Meragukan Komitmen Bernegara Umat Islam Indonesia Kini, Perlukah?

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – “Inilah jejak-jejak perjuangan umat Islam menjaga keutuhan NKRI. Karena itu tidak benar kalau Islam dan Indonesia didikotomikan. Tidak benar kalau dikatakan Islam anti-NKRI,” kata Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad 20 Aguatus 2017.

Pernyataan tersebut tentu benar adanya, apalagi di dalamnya Hidayat menyertakan contoh seorang Mochammad Natsir yang “Mosi Integral”-nya menjadi jembatan kembalinya Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan pada 17 Agustus 1950.

Belum lagi sekian banyak pejuang berlatar belakang Islam dari yang berpeci sampai yang bersurban, dari yang berjubah sampai yang berstelan, yang modern maupun tradisional dan dari ujung barat sampai timur negeri ini, yang dengan fakta itu mustahillah jika NKRI ini dikonfrontasikan dengan umat Islam. Justru NKRI inilah rumah bagi umat Islam di Nusantara.

Menurut saya, yang menarik adalah musabab munculnya pernyataan tersebut. Apa yang mendasarinya sehingga muncul sebuah penegasan semacam itu.

Bisa jadi, hal itu terkait dengan panasnya situasi negara yang di dalamnya tengah terjadi friksi yang cukup hebat dan melibatkan umat Islam.

Pernyataan anti-NKRI, antikebhinnekaan dan sejenisnya kerap ditujukan kepada pihak tertentu yang secara de facto terdiri dari orang-orang Islam. Tuduhan itu tak lepas dari sikap yang kerap dituding mendiskreditkan pihak-pihak di luar kaum muslimin meskipun konteksnya adalah politik, ekonomi atau konteks lain di luar konteks agama.

Baca juga:  Apa yang Sebetulnya Terjadi di Suriah? Ini Pernyataan Sikap Persatuan Pelajar Indonesia di Suriah

Ketidakpahaman terhadap berbagai konsep dalam Islam memicu munculnya pandangan sinis terhadap muslim bahkan kepada Islam itu sendiri. Contoh nyatanya adalah pernyataan seorang politisi yang viral di media sosial tempo hari.

Merasa tahu, dia mengatakan bahwa khilafah adalah sebuah konsep yang tidak mengizinkan adanya toleransi dalam menjalankan kebebasan beribadah bagi nonmuslim. Bukan bermaksud membela para pengusung ide khilafah, namun jelas pernyataan itu tak ada benarnya sedikit pun.

Dalam posisi inilah pernyataan Hidayat Nur Wahid ditempatkan untuk mengkonfrontir kesalahan penilaian orang dalam memandang hubungan Islam dengan negara demokrasi.

Di lain pihak, di antara kaum muslimin terdapat orang-orang yang begitu memperlihatkan ekslusivisme dengan menganggap muslim lain yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai pihak yang pasti salah. Dengan kata lain, mereka menganggap dirinya sebagai personifikasi dari sebuah kebenaran sehingga mereka yang tak sepakat otomatis dianggap keliru.

Mereka kerap memberikan stigma “musuh Islam” kepada siapa pun, tak peduli muslim atau non muslim. Seperti kasus pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Jangan Buru-buru Emosi pada Suami yang Mau Poligami!

Bagi sebagian orang, para pendukung pembubaran HTI dianggap telah melawan syariat karena beroposisi dengan apa yang telah di-nubuwwat-kan kanjeng nabi.

Padahal kewajiban menegakkan format negara seperti yang digaungkan HTI adalah makalah yang sifatnya bisa diperdebatkan, dari sudut pandang agama tentunya.

Dua kelompok itulah yang meskipun jumlahnya tak seberapa, mempunyai kemampuan yang besar dalam meletupkan api permusuhan bertema SARA di negeri ini. Dan tema itu selalu menjadi bahan bakar yang cespleng dalam berkonfrontasi.

Anda mau terlibat? Saya sendiri berusaha untuk tidak. Oh ya.. jika sekiranya masih ragu dengan komitmen bernegara muslimin Indonesia, cukup tengok NU dan Muhammadiyah.. dan Anda akan menemukan jawabannya.

Komentar

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Latest posts by Ahmad Indra (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *