikit sekali kaum Aswaja yang tekun dan istikamah membuat kajian-kajian di media seperti Youtube. Hanya Buya Yahya Cirebon yang sedikit mengimbangi Dr. Khalid Basalamah. Yang lain belum ada. Ada, tapi videonya tidak sebanyak video Dr. Khalid Basalamah.

Begitu juga, kaum Aswaja juga tidak boleh tutup mata pada Istagram. Betapa banyak akun keislaman di IG, pengikutnya begitu banyak, ribuan bahkan jutaan. Sayangnya, ternyata IG tersebut milik orang yang berfaham bukan Aswaja. Milik “orang-orang” Dr. Khalid Basalamah.

Maka video kajian DR. Khalid sering muncul di berandanya. Sedikit demi sedikit masyarakat mengenal Dr. Khalid Basalamah kemudian suka dan ngefans. Nah, kalau sudah nge-fans, sulit bagi kita untuk mengingatkan.

Mengisi kajian di intenet, Insyaallah lebih dahsyat daripada menolak kedatangan Dr. Khalid Basalamah. Sebab, saat kita melakukan penolakan, maka kita dicap intoleran, anti kebhinekaan bahkan dituduh anarkis. Yang lebih menakutkan, masyarakat malah tambah simpati pada Dr. Khalid Basalamah dan tembah benci pada kita. Sebab, semua orang pasti lebih kasihan pada orang yang tampak terzalimi.

Baca juga:  Bila Beda Pendapat, Berdiskusi atau Berdebatlah, Bukan Mengusir

Contoh kecilnya apa yang terjadi di Sidoarjo. Kita menolak Dr. Khalid Basalamah. Tapi apa yang terjadi? Kita disalahkan. Masyarakat yang masih polos bertanya-tanya kenapa demikian. Loh, katanya NU? Bahkan, orang kita pun ikut mengkritik kita. Berarti, memang semua orang tidak suka “kekerasan”.

Mestinya kita tak perlu malu mengikuti mereka. Jika mereka ber-Instagram, kita juga mesti ber-Instagram. Jika mereka ber-Youtube, kita juga ber-Youtube. Agar imbang dan agar masyarakat bisa memilih dan memilah mana yang kuat dalilnya dan mana yang lemah dalilnya. Semoga!

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

A Saifuddin Syadiri

Mahasiswa Universitas Sunan Giri Surabaya. Asal Bangkalan Madura. Pernah
*nyantri* di Pondok Pesantren Sidogiri. Aktivis HMASS (Harakah Mahasiswa
Alumni Santri Sidogiri) Surabaya.
A Saifuddin Syadiri
  •  
    12
    Shares
  • 12
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close