Ragam

Merawat Kesalehan Sosial dalam Keberagaman

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Konflik yang tidak kunjung mereda sejak pertengahan tahun kemarin kian banyak mendapatkan kritik dari masyarakat. Sepertinya masyarakat sudah mulai kelelahan dan bosan setiap hari disugguhkan berita-berita buruk dan penuh dengan konflik kepentingan.

Aksi simpati mulai banyak dilakukan oleh masyarakat dari berbagai lapisan, banyak dari mereka yang mulai sadar betapa lebih pentingnya persatuan ketimbangan perpecahan yang tidak berujung.

Slogan-slogan persatuan, seperti aku Pancasila, aku Indonesia, junjung tinggi pluralisme, dan NKRI harga mati, mulai ramai diteriakan terutama di media sosial. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa sesungguhnya rakyat tidak ingin terpecah belah hanya karena membela kepentingan para elit politik dari berbagai aliran, rakyat memilih bersatu untuk kepentingan rakyat itu sendiri.

Rakyat Indonesia sesungguhnya sudah paham betul bahwa negaranya dibentuk di atas pondasi perbedaan agama, ras, suku, dan budaya, sehingga perbedaan bukan hal yang harus dipermasalahkan.

Mereka sadar perbedaan yang dipermasalahkan secara berlebihan dan berlarut-larut hanya mendatangkan kehancuran bagi diri dan bagi bangsanya sendiri, maka di sinilah sikap toleransi dapat menyelesaikan masalah.

Sikap toleransi atau sikap menghargai perbedaan akan lahir saat setiap individu dapat memunculkan sikap kesalehan yang bersifat sosial.

Kesalehan sosial adalah sikap taat kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam bentuk mengasihi kepada orang lain karena sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Sesama makhluk ciptaan Tuhan yang diberi akal untuk berpikir maka akal harus digunakan demi kemaslahatan umat manusia itu sendiri.

Kemaslahatan hidup manusia menjadi tugas dari semuanya bukan hanya tugas dari individu ataupun kelompok tertentu, ketika manusia tidak memberikan kemaslahatan maka dia telah menghianati Tuhannya.

Baca juga:  5 Makanan yang Terbuat dari Nangka Muda

Kasalehan sosial menjadi sangat penting dalam bermasyarakat terutama konteks Indonesia yang masyarakatnya beragam. Keberagaman menjadi wadah yang mengharuskan setiap orang di dalamnya bertindak saling menghargai dan bahu-membahu menciptakan kemaslahatan bersama.

Namun acap kali rakyat Indonesia gagal menciptakan kebaikan bersama karena terdorong oleh kepentingan kelompoknya. Setiap kelompok mempunyai landasan kebenarannya masing-masing sebagai legitimasi atas tindakan yang dilakukannya, inilah model konflik yang akhir-akhir ini terjadi.

Kelompok “A” dan kelompok “B” sama-sama mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok yang benar hingga ada anekdot “perang kebenaran lawan kebenaran”.

Perang kebenaran lawan kebenaran untuk menjatuhkan salah satunya yang dianggap salah telah melupakan arti penting dari kebaikan untuk bersama.

Kebaikan untuk bersama adalah suatu hal yang harus di kedepankan dari pada klaim kebenaran yang parsial, bangsa Indonesia sudah mempunyai konsesus yang disepakati bersama sebagai dasar atas segala tindakan yang mengedepankan kepentingan bersama, konsesus itu adalah Pancasila.

Pancasila dalam konflik yang menggunung akhir-akhir ini berfungsi sebagai asas kebenaran dari klaim kebenaran masing-masing kelompok, karena hanya Pancasila lah yang berhak menengahi perkara konflik bangsa ini.

Keberagaman yang diikat oleh kesepahaman akan arti penting dari persatuan memang sering kali tercederai, konflik antar kelompok rentan terjadi walau hanya disebabkan permasalahan kecil.

Dalam alam demokrasi Indonesia peyebab konflik adalah lemahnya penegakan hukum, pelayanan sosial yang buruk dan pendidikan yang tidak terintegrasi dengan baik.

Baca juga:  Nabi Sebut 5 Tumbuhan Ini Berkhasiat Tinggi Obati Penyakit

Dalam hal penegakan hukum negara ini tidak merata atau terjadi diskriminasi di dalamnya, dalam pelayanan sosial dan pendidikan jurang pemisah antara kota dan desa atau si kaya dan si miskin masih sangat lebar, maka wajar jika konflik yang terjadi setahun belakangan terus meruncing dan tak kunjung terselesaikan.

Meskipun negara belum bisa memberikan solusi atas konflik yang terjadi kita sebagai masyarakat harus mempunyai inisiatif untuk membantu meredakan konflik.

Konflik akan mereda jika dikikis secara perlahan dari lapisan terbawahnya, lapisan terbawah adalah masyarakat non elit yang jumlahnya lebih banyak dari elit-elit politik yang setiap hari namanya bercokol di media masa.

Sebagai bagian masyarakat yang sadar akan persatuan maka harus mulai menularkan sifat kesalehan sosial kepada semua orang tanpa terkecuali,  karena kebaikan yang di pupuk dari akar akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan menjulang tinggi sehingga tidak mudah tumbang jika diterpa angin besar.

Begitupun dengan bangsa ini, jika nilai-nilai kebaikan bersama dipupuk dari lapisan terbawah masyarakat maka akan tumbuh bangsa yang kokoh dan tidak akan mudah runtuh jika diterpa satu masalah.

Irvan Hidayat

Irvan Hidayat

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora 2016 dan mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Irvan Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *