Menyedihkan! Berita Basi Soal Indomie Diangkat Lagi dan Viral hingga Dibagikan 90 Ribu Kali

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Menyedihkan dan miris. Itu saja kata yang mungkin sesuai untuk kasus ini selain mungkin juga pantas dibully. Bagaimana tidak, berita lawas tentang Indomie yang ibarat makanan sudah busuk ini kembali dikemas ulang dan “disuguhkan.” Yang menyedihkan masih banyak netizen yang “menyantap” berita basi itu.

Masih suka indomie?” demikian akun FB atas nama Sukarna Sume mengawali postingannya. “Indomie dilarang beredar di salah satu Negara di Asia, lalu disegel… bahayanya, pihak indofoot (Indofood maksudnya. Pen) mengklarifikasi bahwa indomie itu bukan utk di inport kesana… lalu utk negara manakah yg mau diracun oleh 2 pengawet ini? Nonton videonya dari Liputan 6… klo masih makan Indomie, berarti nggak nonton dan nggak sayang tubuhnya…”

Sebagai antisipasi bila sewaktu-waktu dihapus, Anda bisa melihat screenshot postingan tersebut di sini. Status yang ditulis pada 7 Januari 2017, sekitar pukul 19:21 itu dilengkapi sebuah video cuplikan berita liputan6 dan sebuah gambar tulisan.

Baru 4 hari diunggah, status tersebut telah dibagikan hingga 90.190 kali saat tulisan ini dibuat, dan tampaknya akan terus bertambah. Videonya juga telah mencapi 3.520.966 tayangan. Juga ditanggapi dengan berbagai emoticon hingga 2,3 ribu.

Dari sekian banyak share dan tanggapan, status tersebut hanya mendapat komentar 64 saja. Kemungkinan orang yang lihat langsung like dan share, atau bisa juga pengaturan privasi yang tidak memungkinkan komentar bagi orang yang tidak ada pertemanan dengan pembuat status.

Baca juga:  #BoikotSariRoti, Bagaimana Semestinya Bersikap terhadap Perusahaan dan Tukang Roti Keliling?

Dan dari 64 komentar juga banyak yang meragukan berita tersebut dan memberikan klarifikasi, ada yang ragu.

[nextpage title=”Fakta atau Hoax?”]

Fakta atau Hoax?

Keberadaan Indomie yang mengalami masalah di Taiwan terkait standar keamanan makanan yang mengandung bahan pengawet memang fakta.

Hanya saja kasus tersebut merupakan berita lama. Sekitar Oktober tahun 2010. Anda dapat melihat video rekaman berita dari Liputan6 SCTV maupun dari TVone di chanel ini untuk SCTV dan di sini untuk TVone.

Fakta lainnya, ternyata berita penarikan Indomie oleh pemerintah Taiwan tersebut tidak hanya kali ini saja disebar. Berdasarkan klarifikasi PT Indofood CBP Sukses Makmur yang diunggah di situs resminya, Indofood.com, pada tahun 2013 PT. Indofood kembali mengklarifikasi berita tahun 2010 tersebut.

Dirilis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, berikut kutipan klarifikasi tersebut:

Penjelasan Terkait Kabar Mengenai Produk Indomie di Taiwan

Sehubungan dengan beredarnya video yang diunggah ke sebuah situs jejaring sosial untuk video (YouTube) mengenai produk mi instan Indomie di Taiwan, PT Indofood CBP Sukses Makmur (“Indofood CBP”) menyampaikan bahwa video tersebut adalah video tahun 2010 terkait isu yang telah diselesaikan dan diterima dengan baik oleh pemerintah di berbagai negara, termasuk Taiwan dan Indonesia. Saat ini kegiatan usaha kami di Taiwan tetap berjalan seperti biasa.

Indofood CBP menegaskan bahwa produk mi instan Indomie yang digemari oleh kalangan luas, aman untuk dikonsumsi karena diproduksi sesuai dengan standar keamanan pangan yang telah ditentukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan otoritas berbagai negara di mana produk mi instannya dipasarkan. Pabrik Mi Instan Indofood CBP juga telah menerapkan Good Manufacturing Practice dan telah mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia, ISO 9001 dan ISO 22000 serta Halal.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Layanan Konsumen Indomie melalui telepon bebas pulsa 0 800 181 8888 atau email indomie@icbp.indofood.co.id.

Demikian berita heboh namun basi tentang razia Indomies di Taiwan yang kembali viral di tahun 2017 ini. Lebih cerdaslah lagi menyikapi berita di media sosial.

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Post Author: Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *